Posted by: bojonghealth on: August 19, 2008
“Kalau begitu, do’ain sekalian aku bisa jalan lagi, Bu.”
Ibu tersenyum. Dia membelai rambutku. “Pasti. Rasya juga bilang, dia selalu mendo’akan kamu.” Ibu melihat jam tangannya. “Kira-kira Rasya udah dijemput belum ya ama Faiz?”
“Sudah kali, Bu. Kan sudah lama Faiz pergi. Coba aja ibu telpon.”
Ibu menelepon Faiz. Sepertinya lama tidak diangkat. Perasaanku mulai tidak enak. “Ada apa, Bu?” Kulihat alis ibu berkerut.
Ibu hanya berbicara “oh” “ya” “nanti ibu sampaikan” lalu menutup telepon.
“Ada apa, Bu? Rasya kenapa?” Aku mulai panik melihat wajah ibu menjadi sangat keheranan.
“Rasya enggak kenapa-napa. Cuman mereka terjebak macet di jalan. Terus nak Faiz bilang tadi ada orang kecelakaan motor di jalan yang bikin jalanannya macet. Pas Faiz lihat ternyata orang yang celaka itu orang yang dia kenal. Namanya Yudha, nah ibu disuruh memberitahu kamu. Kelihatannya yang namanya Yudha itu tewas di tempat terhimpit sepeda motornya sendiri.”
Mulutku ternganga. Tenggorokanku terasa sangat kering. Ruangan mulai terasa berputar-putar, lalu gelap.
–
Aku terbang! Aku bisa terbang! Dibawahku ada puluhan gedung bertingkat, rumah-rumah, jalanan dan banyak sekali kendaraan. Ratusan orang yang berjalan. Semua itu kecil sekali terlihat dari tempatku terbang ini!
Eits, tunggu dulu! Sebenarnya aku tidak betul-betul terbang, tapi aku melayang. Ya! Melayang. Aku tidak punya sayap. Aku bisa berdiri di udara! Dan sepertinya nyaman sekali kalau melayang begini. Seperti superman atau manusia super khayalan lainnya. Rasanya ringan sekali.
Aku juga bisa meraih awan. Lembut sekali. Ada seekor burung yang hampir bertabrakan denganku. Eits! Burung itu kaget bukan kepalang, sampai arah terbangnya kacau. Udaranya segar sekali kalu diatas sini.
Aku melihat kebawahku. Manusia itu sibuk sekali ya. Seperti semut-semut yang sibuk mengumpulkan makanan untuk persediaan di sarang mereka. Aku tertawa geli. Kendaraan juga terlihat sibuk betul, dan benar-benar berantakan. Asap knalpotnya hitam semua begitu? Serobot sana-sini. Aku menggelengkan kepalaku. Semrawut.
Kok kakiku gatal? Aduh seperti ada semut yang menggigit telapak kaki kiriku. Kulihat telapak kaki kiriku, tidak ada semut atu pun bekas gigitan semut. Tapi kok rasanya gatal sekali? Aku menggaruk kuat-kuat, tapi anehnya semakin kugaruk, semakin gatal kakiku. Aduh! Aku melihat kakiku lagi, memerah. Aduh! Gatal! Aku mengibaskan kakiku, mungkin ada binatang yang tidak terlihat menempel di kakiku.
Ha? Apa ini? AH! Kecoa! Menjijikan! Aku paling jijik dengan kecoa! Hush! Kecoanya kecil sekali! Sebesar semut. Bayi kecoa apa ya? Ih! Jijik! Aku menyentil binatang aneh itu. Anehnya ketika kusentil, binatang itu bersuara. Ha?
“Auw!”
Aku melihat kebawah. Pasti binatang itu telah jatuh. Kucari-cari kira-kira kemana jatuhnya. Ah tidak terlihat. Bodo amet ah! Uh! Aku terdorong oleh sesuatu. Seperti ada orang yang mendorongku dari belakang. Aku menoleh ke belakangku. Tidak ada siapapun. Aduh! Hei! Aku terdorong lagi! Ih! Siapa sih? Menyebalkan! AKu hampir terjatuh. ADUH! Aku trerdorong lagi.
