Posted by: bojonghealth on: September 4, 2008
“Hm? Petra?”
Aku mengangguk.
“Yang temennya Dian Bencis?”
Aku mengangguk lagi. Ibu mengerutkan keningnya, berusaha mengingat-ingat. “Eummm… Dia udah dua kali eh tiga kali dateng ke komplek. Kan masih banyak tuh yang ngutang ama Dian Bencis, terus dia yang gantiin Dian buat nagih utangnya. Tiap tiga hari atau empat hari sekali dia dateng.. Kamu mau apa dengan dia?”
“Mau menanyakan tentang Dian Bencis. Pergi kemana dia, aku ngerasa petunjuknya ada di dia, mungkin loh.. bu, dia tahu apa yang aku enggak tahu…”
“Hm? Yang kamu enggak tahu?”
Aku mengangguk. Lalu aku memelankan suaraku. “Aku ngerasa.. ada yang disembunyikan…antara Sang Guru dan Faiz dengan Aurelia dan kembar ketiga itu. Nah hal itu yang ingin aku tahu, Bu..”
Kedua alis ibu terngkat. “Kamu yakin memang begitu?”
Aku mengangkat bahuku.
Hening. Aku menunggu reaksi ibu. Ibu seperti sedang berpikir keras. Kuharap ibu tidak membocorkan hal ini pada orang lain terutama Faiz. Bisa gawat.
“Kalau enggak salah, ibu RT pernah bilang kalau dia punya nomornya Petra deh.. Nanti sampai di rumah ibu tanyain dia. Tapi.. masak Faiz seperti yang kamu bilang tadi?”
“Ah, enggak ngerti lah, Bu. Aku merasa seperti itu. Dari awal dia sama sekali tidak mau berhenti, sampai-sampai aku lumpuh seperti ini. Yang aku takutkan, Bu…”
“Apa?”
“Yang aku takutkan, waktuku tidak cukup… Aku takut nasibku seperti Yudha, Bu.. Meninggalkan ibu dan Rasya… ” Aku merinding.
Ibu tersentak. “Jangan bilang begitu dong, Na.. Jangan sampai kamu jadi begitu..” Ibu memegang tanganku. Hangat sekali tangannya. Membuat rasa nyaman menjalar dari tanganku ke seluruh tubuhku. Seolah aku dipeluk.
“Semoga, Bu.. Bu, aku mau tanya, apakah sikap Faiz agak berubah akhir-akhir ini sejak Sang Guru terkena serangan jantung?”
Ibu mengangguk. “Agak suka bengong. Seperti jiwanya kemana gitu.. kadang Rasya suka kesel juga, katanya kokm papa suka enggak nyambung kalau diajak ngomong.”
Memang. Faiz terlihat sedih sekali. Mungkin dia menyesal.. atau…
“Rasya juga ngerasa kalau sebentar lagi mamanya akan pulang ke rumah. Dia pernah mimpi bicara dengan seseorang, yang bilang kalau mamanya akan pulang dan bisa main lagi dengannya.”
“Masak, Bu?” Aku tersenyum simpul.
“Ya! Dia cerita tadi pagi, dia ketemu seorang yang udah tua, jenggotnya putih, bajunya oranye tua.. bilang kalau mamanya akan pulang ke rumah…”
“Orang tua? Jenggot putih? Bajunya oranye?”
Ibu tertawa. “Waktu cerita begitu, Rasya sampai menggambarkan orang yang dia temui itu di atas kertas. Mimik mukanya lucu sekali waktu cerita itu… “
“Oh ya?”
Aku membayangkan kira-kira seperti apa ya mimik muka Rasya, aku jadi tersenyum sendiri. Ibu saja tertawa, pasti sangat lucu.
“Bu.. Jangan lupa ya tanyakan soal Petra, aku butuh jawaban..”
“Iya, nanti ibu tanyakan.. Tapi beneran loh, ibu enggak percaya, kalau Faiz begitu..”
“Mudah-mudahan enggak, Bu..”
Ponsel ibu berbunyi. Ada sms masuk. Sekilas ibu membacanya. “Dari Faiz, katanya dia dan Rasya udah ada di rumah. Kalau begitu ibu pulang dulu ya.. Kamu hati-hati disini.”
Aku mengangguk. Aku ingin turun dari tempat tidur dan berjalan ke pintu mengantar kepergian ibu. “Sini ibu papah…”
“Enggak usah, Bu.. aku coba sendiri dulu..”
