all my stories

Segitiga 014 (Bukan Milik Sang Guru?)

Posted by: bojonghealth on: October 6, 2008

Aku merasa badanku diguncang-guncangkan seseorang. Pertama-tama terasa pelan, lama-lama makin kencang. Siapa sih? Perlahan aku membuka mataku. Ups! Silau! Siapa itu? Aku memicingkan mata. Setelah betul-betul sadar, aku terkejut! Kembar ketiga masih disini! Di ruanganku di rumah sakit!

Ah, tubuhku tidak bisa bergerak. Semuanya terasa kaku. Si kembar ketiga itu meletakkan telunjuknya di atas bibirnya. Menyuruhku untuk diam, lalu dia menggenggam tangan kananku. Aku tidak mau! Apa lagi yang mau dia lakukan? Lalu aku melihat seperti cairan hijau keluar dari tangan si kembar ketiga terus masuk ke aliran darahku, melalui genggaman tangannya. Cairan hijau yang berwarna sama pernah aku lihat ketika aku ‘melayang’ beberapa waktu lalu setelah minum kapsul dari Dian Bencis.

Aku juga melihat tanda segitiga hitam di tanganku makin membesar makin jelas. AH! Aku menarik tanganku, berusaha untuk melepaskan genggaman tangan si kembar ketiga. Ah.. tidak bisa! Tidak bisa lepas! Malah genggamannya diperkuat. Tanganku sakit sekali jadinya. Aku meringis kesakitan. Semua anggota tubuhku kaku. Ahhh!!! Aduh….

Tiba-tiba kembar ketiga melepaskan genggaman tangannya. Dan aku merasakan seluruh badanku menjadi lebih rileks. Aku menggerakan tanganku, memperhatikan tiap incinya. Wah, ada bekas kebiruan seperti memar. Sakit sekali. Lalu aku lihat, tanda segitiga hitam di tanganku menghilang! Aku memelototi tanganku, ah, ya benar! Menghilang! Aku senang sekali.

Aku harus berterima kasih pada si kembar ketiga ini. Entah kenapa aku merasa orang ini agak aneh. Jahat tapi baik.. Tapi kemana dia? Baru sekejap tadi aku memperhatikan tanganku. Dia sudah menghilang? Aku turun dari tempat tidurku. Berjalan tertatih menuju pintu ruanganku, membukanya dan melihat keluar. Tidak ada kembar ketiga. Kemana dia? Cepat sekali perginya. Aku sampai tidak merasakan dia pergi tadi. Apa dia kembali ke ruangannya?

“Mama!!” Aku mendengar teriakan yang teras akrab di telinga. Aku menoleh kebelakang. Rasya datang bersama dengan Faiz. Aku memeluknya, tapi malah jatuh terduduk.

“Hati-hati.. mama kakinya masih sakit…” Kata Faiz. Rasya memelukku erat, lalu dia melihat kakiku. Dia melepaskan pelukannya dengan hati-hati. Aku dibantu berdiri oleh Faiz dan Rasya. Jalanku dipapah oleh mereka.

“Mama…” ujar Rasya manja ketika kami sudah duduk di sisi tempat tidur. Aku membelai rambut Rasya dengan penuh kasih sayang. Aku kangen sekali padanya.

“Mama, aku bawa oleh-oleh buat mama…” ujar Rasya. Faiz menyerahkan sebuah buku gambar A4 pada Rasya. Rasya antusias sekali menerimanya. Matanya bersinar-sinar. “Aku ngegambal banyak loh, Ma!”

Aku tersenyum. “Mana gambarnya sayang?”

Rasya membuka buku bergambarnya. Gambar pertama adalah gambar seorang wanita dengan rambut pendek.. hmm… sepertinya itu aku. “Ini mama.” ujar Rasya. “Bagus kan, Ma?” Aku mengangguk. “Aku gambal ini waktu aku kangen sama mama di lumah.. Milip kan, Ma?”

Aku mengangguk lagi. Rasya menggambarnya dengan crayon. Dia berusaha menggambar wajahku dengan bagus. Tapi sepertinya untuk warna kulitnya belang. “Kok ini belang?” Aku menunjuk warna kulit mukaku.

“Habis, Ma, kelayon cokelat mudanya, jadi aku tambahin pakai walna cokelat tua…”

Aku tertawa. Kuusap-usap rambut Rasya. Dia membuka ke halaman berikutnya. “Kalau ini gambal kakek-kakek…” Gambar Rasya yang berikutnya adalah gambar seorang yang berambut dan berjenggot putih yang panjang, berjubah oranye tua. Sepertinya ibu pernah cerita tentang Rasya yang bermimpi bertemu dengan seorang kakek tua berjenggot putih dan berbaju oranye..

“Aku gambal ini soalnya kakek-kakeknya celita dalam mimpiku, mama akan sembuh telus pulang. Maen-maen lagi sama Lasya..”

