all my stories

Segitiga 010 (Surat)

Posted by: bojonghealth on: August 27, 2008

AkuĀ  menerima sebuah amplop tebal berukuran A4. Keningku berkerut.

“Buka saja. Aku mau lihat isinya.” perintah Faiz. Aku menurut. Aku membuka amplop itu dengan hati-hati. Didalamnya ada beberapa foto, kertas-kertas bergambar, dan beberapa lembar surat. Di amplopnya tertulis besar-besar “UNTUK NA”.

Ibu yang menerima amplop ini dari Dian Bencis. Setelah kasus kapsul itu, Faiz ingin menginterogasi Dian Bencis, tapi karena kekasaran sikapnya, Sang Guru tidak memperbolehkan dia untuk bertanya pada Dian Bencis. Sang Guru meminta pertolongan ibu untuk berbicara dari hati ke hati dengan Dian Bencis. Dan menurut cerita Faiz, Dian Bencis tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ibu tanyakan, dia hanya memberikan amplop tebal A4 ini saja pada ibu dengan air mata berlinang.

Amplopnya langsung ibu serahkan pada Faiz, takut terjadi apa-apa. Dan Faiz langsung memberikannya padaku dibawah pengawasannya.

Faiz langsung menyambar foto-fotonya. Dia bergumam,” Foto-foto Aurelia dan Adelia di Mesir, lalu foto orang yang koma di ruang ICU, trus.. foto kuburan yang nisannya tidak tertulis apapun..”

Faiz menyambar kertas-kertas bergambar lagi dari tanganku. Gambar segitiga dan bulat. Bulat dalam segitiga dan segitiga dalam bulat. Lalu sebuah kata yang ditulis besar-besar dengan tulisan yang sangat jelek, JANIN.

Faiz menatapku. “Kata janin pernah aku coret-coretkan sebelum kita pergi ke kuburan dengan nisan yang tak bernama itu. Apa maksudnya?” Faiz menatap lekat-lekat tulisan janin itu.

“Emmm..Pak, mungkin di surat ini bisa lebih jelas..” saranku. Faiz tidak memperhatikan kata-kataku. Dia terus saja menatap lekat-lekat tulisan janin itu. Aku mulai membaca lembar surat pertama.

“Dear Jeng Na..

Jeng Na pasti enggak tahu aku, tapi aku tahu soal Jeng Na. Aku tahu banget soalnya Jeng Na ini pasti ada hubungannya dengan Yudha Prakoso, itu loh suami Aurelia. Aku tahu Yudha itu soalnya dulu aku temen sekelasnya waktu SMA, dan Yudha tahunya aku itu orangnya ‘bisa’ alias ‘orang pinter’.

Bener loh, Jeng. Gini-gini aku ‘orang pinter’. Bisa liat masa depan orang terus bisa kasih saran bagusnya bagaimana ke orang itu. Nah eemmm.. sekitar 7 bulan lalu, Yudha nemuin aku. Ya ampun, Jeng, dia lusuh betul tampangnya, padahal nih Jeng, dulu aku sempet ada rasa seneng loh ke Yudha pas SMA, tapi seneng doang loh.. engga lebih. Suwer deh..”

Aku mulai merasa surat ini mulai melenceng dari pokok permasalahan. Tapi kuteruskan saja membacanya.

“Jadi nih Jeng, dulu Yudha itu guanteng deh, anak basket, trus kulitnya coklat macho gitu… Udah gitu kaya lagi! Aduh.. Jadi pengen balik lagi ke masa itu….

Anyway Jeng, aku dateng juga loh waktu dia kawin sama Aurelia itu dan sempet kasih kartu nama gitu… Aku liat facenya si Yudha tuh hepi beratt! Tapi sebaliknya, istrinya itu kelihatan lelaaaaahhhh banget, Jeng. Aku ngerasa aneh, kok aku ngerasa enggak enak ama istrinya itu, kayaknya dia bakalan jadi orang jahat deh. Nanti ke depannya si Yudha itu bakalan celaka. Ah, tapi kan Jeng, aku enggak mau berprasangka buruk dulu.

