all my stories

Segitiga 011 (Nama)

Posted by: bojonghealth on: August 29, 2008

“Appaaa?”

Faiz keluar ruangan lagi. Aku kaget setengah mati. Dia ada disini? Orang yang selama ini mencelakaiku ternyata ada dirumah sakit yang sama denganku?

Faiz kembali lagi ke ruangan denga sebuah kursi roda. Dia mengambil tubuhku dan meletakkannya dengan terburu-buru di kursi roda itu. Aku di dorongnya dengan cepat keluar ruangan.

“Pak… eh.. pelan-pelan, Pak!” ujarku. Seram juga kalau tiba-tiba aku tersungkur ke depan dari kursi roda ini.

Tapi sepertinya Faiz tidak peduli omonganku, dia malah makin kencang saja mendorongku. Lalu kami sampai di sebuah lorong. Lorong untuk para pasien VIP.

“Pasti disini. Disalah satu ruangannya. Aku merasakan getarannya kuat sekali. Na, kamu bisa lihat, dimana dia sekarang?” Faiz mendorongku dengan agak perlahan sekarang, memasuki lorong kamar-kamar VIP.  Aku menarik nafasku dan menutup mataku. Aku merasakan aura yang lemah setiap melewati pintu-pintu ruangan. Dimana dia? Di lorong VIP ini ada 20 kamar berjejer. Tidak satu pun dari pintu-pibntu kamar itu mensinyalkan adanya si kembar ketiga. Aku tidak melihat apapun, semuanya sama, aura orang sakit dan lemah. Begitu terus sampai di depan pintu ruangan ke-20.

“Ada tanda-tanda dari si kembar ketiga?” tanya Faiz. Aku menggeleng lemah. Faiz mendengus. Lalu tanpa di duga, Faiz menggenggam tanganku.

“Kita harus bisa pecahkan, Na. Kalau tidak, aku merasa seperti masuk ke sebuah lingkaran setan. Kamu sudah bermimpi tentang bola api yang panas itu lagi?”

Mulutku ternganga. Setelah bercerai, Faiz tidak pernah menggenggam tanganku sedemikian eratnya seperti sekarang. Sekilas aku merasa… Emmm, apa mungkin..? Aku menatap raut wajah serius Faiz, mencari jawaban.

“Hei, Na! Kamu belum mimpi bola api itu lagi kan?” Kali ini suara Faiz lebih keras.

“Ah.. eh belom, Pak. Aku membebaskan tanganku dari genggaman Faiz secara perlahan. Faiz melihat tanganku yang sudah terlepas dari genggamannya. Alis matanya berkerut. Lalu dengan gerakan cepat, dia meraih tanganku, memperhatikan punggung tanganku.

“Tanda segitiga hitamnya makin jelas!” Aku melihat tanda segitiga di punggung tanganku. Sekarang lebih kelihatan. Lalu aku juga memperhatikan punggung tangan Faiz, bulatan merahnya juga makin kentara. “Kita harus cepat temukan. Pasti ada disalah satu kamar ini!”

Aku kembali menutup mataku. Berusaha lebih konsentrasi. Perlahan terasa hangat menjalar dari kakiku. Hangat. Aku membuka mataku. “Pak, kamar nomor 17!”

Faiz mendorongku ke depan pintu kamar nomor 17. Lalu dengan cepat kurasakan, panas yang membakar. Hawa bola api dalam mimpiku di ruangan penuh kegelapan terasa sekarang. Orang ini, adalah pengontrol bola apinya! Faiz berusaha membuka pintu ruangannya. Bisa! Aku menelan ludah.

Kami memasuki ruangan yang penuh dengan bunga. Begitu banyak bunga yang dipajang disana-sini dengan apik dan menarik. Wangi semerbak dimana-mana. Diantara bunga-bunga itu, ditengah ruangan terbaring sosok pucat dengan mata terpejam. Napasnya teratur. Seorang lelaki yang kurus dan terlihat lemah. Selang infus masuk ke dalam tubuhnya. Ada sebuah tabung oksigen besar disamping tempat tidurnya. Begitu banyak kabel yang masuk ke tubuhnya, aku sampai ngilu. Inikah orang yang dengan sukses membuatku kacau? Inikah orang yang membuatku lumpuh? Inikah orang yang bisa membuatku terus bermimpi dikejar bola api panas dan batu yang bercahaya? Orang ini? Benar-benar tidak bisa dipercaya.

