all my stories

Segitiga 008 (Kapsul)

Posted by: bojonghealth on: August 1, 2008

“Minum ini.” Perintah Faiz sambil menyodorkan jus jambu merah padaku. “Bagus untuk penyembuhan. Dokter malah bilangnya kamu kena DBD. Padahal jelas-jelas bukan DBD.”

Aku menurut. Aku tidak terlalu suka minum jus. Malas membuatnya dan habisnya pun cepat. Jus jambu merah ini berasa pahit di lidahku.

“Baru minum jus begitu saja, wajahmu seperti orang tercekik.” kata Faiz agak sinis.

“Mmm… Habis, jusnya berasa pahit di lidahku, Pak.” Aku meletakkan gelas yang masih berisi setengahnya.

“Habiskan.” Perintah Faiz. Suaranya keras. Aku tidak bergeming. Jusnya berasa makin pahit saja di tenggorokanku.

“Habiskan.” kata Faiz lagi. Kali ini sambil memelototiku. Aku menelan ludah. Aku melirik jus jambu merah itu. Tubuhku bergidik.

Faiz mendengus. Dia mengambil sebuah botol yang berisi cairan kental keemasan dari laci dekat tempat tidurku. Dituangnya sedikit cairan keemasan itu ke dalam jusku. Lalu dia menyodorkan gelas berisi jus jambu merah itu lagi padaku. “Habiskan.”

Aku menerimanya dengan enggan. Bau jusnya sudah berubah, seperti ada campuran bau madu. “Ini…”

“Dicampur madu jadi enggak akan terasa pahit. Habiskan” jelas Faiz. Aku menurut. Aku meminum jus jambu merah itu dengan cepat. Memang tidak terasa pahit di mulut, tapi perutku jadi bereaksi aneh.

“Kenapa lagi perutnya?” tanya Faiz ketika melihatku memegangi perutku. Aku meringis.

“Rasanya aneh di perut.”

Faiz mendengus lagi. Dia duduk disisi tempat tidurku. Dia merogoh kantong kemejanya. “Ini! Tante Febi memberikan kertas ini padaku semalam.”

Aku menerima kertas berlipat kecil yang Faiz berikan. Aku membukanya dengan hati-hati. Dan terlihat lambang bulat merah yang besar, disebelahnya ada gambar segitiga. Aku menatap Faiz. “Ini..??”

“Tante Febi melihat mimpimu. Ruangan yang seperti mati lampu, gelap total dan sebuah ruangan putih yang tidak ada apa-apa didalamnya. Bola besar bercahaya dan mengeluarkan panas dan batu bercahaya yang bisa mengkopi dirinya. Dia lihat semuanya.”

Aku mengamati kertas itu lagi. Memang benar. Mimpi yang mengikutiku terus menerus dan membuat semua badanku remuk. Ruangan yang gelap dan putih itu… Aku merinding. Tidak mau lagi aku terjebak mimpi itu. Rasanya begitu nyata dan begitu mengerikan.

“Refleksi dari diri kamu. Begitu kata Tante Febi. Bola besar yang panas itu dan batu bercahaya. ruangan yang gelap dan putih, semua itu refleksi dari diri kamu.”

Aku menunduk. Aku ingat sekujur badanku penuh lecet dan luka ketika di ruangan gelap dan putih itu. Aku melihat gambar di kertas itu. “Lalu yang segitiga maksudnya apa?”

“Itu kerjaannya si kembar ketiga. Dia pintar menakut-nakuti orang lewat mimpi. Sudah pernah aku bilang kan? Dia pernah memberiku petunjuk mimpi yang salah dulu.”

Aku menghela napas.

“Tidak ada gunanya mengeluh. Kita haru terus maju. Aku tahu kita belum kalah.”

Aku terdiam. Dalam hati aku sudah menyerah. Aku sudah betul-betul jadi korban oleh kembar ketiga ini.

“Kita harus minta bantuan Sang Guru. Aku tahu dia tahu sesuatu.” Aku mendongak. Faiz minta bantuan Sang Guru? Bukannya Sang Guru bilang sebaiknya dihentikan saja ini semua?

“Sebentar lagi dia akan datang kesini. Kita bisa bicarakan itu bertiga.”