Nah pas 7 bulan yang lalu, waktu Yudha ketemu lagi sama aku, nih, ya ampun! Aku enggak nyangka! Jadi jelek banget dia itu! Dekil, lusuh, terus kayak enggak pernah tidur gitu…

Terus dia cerita masalahnya. Katanya hidupnya itu kacau sekarang. Saudara kembar istrinya itu suka melorotin hartanya yang dilakukan atas izin istrinya. Ih! Enggak banget deh! Terus kayaknya dia ngalamin sakit di kepalanya yang enggak ilang-ilang. Bahkan dokternya juga enggak bisa mendiagnosa penyakit yang sering kambuh itu. Pernah dia didiagnosis tumor otak, tapi enggak ketemu tumornya, bahkan dia pernah didiagnosis kanker, tapi enggak ada tanda-tandanya di otaknya pas otaknya dibelek. Ih!

Nyeremin kan Jeng? Aku yang biar begini-begini juga bisa tau kalau penyakit di kepalanya itu kiriman dari salah seorang kerabat dekat istrinya. Terus aku nanya ke dia, apa dia punya musuh. Yudha jawabnya sih enggak, tapi kalau aku lihat sih dia banyak musuh ya… berhubung dia suka betul korupsi sana sini biar dapet doku yang banyak. Ckckck!

Terus dia nanya nih, obatnya apa, terus aku kasi jawabannya aja, dia harus ceraikan istrinya sebelum semuanya makin parah. Tapi sebelumnya Jeng, bukannya aku pengen ngelakuin sesuatu yang jahat loh ke rumah tangganya, tapi itu jalan terbaik kalau dia masih mau hidup. Eh si Yudha ini malah marah-marah ke aku, sampe leher aku hampir dicekek. Aduh… Wajar sih ya, dia marah, soalnya mungkin saranku agak ekstrim ya?”

Aku berpikir, pasti aku juga akan marah kalau aku jadi Yudha saat itu.

“Lama setelah itu, enggak kedengeran kabarnya. Aku juga terserahlah, biarkan saja, toh aku sudah kasih saran ke dia. Eh 4 bulan lalu dia dateng ke aku lagi! Mukanya makin dekil dan lusuh kaya orang enggak mandi dan enggak tidur berhari-hari. Dia cerita ke aku, kalau usahanya bangkrut total, dia dikejar hutang milyaran.. Hiiiyyy! Serem enggak sih?

Dan sakit di kepalanya makin menjadi. Dia enggak bisa menahannya lagi, mungkin dia akan jadi gila. Lalu dia mulai ceritain dia mimpi aneh. Katanya dia dikejar-kejar sebuah bola api yang gede banget. Setiap malam dia mimpi begitu. Wah aneh ini. Aku saranin dia untuk menyepi sebentar alias pergi dari rumahnya untuk menenangkan diri, mungkin saja dia enggak mimpi lagi. Dia menuruti saranku.

Sebulan lebih enggak ketemu, dia balik lagi ke tempat aku. Dia cerita, rasanya ada sesuatu yang aneh dalam keluarga istrinya. Jadi dia balik lagi ke rumahnya. Eh bener aja, istrinya jadi sering sakit-sakitan terus seneng nangis, seneng bengong sendirian, apalagi kalau malem, istrinya enggak mau tidur. Kayaknya takut dengan sesuatu gitu. Karena masih sayang sama istri, diem-diem dia nyelidikin apa yang terjadi dengan istrinya. Terus dia nemuin beberapa foto dari laci meja rias istrinya.

Yang pertama: foto Aurelia dan Adelia di Mesir. Difoto itu, aku lihat mereka sangat bahagia. Aurelia dan Adelia sama-sama sehat. Sekilas, mereka seperti saudara kembar yang kompak. Tapi kalau lebih diteliti, aku menangkap aura jahat Aurelia terhadap saudara kembarnya, Adelia! Benar-benar jahat! Lalu ketika aku terus-menerus memperhatikan fotonya, sepertinya eh bukan mereka benar-benar bergerak! Coba Jeng Na perhatikan dengan lama. Dalam foto itu, mereka bergerak!”

Aku menatap Faiz dengan wajah memucat. Faiz masih memperhatikan dengan seksama kata janin.

“Pak… Fotonya…”

Faiz menatapku dengan keheranan. “Apa? Foto apa?”

