Posted by: bojonghealth on: September 1, 2008
Aku sendirian sekarang diruanganku. Sendirian. Aku berusaha ingat-ingat apa saja yang tadi Sang Guru katakan. Aku mengambil surat dari Dian Bencis. Aku kembali membaca surat itu dengan agak ragu, takut kalau dia berbohong, seperti yang Sang Guru peringatkan.
“Masak seorang yang sakit begitu, bisa berlaku jahat ke orang lain. Lalu aku pikir jangan-jangan dia ini bukan orang sembarangan,maksudnya orang yang punya kekuatan batin yang dahsyat. Lalu aku mencari tahu.
Setiap bulan, aku ini ngikutin arisan Jeng. Arisan para normal gitu deh. Arisan itu aku yang prakarsain Jeng.. biar semua paranormal dari semua kalangan itu bisa up to date. Nah enggak lama setelah aku terima foto orang sakit itu, aku nanya ke beberapa temenku, mereka semua bilang enggak ada yang kenal dengan orang dalam foto itu. Kebanyakan dari mereka bilang, kalau orang yang sedang sakit itu punya hawa yang sangat jahat. Suka mencelakai orang dan punya dendam yang besar.
Terus aku sempet juga bilang, kalau ada yang kenal dan kebetulan inget ama orang dalam foto itu, bisa hubungin aku. Eh dua hari kemudian, temenku ada yang hubungin aku. Dia bilang, kalau dia merasa pernah kenal dengan orang itu. Dulu, sepertinya orang itu pernah berguru dengan kakeknya di Ujung Kulon. Wah, ada hasil nih! Lalu aku ketemuan dengan temenku itu, dia cerita, kalo enggak salah liat, aura orang itu mirip dengan aura orang yang dulu dia pernah lihat di rumah kakeknya. Dulu orang itu pernah berkali-kali datang ke rumah kakeknya (dulu dia tinggal di rumah kakeknya). Dia sempet merasa aneh, kok kakeknya mau mengajari orang yang punya aura aneh begitu. Tapi dia enggak mikir macem-macem waktu itu. Nah waktu dia mengamati foto orang itu lagi pas arisan kemaren, dia merasa pernah kenal. Jadi dia kasih tahu aku.
Tapi nih Jeng, sayangnya, kakeknya udah meninggal, jadi enggak bisa dihubungi. Kakeknya meninggal juga agak aneh, jadi kakeknya meninggal karena penyakit enggak mau tidur, jadi kakeknya takut tidur gituh. Kakeknya juga seperti orang yang sangat kelelahan dan keringetan terus. Aku kok merasa, kakeknya itu kondisinya seperti Yudha ya? Waktu aku tanyain ke temenku, dia juga ngerasa aneh. Apa mungkin penyakit kakenya dan Yudha sama? Aku bilang begini ke dia, bagaimana kalau kita selidiki bersama, dia setuju. Tapi nih Jeng, sampai sekarang, dia enggak ada kabarnya. Aku nanya-nanya kesana kemari, aku telepon, juga enggak ada yang angkat. Kenapa ya?
Lalu aku dapet kabar nih, Jeng. Yudha mati. Dia mati. Aku jadi takut banget Jeng. Mungkin setelah Jeng terima surat ini, aku udah enggak ada di Indonesia lagi. Lalu, datang kiriman dari Yudha di hari kematiannya. Aku lihat tanggal pengirimannya itu dua hari sebelum kematiannya, kok ya seperti diatur? Aku buka kirimannya, isinya, foto kuburan dan beberapa kertas.
Apa lagi nih? Aku makin takut. Aku memperhatikan foto yang Yudha kirim, fotonya aneh, foto sebuah kuburan dengan nisannya dari kayu gituh, tapi enggak ada satupun tulisan yang ada di nisannya. Aneh banget! Setelah kuperhatikan, kok sepertinya ada tanda segitiga oranye besar di nisannya. Makin lama kuperhatikan, makin besar segitiganya, lalu buru-buru kumasukkan lagi fotonya ke dalam amplopnya. Aku takut foto itu nanti bisa mengakibatkan sesuatu terjadi padaku.
