Posted by: bojonghealth on: April 16, 2009
“Ngnggngggnggg…..”
Dengung lebah? Oh bukan!
“Ngg…Ngngng…”
Itu seperti suara orang-orang berbicara. Mereka bicara apa? Eum?
“Ng… Jadi begitu, Bu.”
Oh? Ibu? Siapa itu yang bicara? Seperti suara Hani. Dia ngomong ke siapa? Suaranya belum pernah kudengar sebelumnya.
“Hm.. jadi begitu ya? Saya kira ada ribut-ribut apa tadi..”
Ribut-ribut? Memangnya ada ribut apa? Uh kenapa mataku sulit sekali dibuka?
“Iya, Bu, kami minta maaf.”
Suara Hani lagi. Untuk apa dia minta maaf?
“Hm… ya sudah. Bapak ada disini?”
Siapa lagi itu? Bapak?
“Tadi pagi beliau kesini, tapi sekarang sudah tidak ada, Bu.”
Hani ngomong sama siapa sih?
“..Hm.. ya sudah. Tolong bilang saja saya datang tadi kesini.”
“Nggnggngg….”
Uh dengungan lagi. Uh kenapa mataku tidak mau terbuka sih? Aku berusaha sekuat tenaga membuka mataku. Rasanya aneh sekali tidak bisa membukaa kelopak mata sendiri begini. Gelap dimana-mana. Semoga kejadian mimpi dulu tidak terulang lagi. Dikejar bola api panas, dan batu bersinar.. aku bergidik.
Ugh! Ugh! Mataku! Ayo terbuka! Ugh! Aku merasakan keringat mengucur dari dahiku. Ugh! Yak, sudah terbuka sedikit. Ugh! Nah! Sekarang mataku terbuka. Ups! Silau sekali! Aku melihat sekeliling. Loh? Kok sepertinya ada yang aneh?
Posted by: bojonghealth on: March 17, 2009
“Ma?? Mama??”
Sayup terdengar suara Rasya. Mataku berat sekali untuk dibuka. Dan.. auw! Kepala belakangku sakit sekali!
“Ma? Neeeekk! Nenek! Mama udah bangun!”
Terdengar suara langkah terburu-buru mendekat.
“Na? Na?”
“I.. Ibu??”
Lalu tercium bau minyak tawon. Walau pandanganku masih buram, aku bisa merasakan kehadiran ibu dan Rasya. Mereka memanggil namaku terus. Aku ingin membalas, tapi kok rasanya teggorokanku kering sekali.
Ibu membetulkan posisiku, dia membantuku untuk duduk. Ditaruhnya bantal dengan posisi berdiri di ujung tempat tidur.
“Enakan?”
Aku mengangguk. Aduh kepala bagian belakangku sakit sekali.
“Ma? Mama enakan?”
Aku mengangguk ke arah Rasya. Aku mengusap kepalanya dengan tanganku yang satunya.
“Kepalanya jangan dipegang terus, Na. Udah biarin aja. Nanti malah nyeri diteken-teken begitu.”
“Sakit banget, Bu..”
“Yah.. gimana enggak sakit, orang kamu pingsan, trus kepala belakang kamu kepentok ujung meja.. Buru-buru deh Ari bawa kamu ke klinik, abis kamu enggak sadar-sadar.”