Aku turun dari tempat tidur dengan canggung, berjalan di samping ibu dengan canggung pula. Dari wajahnya, ibu terlihat takut kalau-kalau aku jatuh terduduk. Kami berjalan dengan pelan ke arah pintu. Aku membukakan pintu, ibu keluar ruangan, mengecup keningku lalu berpesan agar aku hai-hati, lalu pergi berlalu. Aku menatap punggung ibu, dia wanita yang tidak kenal lelah, setiap hari mengunjungiku. Mungkin semua tabungannya habis untuk biaya perawatan rumah sakitku ditambah ongkos ke rumah sakit setiap harinya. Aku mendesah. Keuangan kami memang sangat sulit. Oleh karenanya aku ‘bekerja’ sebagai peramal di kafe milik Faiz. Dan itu pun aku harus menyewa ‘tempat’ kepada Faiz, hitung-hitung sewa tempat katanya. Belum lagi biaya sekolah Rasya.
Kasihan ibu. Aku menghela nafas berat. Aku berbalik kemar, hendak menutup pintu. Tapi sepertinya ada yang menahan, aku menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya aku, ketika melihat sosok yang menahan pintunya adalah orang itu, si kembar ketiga! Wajah pucatnya tersenyum, lebih tepatnya menyeringai padaku. Aku langsung merasakan hawa dingin menusuk yang membuat bulu kudukku berdiri. Saking terkejutnya, aku jatuh terduduk. Dan aku seperti tidak sanggup untuk berdiri.
Aku menggunakan seluruh kemampuan tubuhku untuk bergerak maju. Tapi gerakanku sangat lambat.
BRAK! Suara pintu dibelakangku ditutup dengan kasar. Aku menoleh ke belakang. Si kembar ketiga itu mengunci pintunya! Aku berusaha untuk berdiri, ah, tidak bisa! Aku mulai panik. Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Aku terus berusaha maju, dengan mengesot. Lalu tiba-tiba aku dibantu berdiri. Aku menoleh ke samping, dia.. si kembar ketiga, memapahku untuk berdiri. Lalu refleks kutepis tangannya. Tapi dia tetap memegang erat tanganku, dan menarikku ke atas. Aku berusaha melawan ketakutanku untuk berdiri. Aku terus menatap si kembar ketiga itu, tapi dia malah menunduk, melihat kedua kakiku.
Jantungku berdetak sangat cepat. Apa yang mau dia lakukan? Lalu aku berdiri. Si kembar ketiga itu terus memegang tanganku. Tangannya dingin sekali. Tidak sekalipun dia membalas tatapanku, dia terus saja menunduk melihat kedua kakiku. Aku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya, ah tidak bisa! Dia kuat sekali! Lalu aku didorong pelan olehnya. Otomatis kakiku melangkah, begitu terus sampai disisi tempat tidur. Setelah itu dia melepaskan tanganku.
Aku mematung. Aku melihat si kembar ketiga dengan mata tidak berkedip. Antara ketakutan dan bingung, aku bertanya,” K..kk..kenappaa..??”
Yang ditanya hanya mendesah. Lalu dengan gerakan cepat dia mengangkat tubuhku lalu meletakkannya dengan pelan di atas tempat tidur. Sekarang aku merasakan tubuhku gemetar hebat. Apa yang mau dia lakukan? Apa yang harus kulakukan? Faiz? Mana Faiz? Ibu?
Dengan tenang si kembar ketiga duduk di sisi tempat tidurku. Dia manatapku tajam. Tapi tidak ada suatu suara pun yang keluar dari mulutnya. Dia hanya menatapku. Tatapan ituterlihat sangat menusuk hatiku, membuatku pucat dan ketakutan setengah mati.
Lama sekali dia menatapku, atau memang waktu terasa lama berjalan saat ini. Aku tak percaya berada dalam satu ruangan dengan orang yang sudah menyiksaku sekian lama. Apa yang dia mau? Seseorang tolong aku! Tolong!
“Too..long! Toolong!…” Jeritanku cuma terdengar sebagai bisikan yang tidak berarti. Tidak akan ada orang yang mendengar kalau aku meminta pertolongan dengan cara berbisik begini.
Tanpa diduga, si kembar ketiga mengecup pipiku! Aku terkejut setengah mati! Apa yang dia lakukan? Aku meraba pipiku, tertinggal rasa dingin disana. Si kembar ketiga itu menatapku, terus menatapku. Karena sangat takut, aku menutup kedua mataku. Aku takut! Takut sekali!
Lalu ketika mataku tertutup aku mendengar suara. Suara yang berat dan menyeramkan.
“Akhirnya, kita bisa bertemu..”