Lalu aku beralih ke kertas. Di kertas-kertas itu tergambar sebuah segitiga dalam bulatan, lalu bulatan dalam sebuah segitiga serta sebuah kata yang sangat besar tertulis, ‘JANIN’. Apa arti semua ini? Dan Jeng yang menyeramkan nih, enggak lama setelah aku liat-liat isi kiriman Yudha,aku dapat sms dari salah satu temen arisanku, dia bilang, kalau temenku yang kasih informasi tentang orang yang dirawat i ICU itu, meninggal mendadak, kena serangan jantung. Aduh, kayaknya kalau aku enggak buru-buru pergi nih Jeng, bisa berabe, hiiiyyy!!!
Pokoknya aku enggak ngerti soal bulatan dan segitiga itu, apalagi kata janin itu. Selebihnya kuserahkan padamu ya, Jeng Na.. Aku harus buru-buru pergi.
Salam hangat,
Dian”
Surat Dian Bencis itu kulipat rapi. Aku heran sekali, semua yang berhubungan dengan kembar ketiga itu hilang, dan mati. Ada apa dengannya? Lalu kalau memang Aurelia membunuh Adelia, apa yang mau dia kejar? Sebenarnya apa yang akan terjadi setelah ini? Aku dan Faiz sudah tahu kalau kembar ketiga dirawat dirumah sakit ini juga. Tapi kami tidak punya bukti apapun untuk melapornya ke polisi, misalnya. Atau, mungkin aku bisa pindah rumah sakit. Ya. Pindah rumah sakit saja.
Dan Faiz? Sang Guru bilang, Faiz sedang melayang? Ah, melayang?
“Na..” Tiba-tiba di belakang pintu sudah berdiri Faiz dengan muka sumringah. Dia menggenggam sesuatu didadanya. sesuatu yang bulat dan bersinar. Benda itu!
Lalu tanpa sadar aku menuju ke arah Faiz. AKu tidak menyadari kalau aku berlari ke arahnya lalu merebut benda bulat yang bersinar itu dari genggaman Faiz. Faiz melongo melihatku.
“Na… kakimu…”
Aku melihat kedua kakiku. Kedua kakiku bergerak dan berdiri tegak! Jadi tadi aku turun dari tempat tidur lalu berlari ke arah Faiz?? Aku menatap Faiz yang memperhatikan kedua kakiku. Lalu aku limbung. Dengan sigap Faiz menahan tubuhku agar tidak jatuh.
“Eits! Hati-hati! Ayo kupapah..” Faiz memapahku sampai ke tempat tidur. Kami duduk disisi tempat tidur sambil terus memandangi kedua kakiku dengan heran.
“Pak? Kakinya kok.. bergerak??”
“Apa kamu merasakan sakit?” tanya Faiz. Aku menggeleng. “Ngilu?” Aku kembali menggeleng. “Kalau begitu, kita panggil dokter, apakah benar kakimu itu bisa digerakkan..”
Faiz beranjak pergi. Dia keluar ruangan dengan alis berkerut. Tidak lama kemudian dia kembali masuk bersama dokter yang menanganiku selama di rumah sakit ini. Dokter itu adalah kenalan Faiz, menurut cerita Faiz, dokter itu pernah Faiz tolong dulu, ketika dia kena teluh oleh salah seorang kerabatnya.
Dokter memeriksa kedua kakiku. Mengangkat keduanya ke atas dan kebawah bergantian. Memijit-mijit jari jemariku. Aneh aku merasakan kakiku sekarang. Aku menjerit ketika betis kananku dicubit. Dan aku bisa menggerakkan ibu jari kedua kakiku secara bersamaan! Aku senang sekali!
Lalu dokter menyarankan padaku agar ikut terapi berjalan dulu untuk menguatkan kakiku agar bisa berjalan lagi. Menurutnya, aku mendapatkan sebuah keajaiban luar biasa, dari seorang yang lumpuh lalu bisa berjalan dengan tiba-tiba. Lalu sang dokter pamit pergi.
“Kamu bisa berjalan lagi, Na! Hebat!” puji Faiz sambil mengetuk pelan dengkul kedua kakiku. Aku tertawa puas.