“Aku mau lihat foto-fotonya..” Faiz memberiku semua fotonya. Aku memperhatikan lekat-lekat foto Aurelia dan Adelia. Alisku berkerut. Mana? Tidak ada pergerakan. Bergerak bagaimana sih?

Melihat wajahku yang kebingungan memandang foto, Faiz menegurku. “Hei, kamu lihat apa sih? Sampai memelototi fotonya begitu. Cari kutu?”

“Eh.. enggak, Pak, kata Dian Bencis, foto ini kalau diperhatikan terus menerus akan bergerak!”

Faiz merebut fotonya dari tanganku. Aku kaget dengan gerakannya itu. Alis Faiz berkerut. Kudengar dia bergumam,”Mana? Yang mana? Apanya yang bergerak?”

Setelah sekian lama akhirnya dia mendengus keras dan mengembalikan fotonya ke tanganku. “Aku enggak ngerti. Mungkin Bapak bisa lihat. Kalau aku tidak liat apapun yang bergerak.”

Aku juga begitu. Faiz kembali asyik meneliti tulisan kasar ‘janin’ lagi. Akhirnya aku kembali membaca surat Dian Bencis saja.

“Mereka berdua itu memang benar-benar kembar yang aneh deh, Jeng. Kok ya hobi ngejahatin orang.. ih!

Terus karena Yudha kembali ke rumahnya, jadilah dia mimpi dikejar-kejar bola api lagi. Makin serem mimpinya katanya. Tahu-tahu dia enggak bisa mendengar, enggak bisa melihat.. Lalu tahu-tahu badannya dihantam batu meteor… Aku bilang, mungkin dia stres berat, aku saranin aja ke psikolog kenalanku. Tapi dia kekeuh bilang, ini bukan masalah psikologis, dia bahkan nantang, kalau aku emang jago, harusnya aku bisa lihat mimpinya dia. Lah? Kan yang mimpi dia, kok aku bisa lihat juga?

Aneh menurut aku. Karena dia terus maksa aku, yah.. aku bantuin deh. Lalu dengan keahlianku, aku baru bisa melihat bola api besar itu.. Ihhhhh!!! Serem banget Jeng! Sampe-sampe rasanya kulitku ikutan kebakar, hanya dengan melihat bola apinya aja. Terus aku juga lihat batu meteornya, sebenernya bukan meteor sih, tapi tepatnya batu yang bercahaya begitu… Batunya bisa mengkloningkan diirinya dalam waktu singkat dan bisa berubah menjadi sebesar rumah dalam waktu singkat juga.

Bulu kudukku langsung berdiri semua. Yudha dalam masalah besar! Disamping dia bakalan kehilangan hartanya, dia bisa kehilangan nyawa! Parahnya aku lihat dengan kemampuanku, dalangnya adalah istrinya sendiri!

Aku utarakan hal ini sama dia. Waktu itu keadaan Yudha parah deh. Kayak orang habis lari marathon.. cuaaappppeeeekkk banget keliatannya. Keringetan gituh!

Kembali ke soal foto nih, Jeng.. Kata Yudha, yang ngambil gambarnya itu adalah kembaran yang seorang lagi, jadi istrinya bukan cuman punya satu kembaran, tapi dua. Aku juga ngerasa, tuh foto sengaja banget dibuat untuk peringatan.. mungkin peringatan si kembaran yang ketiga itu kali ya..

Yudha mohon-mohon sama aku, supaya aku mau bantu memecahkan masalah dia yang pelik ini. Dan aku bilang, kalau aku bisa. Aku juga enggak mau jadi korban Jeng.. berhubung sepertinya bakalan masalah besar kalau aku sampai nimbrung… Tapi dia sempet bilang ke aku, mau selidiki sendiri masalahnya. Aku udah saranin jangan begitu, soalnya istrinya ini jahat. Tapi dia tetep bersikukuh.