Faiz menghampiri orang itu. Matanya penuh dengan rasa marah. “Kalau begini, aku bisa membunuhnya.”

Aku tersentak. “Jangan, Pak! Nanti kita berdua bisa celaka!” Aku menghampiri Faiz. Kursi roda ini benar-benar menghambat gerakku.

“Orang seperti dia memang pantas dibunuh.” Aku menangkap nada dendam dari suara Faiz. Dendam yang amat sangat.

“Jangan, Pak! Nanti kita bisa dimasukin ke penjara!” cegahku. Tapi Faiz sepertinya tidak mau mendengarku. Satu jarum infus dia cabut dari tangan lelaki itu. Aku menelan ludah. Tidak terjadi apa-apa. Selang untuk bernafas ditarik keluar Faiz dari hidung lelaki itu dengan agak kasar.

“Pak… sebaiknya…”

“Sssstt!” Faiz meletakkan telunjuk di depan mulutnya. Wajahnya kali ini tanpa ekspresi. Menurutku, Faiz sudah kelewatan, menarik selang pernapasan, bisa-bisa lelaki itu mati.

Tapi anehnya lelaki itu masih bernapas. Masih seperti orang yang tertidur nyenyak. Faiz mencabut dua buah kabel dari dada lelaki itu, dan tidak terjadi apapun. Lelaki itu masih tenang. Akhirnya dengan kasar, Faiz menarik semua kabel yang terpasang di badan lelaki itu. Setelah semua kabel terlepas, Faiz terduduk di sisi tempat tidurnya. Lelaki kembar ketiga itu tetap saja tertidur tenang.

Aku ternganga. Faiz kelelahan, napasnya terengah-engah. Lalu dia dengan sikap terburu-buru mendorongku keluar ruangan. “Pak… tunggu, Pak.. Kita sudah melakukan kejahatan.. Kabel-kabelnya…” Faiz tidak mempedulikan omonganku. Dia terus saja keluar ruangan. Lalu dia menoleh kebelakang untuk melihat kondisi lelaki itu, dia masih saja tenang tertidur.

Dengan berbisik, Faiz mengucapkan selamat tinggal padanya. Lalu berbalik dan mendorongku keluar lalu menutup pintu ruangan. Tapi sebelum pintu benar-benar tertutup, aku mendengar suara seorang lelaki mengucapkan kata selamat tinggal. Suara berat yang membuat bulu kuduk berdiri. Aku menoleh ke belakang, Faiz juga. dan pandanganku sulit dipercaya. Lelaki itu, yang terlihat lemah itu, duduk dan tersenyum pada kami berdua. Senyum penuh kemenangan. Aku berteriak keras. Sangat keras. Lalu aku melihat sinar oranye yang besar dan sangat menyilaukan. Aku menutup mataku. Sebelumnya aku melihat Faiz masuk kembali ke ruangan dengan berteriak keras.

“Keluar kau!” teriak Faiz.

Lalu terdengar desingan yang sangat keras. SSSSSSSIIIIIIIIINNNNNGGGGGGG.

“PAK!!! FAIZ!!!” Aku berteriak memanggil Faiz, kubuka kedua mataku. Silau sekali! Aku masuk ke ruangan dan berusaha mencari Faiz diantara sinar oranye yang menyilaukan. “FAIZ!!!! FAIZ!!!”

Aku ingat benda bersinar bulat yang Faiz lempar di kuburan dengan nisan yang tak bernama. Dulu, tepatnya ketika kami, aku dan Faiz menikah, benda bulat putih yang bersinar itu diberikan oleh Sang Guru padaku sebagai kado pernikahan. Ukurannya kecil, lebih kecil dari bola ping pong, diameternya sekitar 3 centimeter. Tapi benda itu begitu putih dan bersinar, seperti mutiara, tapi lebih putih. Sinarnya tidak pernah redup, warnanya juga tidak berubah menguning, selalu putih saja walaupun aku tidak pernah merawat benda itu.

Sang Guru bilang, benda itu dia berikan karena dia tidak punya benda yang menarik untuk dijadikan kado, lagipula keuangannya sedang pas-pasan. Aku tersenyum mendengarnya, walaupun tidak diberikan kado juga tidak apa.

Lalu ketika aku dan Faiz meilih bercerai, dia mengambil kembali benda itu. Aku agak sedih juga, tapi biarlah. Dan benda itu sudah Faiz lemparkan ke kuburan dengan nisan yang tidak bernama itu.