“Hei! Siapa sih yang mendorong?! Nanti aku bisa jatuh!” teriakku. Aku memeriksa sekelilingku. Tidak ada apapun. Aneh sekali. Jangan-jangan…
WWWWUUUUUUUUUNNNNNNGGGGG!!!
Aku menoleh kebelakangku. Ada sesuatu yang bergerak mendekat cepat akan menabrakku. Apa itu?
WWWWUUUUUNNNGGGG!!! WWWUUUUNNNGGGG!!
Aku terdorong dan benar-benar terdorong. WAAAAA!!!! Aduh aduh! Aku melaju ke depan dengan kecepatan yang sangat tinggi! AAAWWWW!! Kupingku pengang sekali! Hei! Siapa sih yang ngerjain??? Aku berusaha menengok kebelakang lagi, tidak terlihat apapun! WAAAAA!!!! Aku terus saja melesat ke depan. Saking cepatnya sampai aku tidak bisa melihat jelas benda di depanku. WAAAAAA!!!!!
Kepalaku mulai terasa sakit dan makin sakit. Aduh, kupingku juga! Badanku serasa remuk. Kok tidak berhenti juga? Aduh, apa itu di depan sana? Wah! Hei! Itu kan dinding! Hei, tunggu dulu! Aku tidak mau menabrak dinding itu! Bisa hancur badanku. Aku bisa mati! HEI!!!
WWWWUUUUNNNNGGGG!!!
HEEEEEEIIIIII!!!!WWWAAAAAAAAAA!!!
BRUK!
Aduh…. Sakit! Aku memegang kepalaku. Kok tidak berdarah ya? Aku melihat dinding di depanku. Dindingnya keras betul ya? Ugh.. Kepalaku.. Badanku… Aduh.. Aku memperhatikan sekujur badanku. Loh! Aku tidak melayang lagi? Aku sudah mendarat! Aku tergeletak di atas sebuah permadani hijau yang.. bercahaya. Aku mencoba berdiri. Bisa! padahal sepertinya tadi aku menubruk dinding ini keras sekali. Kuketuk dindingnya. Wah, benar-benar tebal! Kok aku tidak apa-apa ya?
Bingung sekali. Ini dimana sih? Seperti di rumah seseorang. Aku memperhatikan sekitarku. Hei, ada sebuah kapsul besar. Aneh. Kuhampiri kapsul besar itu. Wow! Ukurannya mungkin sepanjang 170cm dengan lebar 50cm. Bahkan aku bisa masuk kedalam kapsul ini. Hmmm… sepertinya kapsul ini pernah kulihat. Dimana ya? Warnanya… bentuknya… Aku berpikir keras. Sepertinya pernah kulihat bentuk dan warna kapsul yang mirip dengan kapsul besar ini. Ah.. dimana ya?
Agh.. aku lupa! Susah sekali mengingat! Kupukul pelan kepalaku. Aku tidak ingat juga. Hhh.. aku memang sudah tua, mulai pikun. Aku meraba kapsul besar itu. Ih! Kok lembek betul! Didalamnya seperti ada airnya! Aku menarik tanganku. Aku memperhatikan bentuk kapsulnya lagi. Sepertinya kok bertambah panjang ya? Ah, mungkin perasaanku saja ya? Aku meletakkan tanganku di permukaan kapsul besar. Didalamnya mungkijn air atau cairan. Aku menarik tanganku lagi. Kira-kira apa ya yang ada didalam kapsul ini? Obat? Cairan? Buat apa? Bagaimana kalau didalamnya manusia? Hiii! Aku bergidik.
Aih! Apa itu? WAA!! Ada kecoa? Jangan-jangan itu kecoa yang tadi aku sentil ya? WAAA!! Kecoanya bisa terbang! Dan sepertinya kecoanya terbang ke arahku! WAAAA!!! AKu berlarian kesana kemari. Jijik dan takut bercampur menjadi satu. AAAHH!! Hush! Hush!