Aku menunduk. Lemas rasanya. Melihatku tidak ada respon, Faiz keluar dari ruangan. Dia mungkin kesal padaku. Mungkin sikapku seperti orang yang ogah-ogahan menerima usulnya.

Setelah mendapat mimpi di ruangan gelap dan putih itu, aku menjadi pendiam. Dan aku sering membantah kata-kata Faiz. Kami jadi sering bertengkar. Aku dibawa lagi ke rumah sakit, dokter mendiagnosa aku terserang DBD dan stres berat. Kedua kakiku masih tidak bisa digerakkan, tapi dokter bilang sekarang ada harapan untuk bisa berjalan lagi. Tapi aku merasa aku sudah bisa berjalan bahkan berlari. Di mimpi dalam ruangan gelap dan putih itu, aku bisa berjalan dan berlari. Mimpi itu begitu nyata, sangat nyata.

Didalamnya aku berjuang mati-matian menghindar dari hawa panas. Didalamnya aku berusaha untuk menghindari batu bercahaya, yang bisa menembus badanku. Tante Febi pasti juga melihat itu. Kurasa dia tidak bisa menolong. Aku merasa dipermainkan. Dan dalam mimpi itu aku berusaha menghadapi bahaya yang menjepitku, berusaha melawan dengan caraku. hal ini terbawa terus sampai detik ini, terkadang ketika Faiz bicara tegas dan hal yang  menurutku kasar, aku melawan atau hanya terdiam.

Ibu bilang sikapku jadi berubah. Aku juga merasa begitu. Rasya berkali-kali bertanya padaku kok wajahku terlihat sangat lelah, seperti habis berlari ribuan kilo. Aku cuma tersenyum dan membelai kepalanya. Dia tidak akan mengerti. Sejak dua hari yang lalu, setiap aku menatap mata Rasya, terlihat kilat oranye di kedua matanya. Aku menatap sinar itu dengan sedih. Kilat sinar oranye itu sama sekali tidak membuatku syok lagi. Aku tahu aku hanya dipermainkan oleh si kembar ketiga melalui anakku. Aku tidak menerima itu. Aku hanya bisa menatap sedih.

Aku tahu aku telah kalah dan jadi bulan-bulanan. Kurasa Faiz pun tahu itu. Tapi seperti biasa, dia terus memaksakan kehendaknya sampai dia bisa menang. Padahal kalau dia mau menghentikan semua ini, mungkin kakiku masih bisa berjalan dan berlari. Aku mengurut-urut pelan kedua kakiku. Mati rasa betul. AKu jadi tidak bisa pergi kemanapun. Harus dengan kursi roda. Harus dengan bantuan orang. Bahkan untuk pipis sekali pun… Air mataku menetes. Aku benar-benar sudah kalah. Kuharap Sang Guru mau berbuat sesuatu terhadap sakitku ini. Agar aku tidak jadi korban lagi.

Aku menatap kertas di pangkuanku. Bulat dan segitiga. Bulat dan segitiga. Bulat dan segitiga. Terus menerus terngiang-ngiang di telingaku. Aku mendesah. Aku meletakkan kertas itu diatas meja kecil di samping tempat tidurku. Bulat dan segitiga. Bulat dalam segitiga. Segitiga didalam bulat. Segitiga didalam bulat. Bulat dalam segitiga. Huh…

Aku menyandarkan punggungku. Lelah sekali rasanya. Padahal seharian aku cuma di tempat tidur saja. Bulat dalam segitiga. Aku memejamkan mataku. Segitiga dalam bulat. Aku berusaha mengingat-ingat awal semua kejadian ini. Bulat dalam segitiga. Segitiga dalam bulat. Waktu itu Aurelia menungguku. Melihat keluar terus menerus. Menunjuk. Jus jeruk. Waktu itu…

Aku membuka mataku. Aku buru-buru meraih kertas di atas meja kecil disamping tempat tidur. Bulat merah dan segitiga kecil. Aku pernah melihat ini! Tapi segitiga dalam bulatan yang besar. Gambar segitiga hitam didalam sebuah bulatan yang besar. Gambar itu ada di punggung tangan kanan Aurelia! Gambar itu sepertinya menempel pada tangannya, kemungkinan besar itu tato yang sudah lama.