“Iya! Aku bisa jalan lagi!” Lalu aku melihat benda bulat bersinar dalam genggaman tanganku.
“Karena kamu mau mengambil benda bulat bersinar itu? Sampai-sampai kamu enggak sadar kalau kamu lompat dari tempat tidur dan berlari merebutnya..”
Aku mengangguk. Tersenyum lebar. “Benda ini punyaku…” Aku berkata yakin. Tapi ups! Faiz kan merasa benda ini punyanya, sampai dia mengambilnya dariku sejak perceraian. Lalu dengan ragu-ragu kuserahkan benda itu pada Faiz. Faiz menolaknya. Dia menggeleng sambil tersenyum kecut.
Aku senang Faiz tidak mau. Berarti benda bulat bersinar ini milikku. Benar-benar menjadi milikku. Aku tersenyum puas. Faiz memperhatikannya dengan kedua alisnya terangkat.
“Senang betul? Sesaat tadi aku pikir kamu berlari ke arahku untuk…”
“Untuk apa, Pak?”
“Ah, sudahlah..” Faiz memalingkan mukanya. Apa kata-kataku ada yang salah? Lebih baik aku menanyakan padanya dari mana saja dia, melayang ke mana saja.
“Emm.. Pak.. Apa yang terjadi di kamar kembar ketiga itu? Aku ditarik keluar oleh Sang Guru… Dan beliau bilang, nanti Faiz akan kembali dengan sendirinya. Apa bapak didorong oleh sesuatu? Seperti dorongan angin ke sebuah kapsul besar?”
Faiz mengerutkan keningnya. “Tidak.”
“Ah? Apa bapak melihat seekor kecoa eh binatang yang seperti kecoa? Yang gatal betul kalau nempel di kulit?”
Faiz menggeleng.
“Lalu?”
“Aku bertemu dengan Aurelia.”
Aku menelan ludah.
“Dan aku menang. Dia memegang benda bulat bersinar, aku merebutnya. Dan aku bisa. Dia memohon agar aku mau meminjamkan padanya benda bulat bersinar itu sebentar saja, lalu aku mengajukan penawaran.”
“Penawaran?”
“Ya. Dia boleh meminjamnya sebentar, asal tanda segitiga hitam di tanganmu menghilang dan kamu bisa berjalan lagi. Dan dia setuju.”
“Lalu… dia gunakan benda ini untuk apa?”
Faiz mendesah berat. “Dia ingin menyakiti bapak.”
“Apa??!!”
Faiz menunduk. Aku mengguncang-guncangkan badan Faiz. “Apa? Kok kamu tega-teganya! Tega sekali! Air mataku mengalir. Aku teringat surat Dian Bencis ketika dia bercerita tentang kakek temannya yang meninggal secara aneh. Sang Guru juga terlihat sangat kelelahan tadi. Aku panik.
“Pak! Kamu harus hentikan! Hentikan!” teriakku sambil terus mengguncang-guncangkan badan Faiz. Faiz diam saja dan terus menunduk. Mataku panas. Air mataku mengalir. Lalu tanpa kuduga, Faiz memelukku. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku memukul-mukul dadanya.
—
Seminggu kemudian, aku mendengar kabar dari Faiz, Sang Guru terkena serangan jantung. Aku masih di rumah sakit, kondisiku belum sepenuhnya pulih. Kedua kakiku sudah bisa berjalan walau masih tertatih. Aku terus berlatih sendiri, walaupun aku sering tersungkur dan jatuh terduduk. Aku ingin cepat berjalan. Terkadang saking seringnya aku memaksakan kakiku bergerak, kedua kakiku bengkak. Terasa ngilu di sekujur kakiku. Bahkan dokter memarahiku.
Aku ingin berjalan. Ibu setiap hari mengunjungiku, kadang bersama Rasya kadang sendirian. Beliau selalu mensupportku. Beliau membantuku berjalan. Aku harus bisa berjalan. Harus. Demi Sang Guru. Demi Rasya dan ibu.
Suatu kali aku pernah menanyakan kondisi Sang Guru pada Faiz. Dengan wajah penuh rasa bersalah, Faiz berkata,”Entahlah, bapak masih koma.”