Ketika aku mencari Faiz diantara sinar otanye yang menyilaukan itu, aku melihat benda bulat yang bersinar itu lagi. Aku merasa, mungkin Faiz yang memegangnya. Mungkin juga dia bermaksud melempar benda itu ke arah si kembar ketiga. Tapi Benda itu kan sudah pernah dilempar dulu, dan benda itu cuma ada satu, apakah Faiz punya dua benda bulat bersinar?

Aku menuju arah benda bulat yang bersinar itu. Sinarnya begitu kecil jika dibandingkan dengan sinar oranye ini. Sinar oranyenya memenuhi seluruh ruangan dalam kamar si kembar ketiga ini.n Ah, mataku berair. Silau sekali. Aku terus memutar roda kursiku. Faiz! Sudahlah Faiz!

Hei! Siapa yang menarik kursi rodaku? Hei! Siapa? AKu tidak mau keluar ruangan sebelum Faiz berhasil kubawa keluar, ini berbahaya. Hei! Pintunya jangan ditutup! Aku menoleh ke belakang, melihat siapa yang menarik kursi rodaku begitu kencang. Ternyata yang menarikku adalah Sang Guru.

“Ba…Pak???” Aku heran betul. Sejak kapan beliau ada disini? Napasnya terengah-engah. Beliau menunduk memegang kedua lututnya.

“Hhhh..hhh.. Kita pergi saja dari sini, Na…” Lalu dengan terburu-buru beliau mendorongku dengan kencang. Terus keluar dari lorong VIP lalu ke arah kamarku.

“Ba.. ba..bapak… Ad..ada… apa…? Kapan… kesininya?” tanyaku. Sambil sesekali menoleh kebelakang sesekali melihat ke arah depan. Kedua tanganku memegang erat pegangan kursi rodaku, aku takut terjungkal.

Setelah sampai di kamarku, Sang Guru membuka pintunya dengan terburu-buru. Setelah kami masuk, beliau menutupnya lalu menguncinya. Dengan langkah gontai beliau duduk di sisi tempat tidur.

“Maaf, ya, Na, Bapak enggak kuat mindahin kamu ke tempat tidur.”

“Enggak apa-apa, Pak.. Oiya.. minum dulu, Pak..”

Sang Guru menggeleng. “Sudah, biar aku saja yang ambil sendiri.” Beliau menuang air dari teko di meja kecil di sebelah tempat tidurku kedalam sebuah gelas. Setelah meminum airnya, beliau berbicara. “Na, Bapak mengalami mimpi buruk semalam. Bapak lihat seekor singa besar ada di sekitar Faiz. Bapak langsung tahu, pasti Faiz akan menghadapi bahaya yang sangat besar. Dari ibumu, aku tahu kalau ternyata Faiz pergi kesini. Dan aku melihat kalian berdua menuju ke arah lorong VIP itu. Bapak pikir pasti ada apa-apanya. Perasaanku jadi tidak enak…” Sang Guru menarik nafasnya.

“Benar saja, kalian bolak-balik di lorong VIP itu. Dan ketika sampai di kamar nomor 17, kalian masuk. Bapak menduga, pasti benar-benar ada sesuatu. Lalu aku berjalan ke arah kalian, tapi bapak sempat ragu juga. Lalu tiba-tiba, aku lihat kalian hampir keluar, tapi malah tidak jadi. Dari tempat aku berdiri, aku lihat sekelebat sinar oranye, pertama Faiz masuk, lalu kamu juga ikutan masuk, sambil berteriak. Bapak buru-buru lari ke kamar itu, mencari-cari kamu dalam sinar oranye itu, untung kamu berteriak, jadi aku bisa mengira-ngira dimana kamu berada. Bapak langsung meraba pegangan kursi roda kamu, lalu langsung menarikmu keluar. Untunglah bapak bisa menemukan jalan keluar dari kamar itu.”

Sang Guru menarik nafas lagi. Pastilah dia kelelahan setelah bercerita tanpa henti begitu. Lalu aku langsung teringat Faiz. “Lalu, Pak, Faiz bagaimana?”

Sang Guru menunjuk ke atas. Aku melihat ke langit-langit kamar, lalu memandangnya dengan penuh keheranan. Sang Guru tersenyum dengan senyum khasnya. Dia menggeleng perlahan. “Faiz sedang melayang. Dia sedang berusaha mengambil benda yang dulu aku kasih ke kamu, Na.”