Lalu ada juga tato bulatan kecil merah didalam sebuah segitiga hitam besar, tapi ini dipunggung tangan Adelia! Ya!  Berarti mereka tahu juga soal mimpi-mimpiku! Aku harus tanya pada Adelia. Ah! Aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Aku tidak bisa. Tidak bisa!

“Na? Kamu mau kemana?” Faiz berdiri di di dekat pintu dengan keheranan. Disebelah Faiz, Sang Guru juga menatapku heran.

“Pak, kapan aku bisa jalan lagi?” tanyaku pada Faiz. Faiz melirik Sang Guru. Dia masih keheranan. Sang Guru tersenyum, senyum khasnya. Dia menghampiriku dan menepuk pelan kakiku. “Kamu pasti bisa jalan beberapa hari lagi. Aku akan bantu, Na.”

“Aku tahu, Pak! Lambang eh ada tato di punggung tangan Aurelia itu bulat merah dalemnya ada segitiga warna hitam! Kalau di punggung tangan Adelia, segitiga hitam didalemnya ada bulatan merah!”

Faiz ternganga. Matanya terbelalak. Sang Guru tersenyum lagi. Dia duduk di sisi tempat tidurku. “Sekarang kalian benar-benar sudah terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan ketiga kembar itu ya? Sampe-sampe Na lumpuh begini.”

Aku tahu Sang Guru menyindir Faiz. Faiz menatap punggung Sang Guru dengan kesal.

“Coba aku lihat tangan kamu, Na.” Aku memberikan tangan kananku pada Sang Guru. Dia memperhatikan  punggung tanganku, lalu dia menatapku sedih. “Na, tanda segitiga hitam di tangan kamu makin terlihat.”

Aku terkejut. Buru-buru kutarik tangan kananku. Benar! Samar-samar terlihat gambar segitiga hitam kecil dipunggung tangan kananku dekat kelingking. Aku tidak memperhatikan tanda ini. Bodohnya aku. Padahal tanganku sendiri! AKu menatap Faiz. Faiz meraih tangan kananku dan memperhatikannya dengan seksama. Lalu dengan gerakan cepat dia membandingkan dengan punggung tangan kanannya. kulihat wajah Faiz memutih.

Sang Guru mendesah pelan. “Sudah bapak bilang kan, jangan ikut campur lagi. Begini jadinya kalau dipaksakan.”

“Lalu sekarang kami harus bagaimana, Pak?” tanya Faiz parau. Aku menelan ludah. Apa lagi ini? Aku meraih tangan kanan Faiz dan melihat tanda bulatan merah besar tapi masih samar dipunggung tangan kanan Faiz dekat kelingking.

Sang Guru menggeleng. “Kalian sudah diincar. Bapak tidak tahu lagi mesti gimana, karena kalian ini sudah jadi korban bulan-bulanan si kembar ketiga. Tapi Bapak lihat kalian masih punya harapan untuk keluar dari masalah ini asalkan kalian bersabar dan memperhitungkan segala tindakan kalian, terutama kamu, Faiz. Kalau bertindak bicarakan dulu dengan Na.”

Faiz menunduk. Badannya gemetar. Kali ini dia mendapat lawan yang sulit dikalahkan. “Apa.. apa aku bisa menang, Pak?” tanya Faiz lagi. Suaranya makin parau.

Sang Guru menatap Faiz tajam. “Kamu sudah kalah dari dulu. Kamu tahu orang-orang ini melebihi kemampuan kamu. Tapi kamu ngotot, jadinya semuanya jadi korban. Sampe-sampe Rasya juga. Matanya terus-terusan berkilat oranye. Kamu sudah kalah. Dia akan terus menang di atas kamu.”

Kulihat Faiz menelan ludah. Aku memejamkan mataku. Ah, ternyata Rasya terkena imbasnya juga. Ya Tuhan, apa yang sudah kami lakukan?

“Bapak kasih tahu kamu, Faiz dan juga kamu, Na. Kalian sudah tertipu selama ini. Yang meninggal itu bukan Aurelia.”