Badanku menggigil. Seperti terkena demam tinggi. Tolong! Seseorang, tolong aku! Aku merasakan sesuatu yang hangat menjalar dari kakiku, hangat.. lalu dalam sekejap terasa panas.. dan makin panas.. Apakah… apakah.. aku bermimpi bertemu bola api lagi? Aku membuka mataku. Ah, aku tidak melihat apapun! Dimana aku? Dimana?
Tidak terlihat apapun! Semuanya gelap! Ruangan gelap lagi! Aku teringat kata-kata Yudha, “Apa.. kamu sudah.. pernah mimpi lagi? Mimpi yang ketiga kalinya?”
Kalimat itu terngiang-ngiang di telingaku. Aku takut! Takut sekali! Lalu tiba-tiba ada seseorang yang memegang tanganku. Dari genggamannya, aku langsung tahu, dia adalah si kembar ketiga. Dia membantuku berdiri dan memaksaku untuk mengikuti kemana dia pergi. Dia menarik tanganku dengan keras. Aw! Sakit sekali! Aku berusaha untuk menepis tangannya, ah tidak bisa! Genggamannya kuat sekali!
Dia kembali menarikku dengan keras, aw! Sakit! Aku berusaha mengeluarkan suara, tapi suaraku tidak keluar. Aw! Hei, sakit! Lalu tiba-tiba dia tidak menarik tanganku lagi, genggamannya dikendurkan. lalu aku merasa tangannya menempel dengan tanganku. Refleks, aku menjauh, tapi dia tetap berusaha menempelkan tangannya dengan tanganku.
Apa yang dia mau? Aku kembali menjauh. Lalu aku merasakan tanganku dilepas dengan kasar. Dan aku didorong oleh badan seseorang dengan pelan dari arah belakang. Ups! Jangan sampai terjatuh. Aku berhenti lagi. Menoleh ke belakang. Kenapa dia ingin sekali aku bergerak maju? Dia mendorongku lagi dengan badannya. Begitu terus. Karena kesal aku bergerak ke samping, menghindari dorongannya. Apa sih maunya?
Lama tidak ada gerakan. Apa yang terjadi? Aku berusaha mengeluarkan suara. Ah, tidak bisa. Aku juga tidak mendengar apapun dari tadi. Berarti telingaku pun tuli. Aku tidak bisa melihat apapun. Di mimpiku di ruangan gelap sebelumnya,aku mati-matian berjuang melawan hawa panas dari bola api. Tante Febi bilang itu adalah refleksi dari diriku. Refleksi? Aku tidak melihat bola api besar itu refleksiku. Dan aku sempat melihat di ruangan gelap, ya, sebuah bola oranye yang sangat besar. Itukah wujud bola api yang selama ini mengejar dan menabrakku? Ketika aku dan Faiz ke kamar kembar ketiga, kami melihat sinar oranye yang sangat menyilaukan. Apa bola api oranye itu kembar ketiga? Atau Aurelia?
Aw! Tiba-tiba tanganku ditarik! Hei! Sakit! Seseorang menarikku dengan kekuatan yang sangat besar, sehingga aku tidak bisa melepaskan tanganku. Aku tersungkur berkali-kali, tapi tetap saja aku ditarik kedepan. Tanganku sakit sekali. Mau kemana? Aw!
Aku harus berlari kalau tidak mau tersungkur lagi. Cepat sekali gerakan orang yang menarikku ini. Aduh! Apa mungkin dia berlari juga? Aduh, tanganku! Lalu samar kurasakan hawa panas menjalar dari belakang. Bola api itu kah? Cepat sekali hawa panas itu menuju ke arahku. Tidak! Aku tidak mau bertabrakan dengan benda itu lagi! Tidak mau!
Kupercepat lariku. Tapi hawa panas itu makin terasa membakar kulitku. Tidak! Tapi, aku ingat, di mimpiku sebelumnya, aku melawan hawa panas ini. Aku harus berhenti. Gerakan berhentiku yang tiba-tiba membuat orang yang menarikku terdiam sejenak. Apa mungkin dia terkejut? Lalu dengan kasar dia melepaskan tanganku. Aw! Aku memegang tanganku yang tadi ditarik. Pasti membiru. Sakit sekali.
Sementara itu, hawa panas makin membakar punggungku. Aku berbalik. Kurentangkan kedua tanganku lebar-lebar. KESINI KAU! AKU TIDAK AKAN TAKUT! AKU TIDAK AKAN LARI!
BRUK! BRUK!