“Apa, Pak? Melayang? Benda? Benda yang mana?”

“Benda bulat yang bisa bersinar…”

Mulutku ternganga.

“Kita tidak usah ke ruangan itu. Kembar ketiga itu sedang tertidur. Dan Faiz entah dimana. Dia terbang dan melayang seperti kamu kemarin itu. Berbeda dengan kamu, dia bisa kembali lagi kesini dengan sendirinya.”

“A…pp..pa??”

“Sudahlah, aku panggil perawat, bantuin pindahin kamu dari kursi roda ke tempat tidur kamu.. Dan ini… ” Sang Guru memperhatikan beberapa lembar kertas dan foto di atas tempat tidur. Aku memang tidak sempat membereskan surat dan foto dari Dian Bencis karena Faiz buru-buru meletakkan badanku di atas kursi roda.

Aku menghampiri tempat tidur lalu mengumpulkan kertas dan foto yang berserakan dibantu oleh Sang Guru. Aku memang ceroboh, batinku. “Ini surat dari penjual kapsul, Dian Bencis, Pak.”

“Mmm.. ” Sang Guru mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sudah dibaca semua?”

Aku menggeleng. “Tadi buru-buru pergi dari sini.”

Sang Guru mendesah. “Pasti Faiz ya?” Aku diam saja. “Kalau mau membaca lagi, silakan diteruskan..”

Aku tersenyum. “Nanti saja, Pak.. Saya akan membacanya bersama Faiz.” Tiba-tiba aku teringat foto Aurelia dan Adelia di Mesir. “Emm… Pak… Apa bapak bisa lihat adanya gerakan di foto ini?” Aku menyerahkan foto yang dimaksud.

Sang Guru tersenyum. Dia meneliti foto itu sebentar, lalu dia menyerahkannya padaku. “Tidak. Tidak ada apapun yang bergerak. Kenapa memangnya?”

“Dian Bencis bilang, foto itu bisa bergerak..”

Sang Guru mengerutkan alisnya. “Ini baru dugaan aku ya, Na. Dian Bencis itu pembohong. Dia cuma mengarang cerita saja. Bisa jadi dia itu kenalan kembaran yang ketiga.”

“Appaaa??”

“Dia yang memberikan foto dan surat ini kan? Dari sekian banyak informasi gratis ini, apa kamu enggak sadar, dia ingin sesuatu dibalik ini semua? Mungkin saja dia mau menjebak seseorang. Dan mungkin saja orang itu Faiz.”

Aku menelan ludah. Ah, tapi tenggorokanku kering sekali.

“Faiz itu cepat emosi… Pasti dia dengan mudah dipancing emosinya.” Sang Guru menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku mengambil foto orang yang di rawat di ruangan ICU. Aku menelan ludah. Berarti..

“Pak.. Dian Bencis juga memberi foto ini..” Aku menyerahkan foto yang dimaksud. Alis Sang Guru terangkat dua-duanya.

“Faiz terpancing dengan sukses ya, Na… Dan selalu saja dia membawa kamu.”

“Ap…apa… Bapak pikir… semua isi surat ini kebohongan?”

“Bapak tidak bilang suratnya itu semuanya bohong. Foto kembaran yang ketiga ini kan tidak bohong, berarti ada beberapa kebenaran dalam surat itu. Kamu harus bisa memilah kebohongan dan kebenarannya.”

Aku mengambil foto yang terakhir, foto kuburan dengan nisan jati yang tidak bernama. Kumainkan dijariku sebelum akhirnya kuberikan pada Sang Guru. Beliau memperhatikan foto yang ketiga ini agak lama. Lalu beliau menyerahkan foto itu sambil menyebut sebuah nama, “Aldi Rasya Purwanto.”

“Aldi sapa, Pak? Siapa itu?”

“Aldi Rasya Purwanto. Namanya hampir mirip dengan nama Rasya, ya?”

Aku tersentak.

Sang Guru menghampiriku. Dia memegang tanganku. “Sudah, jangan takut. Rasya enggak apa-apa. Tadi bapak kesana, menetralkan dia. Dia tidak akan membawa kilat sinar oranye lagi di matanya. Kamu tenang saja, sebentar lagi, kamu pasti bisa berjalan lagi…”

bersambung…