Lalu suatu malam, aku ngedapetin ilham. Aku harus lakukan sesuatu untuk menyelamatkan seseorang yang bernama Na. Harus bantu. Agar orang yang bernama Na ini, tidak terkena efek yang lebih buruk dari istri Yudha. Untungnya aku bisa nemuin komplek Jeng Na tinggal. Aku pura-pura nawarin obat aja ke semua ibu-ibu komplek, mereka maanggil aku dengan sebutan Dian Bencis. Agak sedih juga sih, tapi biarlah. Dan aku udah ngebuat obat yang turun temurun oleh keluargaku disebut obat para dewi, kalau-kalau kita mengalami efek buruk alam batin. Untunglah pada akhirnya ibunya Jeng Na mau beli obatnya, apalagi aku juga tahu kalau Jeng Na kakinya enggak bisa bergerak, terus kondisi badannya lemah..”

Dalam hati aku berterima kasih pada Dian Bencis. Aku sangat senang, ada orang yang mau membantuku tanpa pamrih begini. Aku melanjutkan membaca lagi.

“Yudha cerita, istrinya dan kembarnya Adelia pergi ke seorang peramal bernama Na. Untuk sekedar menanyakan sesuatu. Waktu Yudha tanya, mau nanya apa, Aurelia enggak menjawab, cuma senyum sinis aja. Enggak lama setelah itu, Aurelia meninggal. Sayangnya saat Aurelia meninggal, Yudha tidak ada disampingnya, dia sedang di rumah seorang kenalannya. Kata Adelia, Aurelia terjatuh di kamar mandi dan langsung meninggal, dan menurut Adelia, dokter bilang, Aurelia terkena shock yang hebat saat terjatuh jadi dia bisa meninggal. Yudha merasa sangat heran tentang sebab kematian istrinya. Tapi setiap kali dia menatap mayat istrinya, dia merasa itu bukan istrinya, tapi orang lain yang mirip.

Lalu dua bulan yang lalu dia dateng lagi, Jeng. Bawa foto orang yang lagi dirawat di ICU. Coba perhatiin deh orangnya. Walaupun fotonya agak kabur, tapi mata batinku lihat, itu adalah kembaran yang seorang lagi, dia adalah laki-laki. Kalau aku gunakan kemampuanku, dia terlihat seperti.. mm… seperti orang yang seputih mayat dan dari leher ke pinggangnya bolong. Bener-bener bolong. Auranya sangat jahat.

Yudha menjelaskan padaku, dia dapet foto itu setelah dia diam-diam ikutin Adelia. Jadi ceritanya, saat dia sedang ada dijalan sambil mengendarai motornya (mobilnya sudah dijual oleh Aurelia), dia lihat mobil Adelia melintas. Iseng-iseng dia buntutin. Eh, enggak tahunya mobilnya berhenti di sebuah rumah sakit. Dan atas dorongan aneh, Yudha terus ngebuntutin sampai Adelia masuk ke sebuah ruang khusus, seperti ruangan ICU.

Dengan menyuap seorang perawat yang mata duitan.. dia suruh deh perawatnya ambil fotonya si sakit. Dan itu lah fotonya, foto si kembar yang ketiga, yang mungkin juga dicari oleh Jeng Na.”

Aku meraih foto orang yang sedang terbaring lemah di ICU. Memang benar lelaki. Tampaknya dia sangat lemah. Apa betul orang ini yang sudah membuatku lumpuh? Ada rasa iba melihat kondisi orang ini, tapi ada rasa marah juga.

“Ini si kembar ketiga?” Suara Faiz yang tiba-tiba, membuat aku kaget setengah mati. “Kenapa kamu?”

“Ah..eh.. enggak kok Pak.. cuma kaget..” Aku benar-benar sangat kaget. Sejak kapan dia berhenti memperhatikan tulisan ‘janin’? Mungkin dia ikutan membaca surat Dian Bencis.

“Sepertinya aku pernah liat ruangan seperti itu. Dimana ya? AH!” Faiz merebut foto di tanganku lalu berlari ke luar. Aku terbengong-bengong dengan tindakannya. Ada apa sih? Aku ingin melihat kemana Faiz pergi, tapi karena kakiku tak bisa digerakkan, jadi yah terpaksa aku cuma bisa menunggu.

Tidak lama Faiz kembali ke ruanganku dengan terengah-engah.

“NA! Dia ada disini! SI KEMBAR KETIGA DI RAWAT DI RUANGAN ICU RUMAH SAKIT INI!”

bersambung…