Kecoanya sepertinya malah senang terbang berputar-putar mengejarku! Ahhhh!!!! Tolong! Aduh! Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian, aklu menghadapi kecoa yang sedang terbang mengejarku itu. Kurapatkan jari-jari tanganku siap menampar kecoa kecil itu. Ah itu dia.
WUTH!
Ih! Kecoanya kena! Dia kena tamparanku. Lalu terdengar suara, “Auw!”
Masak seekor kecoa bisa bicara? Mataku mencari-cari dimana kira-kira letak kecoa itu jatuh. Ah itu dia! Kecoa itu terdampar di atas kapsul besar! Hiii!!! Jijik! Loh, hei! Dia lagi ngapain? Loh?
DUAR!!!
Kapsul besar itu meledak, dan cairan kental berwarna hijau muncrat ke segala arah. Aih! Jijik betul! Seluruh badanku terkena cairan hijau itu. Euwwww!!! Lalu aku melihat kecoa terbang ke arahku. Ah! Aku harus lari! Tapi..
WWWWWIIIIIIINNNGGGGGGGGGG!!!
SYYYUUUUUTTTT!!!
Seperti ada sebuah tangan yang sangat besar menarik badanku. Terus menarikku. Aku ditarik! Aduh! Kencang sekali! Apa ini yang menarikku? Aaahhh…!!
SYUUUUTTT!!
BRUK!
Aku tiba-tiba saja ada di tempat tidurku di rumah sakit! Disampingku berdiri Sang Guru dan Faiz. Mereka terlihat lelah sekali. Dan ada ibu juga… Lalu dengan serentak mereka memelukku, kecuali Faiz. Dia hanya menghembuskan nafas, wajahnya penuh kelegaan. Ada apa ini? Ibu mengelus-elus kepalaku. Dia menangis. Sang Guru menggenggam erat tanganku, diwajahnya tergambar rasa senang yang luar biasa.
“Ibu… Sang Guru… Pak??”
“Ini kami, Na..” ujar Sang Guru. “Untung masih sempat.” Sang Guru menoleh ke arah Faiz.
Faiz menghampiriku. “Ya, untung kita cepat, Pak.”
“Kamu.. kok tiba-tiba terbang entah kemana begitu sih, Na..” ujar ibu di sela tangisnya. Hah? Terbang? Aku? Aku memperhatikan sekujur tubuhku. Tidak ada bekas cairan hijau. Loh? Sepertinya tadi juga bukan mimpi.. Aku menatap Faiz keheranan.
“Kamu terbang dan menghilang, begitu kata ibu.”
Aku makin tidak mengerti. Terbang? Menghilang?
Faiz memperlihatkan sebuah kapsul. Bentuknya seperti kapsul besar, oh iya! Kapsul besar itu berwarna dan berbentuk seperti kapsul yang ibu beri untukku. Kapsul dari Dian Bencis..
“Habis kamu… minum.. kapsul itu… tiba-tiba.. kamu loncat.. terus terbang.. terus hilang… Ibu.. takut… Langsung saja ibu.. telpon Faiz…” ujar ibu di sela tangisnya.
Mulutku ternganga. Mungkinkah itu?
Faiz memperhatikan kapsul hijau di tangannya. “Rasya kutitipkan sebentar di rumah temanku. Aku langsung ngebut ke sini. Aku juga hubungi Bapak, dan dia juga langsung kesini. Bapak tadi yang menarikmu kembali ke rumah sakit.”
Aku benar-benar tidak percaya.. Aku terbang? Loncat?
“Syukur, sekarang kamu sudah ada disini lagi..” ujar Sang Guru. Lalu dia terbatuk-batuk. Mataku berpindah-pindah dari Faiz yang masih memperhatikan kapsul, Sang Guru yang berdehem keras agar batuknya berhenti dan ibu yang masih menangis.