Mataku terbelalak. lalu yang meninggal siapa? Apa ada lagi kembar keempat? Atau jangan-jangan…

“Yang meninggal justru Adelia. Waktu itu mereka bertukar tempat. Bapak baru memastikan hal ini setelah bapak ke kuburannya Aurelia. Arwah itu bukan Aurelia, tapi Adelia. Aurelia masih hidup. Walaupun dia rapu, dia mempunyai ilmu yang setara dengan kamu, Faiz. Dulu ketika dia datang ke kafe kamu, dia mengukur kemampuan kamu, dia menjabat tangan kalian berdua kan?” Aku mengangguk. “Dia sedang mengukur kemampuan kalian. Dan kalian berdua bukan tandingannya kembar ketiga. Temui suami Aurelia secepatnya. Dia satu-satunya petunjuk.”

“Tapi suaminya, bukan orang yang mau bekerja sama.” gumam Faiz. Lebih kepada dirinya sendiri.

“Bapak bantu. Dia juga korban dari istrinya sendiri. Coba temui dia. Kali ini bapak maunya kamu, Faiz, jangan bicara apapun pada suaminya itu.” Ada penakanan dalam suara Sang Guru. Faiz melirikku. Ada rasa sebal dalam lirikannya.

“Lalu, apa tanda segitiga ini bisa hilang, Pak?” tanyaku.

Sang Guru mengangguk. “Tapi kalian tidak akan pernah menang dari kembar ketiga ini.”

Badanku lemas. Lalu pandanganku jadi gelap.

Wajah Yudha Prakoso terlihat seperti orang yang baru saja berlari ribuan kilometer. Berkeringat dan bibirnya kering. Napasnya ngos-ngosan. Dia berulang kali menelan ludah. Sikapnya berbeda sekali dengan dulu ketika aku dan Faiz baru menemuinya di ruangan kerjanya. Dan dia telihat lebih kurus sekarang, mungkin berkurang lima kilo. Kulitnya juga lebih hitam.

“Aku mau… memberitahu kalian.. tentang Mesir…” ujar Yudha gugup. Aku melirik Faiz yang berdiri disampingku. Dia diam saja. Tangannya dilipat di dadanya, tatapan matanya tajam ke arah Yudha.

Yudha membasuh peluh yang makin banyak di dahinya. Dia menelan ludah. “Mesir… disana.. mereka pernah kesana.. Tiga orang itu…” Yudha mendari sesuatu dari kantong celananya. “Ini.. ini foto mereka ketika di Mesir…”

Faiz mengambil foto yang disodorkan Yudha dengan kasar. Dia menatap foto itu dengan alis terangkat sebelah, lau memberikan foto itu padaku. Aku melihat foto nya. Memang aneh, di foto itu hanya ada dua orang wanita kembar, Aurelia dan Adelia. Mana kembar ketiganya?

“Yang.. kembar yang ketigalah.. yang mengambil foto dengan kameranya..” jelas Yudha. Aku mendesah berat. Dengan ragu Yudha duduk di dekat kakiku. Matanya penuh ketakutan.

“Kamu.. Na, kan?” tanyanya. Aku mengangguk. “Kamu tahu kembar yang seorang lagi itu laki-laki?” Aku mengangguk lagi. “Kamu… tidak akan pernah selamat dari dia..” Aku terkejut. Dadaku bergemuruh. Aku menatap Faiz dengan wajah memelas. Kulihat jelas Faiz menatap Yudha dengan pandangan penuh kemarahan, tapi dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tampaknya peringatan Sang Guru dia patuhi.

“Kita.. pasti semua.. akan mati.. Kamu, Na… sudah mimpi terkena hawa panas itu kan? berbenturan dengan batu bercahaya itu juga kan?”

Mataku terbelalak. Darimana Yudha tahu?

“Aku juga.. mimpi yang sama.. mimpi yang mengerikan.. sampai detik ini… hari ini…” Yudha menjambak-jambak rambutnya sendiri. dia benar-benar seperti orang gila. Napas nya makin menderu cepat. Lalu tiba-tiba air matanya mengucur deras. “Apa.. kamu sudah.. pernah mimpi lagi? Mimpi yanag ketiga kalinya?”

Kali ini aku yang menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering sekali.

“Belum kan? Belum..?” Yudha menghapus air matanya dengan kasar. Dan tiba-tiba dia tertawa keras. Tawanya bergema di dalam ruangan.

PLAK!