“Bagaimana kalau… kalau bertemu Aurelia lagi, Pak? Suruh dia untuk menyembuhkan Sang Guru?”
Faiz menggeleng. “Kalaupun itu kulakukan, bapak tidak bisa langsung sembuh..”
“Kenapa?”
Faiz mendesah. “Bapak sudah tahu, dia akan jadi sasaran berikutnya, dan bapak merelakannya.”
“Appaaaa??”
“Bapak merelakan dirinya untuk di serang oleh Aurelia.”
Waktu itu, aku melihat mata Faiz nanar. Ada rasa penyesalan dan takut disana. Aku pun merasa begitu. Hal ini tidak bisa terus dibiarkan. Apa sebenarnya yang Aurelia dan kembar ketiga ini kejar? Aku belum boleh keluar dari rumah sakit ini, aku tidak bisa apa-apa. Apa yang harus kulakukan?
Ah, Ya! Dian Bencis! Pasti dia bisa dijadikan alat untuk menolong Sang Guru. Dia sudah menipuku dan memancingku dengan foto orang di ruangan ICU, sehingga aku dan Faiz masuk ke kamar kembar ketiga, mencabut semua kabel yang menempel di tubuh si kembar ketiga itu. Mungkin inilah yang diinginkan Dian Bencis, memberikan foto-foto, menuntun aku dan Faiz ke kamar kembar ketiga, lalu melibatkan Sang Guru, dan menyakiti Sang Guru.
Apakah mungkin sasaran sebenarnya adalah Sang Guru? Dari awal aku berpikir, sasaran sebenarnya adalah aku. Lalu apakah mungkin kembar ketiga ini bukanlah tersangka utama? Apakah mungkin kalau Aurelia adalah tersangka utamanya, yang bermain di belakang layar seolah-olah si kembar ketiga ini sakti mandraguna tidak terkalahkan? Lalu jangan-jangan Dian Bencis ini suruhan Aurelia? Lalu kalau memang begitu, ada apa antara Aurelia dan Sang Guru? Lalu Faiz? Dari sejak awal, dia begitu penasaran dengan kasus Aurelia dan Adelia. Ada apa dengan Faiz? Apa yang dia pikirkan dulu?
Kepalaku terasa pusing. Apakah aku hanya menjadi korban ataukah umpan? Yang mengatur pertemuanku dengan Aurelia dan Adelia adlah Faiz. Yang ngotot ingin menyelesaikan masalah Aurelia adalah Faiz. Yang penasaran dengan segitiga dan janin adalah Faiz. Yang memaksaku untuk ke kuburan ‘Aurelia’ dan melihat kuburan dengan nisan yang tidak bernama adalah Faiz. Yang mengajakku bertemu dengan Yudha adalah Faiz. Apa yang Faiz ketahui, tapi yang tidak kuketahui?
Lalu aku teringat, dulu setelah aku bertemu dengan Aurelia dan Adelia di kafe, ketika progres melalui telepon, Faiz sempat terdiam lama di ujung telepon. Apa yang dia pikirkan waktu itu? Lalu Faiz menjadi kurang tidur, ya, kantung matanya kelihatan sekali. Apa waktu itu Faiz sudah bermimpi dikejar bola api dan batu bercahaya sampai dia tidak bisa tidur? Ah, mungkin hanya asumsiku saja. Tapi, bagaimana kalau itu benar?
Apa benar Sang Guru dan Faiz bersekongkol? Apakah ini semua rencana mereka? Ah, aku menggeleng keras. Bukan! Sang Guru tidak pernah sekalipun mencelakai orang, beliau pernah bilang ke Faiz agar semua ini dihentikan, tapi Faiz tetap ngotot meneruskan. Lalu apakah Faiz yang salah? Aku harus temukan jawabannya.
Pertama aku harus mencari Dian Bencis. Nanti kalau ibu kesini lagi, aku akan minta tolong padanya untuk mencari info tentang kabar Dian Bencis. Kudengar, Dian Bencis menghilang begitu saja, digantikan temannya, sesama waria yang kata ibu, lebih cantik dandanannya, yang bernama Petra. Ya, mungkin Petra tahu kemana Dian Bencis pergi.
bersambung..