Aku terlempar. Aku merasakan sekujur tubuhku terbakar semua. Aku pasrah. Tinggi sekali aku terlempar. Mungkin ketika sampai ke tanah lagi, tubuhku akan hancur, berdarah, retak.. Lalu aku bisa melihat sekilas, seperti ada sesuatu yang terbang di sekitarku. Mengelilingiku. Aku mengucek-kucek mataku. Aku bisa melihat? Loh, kok, gelap lagi? Aku jadi tidak melihat apapun! Apa ya itu tadi? Halusinasiku saja?
Tinggi sekali aku terlempar. Lalu dengan cepat aku meluncur kebawah. Cepat sekali. Aku akan hancur. Aku menutup kedua mataku rapat-rapat. Hancur sudah.. Hancur sudah…
Aku terus jatuh dengan kecepatan tinggi. Kapankah akan sampai? Apa semua akan selesai? Lama sekali. Cepatlah selesai, aku tidak ingin merasakan sakit, cepatlah semua ini selesai.
Lama sekali, aku belum juga menyentuh tanah. Aku membuka mataku. Aku sangat kaget. Dimana aku? Semuanya putih! Lalu aku? Aku berbaring di lantainya. Bukannya tadi aku sedang jatuh setelah terlempar karena ditabrak oleh bola api? Buru-buru aku berdiri. Aku bisa melihat! Aku mencoba mengeluarkan suara. “Aaaaaa…” Bisa! Telingaku pun mendengar suaraku! Aku kembali bisa mendengar!
Tubuhku… tidak ada goresan! Tidak ada bekas terbakar. Dalam hati aku sangat lega. Tapi, apa yang sebetulnya terjadi? Aku sangat bingung. Aku melihat sekelilingku. Tidak ada siapapun. Sepi sekali. Hei, apa itu? Aku melihat sesuatu mendekat. Itu.. itu batu yang bercahaya! Makin lama makin dekat, apa yang harus kulakukan? Aku harus lari, aku tidak mau tubuhku ditembus olehnya! tapi tunggu, kalau semua ini adalah refleksi dari diriku, pasti aku harus temukan sesuatu. Aku harus melawan! Aku harus bisa memegang batu bercahaya itu.
Batu bercahaya itu menuju ke arahku dengan kecepatan tinggi. Aku menguatkan hatiku, kurentangkan tanganku, menarik napas, memejamkan mata…
BRUK! BRUK!
BRRBB!! Keluar darah segar dari mulutku. Aku membuka mataku. Aku memperhatikan sekujur tubuhku. Tubuhku bolong! Berlubang besar karena batu bercahaya itu! Dari bawah leher sampai ke atas paha kulihat tubuhku berlubang. Darah mengucur deras. Aku jatuh terduduk. Anehnya, aku masih mampu bernafas. Aku menoleh ke belakang. Batu bercahaya itu tepat berada di belakangku. Dalam sekejap mata batu itu pecah menjadi batu-batu kerikil kecil yang banyak jumlahnya. Batu-batu kecil bercahaya itu mengitariku, pertama pelan, lama-lama putarannya cepat dan makin cepat, membuatku pusing. Aku sudah tidak kuat.
BRRBB! Darah kembali keluar dari mulutku. Aku juga merasakan darah keluar dari kedua telingaku. Kepalaku makin teras berat. Tapi entah kenapa aku masih bisa bernafas. Dengan pandangan yang makin kabur aku melihat seseorang berjalan ke arahku dengan langkah gontai. Siapa itu? Siapa? Aku memicingkan mataku. Dia! Kembar ketiga! Muka pucatnya dihiasi sebuah senyuman mengejek. Entah kenapa dalam penglihatanku yang makin samar, dia terlihat sangat tampan.
“Ttoo..lloong…” Lirih suaraku hampir tidak terdengar. Dengan langkah gontai kembar ketiga menembus lingkaran batu-batu bercahaya yang masih mengelilingiku, seolah mencegah siapapun masuk. Badannya terkejut-kejut seperti terkena serangan listrik. Lalu dia jatuh terduduk di depanku. Lalu mulutnya terbuka, seperti berbicara sesuatu, tapi aku tidak mendengar apapun.
Pandanganku semakin kabur. Si kembar ketiga meraih kedua tanganku, dia menangkupkannya didadanya. Kurasakan denyut jantungnya yang lemah. Dengan sisa tenagaku aku berusaha menarik kedua tanganku dari genggamannya, tapi tidak bisa. Pandanganku semakin kabur.
BRRRBB!! Aku kembali muntah darah, kali ini terasa lebih banyak. Lalu gelap.
bersambung…