Tiba-tiba saja Faiz melayangkan tamparan keras di pipi Yudha. Yudha sangat kaget dengan gerakan Faiz yang tiba-tiba itu. Dia meraba pipinya. AKu melihat pipi Yudha membiru. Dengan cepat Yudha menarik kerah baju Faiz, aku trakut terjadi sesuatu yang lebih parah, aku segera memencet tombol untuk memanggil perawat rumah sakit.

BUAK!

Satu tinju melayang ke bibir Faiz. Faiz juga tidak mau kalah, dia mencengkeram leher Yudha.

“Hentikan! Hei kalian! Ini rumah sakit!”

DUAG!

Lutut Yudha menghantam perut Faiz.

“Hei! Hentikan!” jeritku.

Untunglah ada seorang perawat masuk ke ruanganku. Wajahnya terheran-heran melihat dua orang lelaki yang siap adu jotos di depan seorang pasien. “Loh, ada apa ini?”

Melihat perawat yang baru datang, Yudha dan Faiz menghentikan gerakannya. Yudha melepaskan kerah Faiz dengan kasar, begitu juga Faiz, dia melepaskan cekekannya dengan kasar.

“Kamu… Kalian.. harus memperlihatkan foto itu pada seseorang… Dia.. tahu segalanya tentang si kembar yang satu lagi.. yang mengambil foto… Secepatnya… Kalau tidak, Na.. tidak bisa berjalan lagi..” ujar Yudha sambil berlalu. Dia membuka pintu dan membantingnya dengan kasar.

“Ibu heran…”

“Heran apa, Bu?”

“Ibu heran ama kamu. Kok jadi sering keringetan begitu..” Dengan lembut ibu mengusap keringat di dahiku. “Bener-bener kayak orang habis lari.”

Aku tersenyum pahit. Mungkin sebentar lagi aku akan jadi kacau dan gila,seperti Yudha. Dia juga sudah kacau dan gila. Dia mengalami mimpi yang sama sepertiku. Tapi kurasa dia tidak melawan atau tidak bisa melawan hawa panas dan batu bercahaya itu. Aku pun belum bermimpi di ruangan gelap dan putih lagi.

“Bagaimana perasaan kamu sekarang?”

Aku menggeleng.

“Kasian Rasya, nanyain kamu terus.”

Aku menunduk. Ibu mendesah pelan. Dia mengambil sesuatu dari tasnya.

“Ini. Ini obat para dewi dari si Dian bencis. Coba diminum.”

Aku mengambil sebuah kotak besar dari ibu. Aku membuka kotaknya. Ada botol bening berisi kapsul hijau tua yang besar-besar ukurannya. Aku menelan ludah.

“Minum saja dulu satu. Kalau badan kamu agak enakan, baru minum lagi. Tapi kalau kondisi kamu makin buruk, ya.. jangan diminum lagi.”

Aku menggeleng. “Kan udah dikasih obat sama dokternya, Bu. Masak minum obat dicampur-campur…”

Ibu mencibir. “Huh.. masak dokter main kasih obat aja.. Kalau orang kena DBD, dikasih jus jambu merah cepet sembuhnya. Lah kamu? Udah minum jus jambu merah sampe berbotol-botol, belum juga sembuh. pasti bukan DBD itu!”

Aku menyandarkan kepalaku. Ah, aku tidak tahu apa benar aku DBD atau tidak.. Stres atau tidak.. Aku tidak tahu..

“Jadi minum aja obat para dewi si Dian bencis, siapa tahu manjur. Dia baru dateng kemaren lusa, langsung aja ibu beli obatnya.”

“Bayarnya pakai uang ibu?”

“Iya. Ibu bela-belain jual cincin, biar beli obat ini. Mudah-mudahan bisa sembuh kamu, Na.. Syukur-syukur bisa jalan lagi.”

“Enggak tahu Bu.. Tapi aku coba minum sekarang.”

Aku meminum obat itu. Kapsul hijau itu sangat susah ditelan saking besarnya. Aku harus minum dua gelas air untuk membantu tenggrokanku menelan kapsulnya.

“Nah.. bagaimana rasanya?”

“Aku belom merasa apa-apa, Bu. Mungkin nanti, kalau udah tiga atau empat jam lagi.”

“Yah.. mudah-mudahan kamu sembuh. Ibu do’ain terus loh..”


bersambung…