“Masak? Terus Rasya bilang apa?”

“Aku bilang, makasiy, kakek… Telus dia senyum-senyum sama aku, Ma..”

Aku mengelus kepala Rasya lagi. Matanya berbinar-binar, ketika kuelus rambutnya. “Telus… kakek itu ngomong apa ya… aku lupa, Ma..” Rasya mengerutkan dahinya. “Emmm… ngomong apa ya..”

“Dari tadi dia terus-terusan mengingat-ingat mimpinya itu…” sela Faiz.

“Oh ya?” tanyaku pada Faiz. Faiz mengangguk.

“Dari tadi di mobil, sepanjang jalan, alisnya hampir-hampir bertemu. Kalau ditanya mikir apa, dia bilang persis seperti tadi.”

Aku terkekeh. Ada-ada saja. “Ah, kalau Rasya enggak bisa inget, ya enggak apa-apa, sayang.. Coba buka lagi, ada gambar apa lagi.. Mama liat dong..”

Dengan muka cemberut Rasya membuka lagi lembaran kertas gambarnya. “Ini gambalnya setan!”

Aku heran. Setan kok bentuknya seperti manusia. “Kok setannya bentuknya kayak orang?”

“Soalnya, setannya udah jadi olang, Ma.. Lambutnya panjang deh.. telus.. walna lambutnya kuning.. kayak olang balat!” Aku tersenyum. Mungkin maksud Rasya blonde. “Telus dia megang ini ditangannya..”

“Pegang apa?”

“Pegang mutiala yang besaaaaalll… walnanya putih…ini, Ma.. liat ga?” Rasya menunjuk-nunjuk gambarnya. Lalu tiba-tiba Faiz mengambil buku gambar Rasya. Aku dan Rasya melihat Faiz tidak mengerti.

“Pak.. ada apa?”

“Papa…”

Faiz memperhatikan gambar Rasya. Wajahnya menjadi pucat. Lalu dia mengembalikan buku gambar itu ke tangan Rasya dengan sikap ragu-ragu. “Ma..af.. sayang.. Ini.. Papa kembalikan..”

Aku menatap Faiz kebingungan. Lalu Faiz keluar ruangan begitu saja. Wajahnya masih pucat. Dia tidak menjawab pertanyaanku ketika kutanya hendak kemana. Aku dan Rasya saling pandang. Aneh sekali sikap Faiz tadi. Lalu mata Rasya membesar, dia memukul pelan dahinya. “Oh, iya!” Dia membuka gambar kakek-kakek tadi lagi. “Ma, kakek itu bilang, kalau papa jadi pucat..”

“Apa?”

“Kakek itu bilang, kalau papa jadi pucat..”

Aku tidak mengerti. Apa mimpi Rasya ada hubungannya dengan sikap Faiz barusan. Tapi kan wajah Faiz memucat karena melihat gambar Rasya.

“Sayang, boleh mama liat gambar setannya?”

Rasya mengangguk. Dia membuka lembaran kertasnya dan memperlihatkan gambar setannya. Jelas sekali itu gambar seorang perempuan. Perempuan berambut panjang ikal, sekilas di gambar itu perempuan itu tidak memegang apapun, tapi setelah didekati, memang perempuan itu menggenggam sebuah benda bulat putih. Entah kenapa aku teringat pada benda bulat bersinarku. Lalu aku membuka laci meja kecil di samping tempat tidurku. Aku mengambil sebuah kotak kayu, dan mengeluarkan sebuah benda bulat bersinar dari dalamnya.

“Waaaaahhhh… bagusss!!!” seru Rasya.

“Bagus ya, sayang? Ini punya mama..” Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak sekarang.

“Boleh enggak Rasya pegang?”

“Boleh.. Jangan sampai jatuh ya..”

Rasya memegang benda bulat bersinar itu dengan sangat hati-hati. Mata bersinar-sinar. “Punya mama? Beli dimana, Ma..”

“Mama enggak beli, dikasih kok.”

“Wahhh.. bagus ya…”

Lalu aku merasa ada yang memperhatikanku dari arah pintu. Faiz telah berdiri di ambang pintu dengan wajah tanpa ekspresi. “Paak?”

Faiz masuk ke dalam ruangan, masih dengan wajah tanpa ekspresi. Ada apa dengannya?

“Papa napah?” tanya Faiz. Kepalanya dia miringkan. Faiz menghampiri Rasya. Susah sekali dia memulai kata-kata di depan anaknya.

“Eng..engga…k.. Papa enggak apa-apa…” Aku melihat berkali-kali Faiz menelan ludah. Aneh benar sikapnya itu. “Ng.. terusin aja ceritanya….”

Rasya memutar-mutar benda bulat itu. Matanya bersinar-sinar. Lalu dia mengembalikannya padaku dengan mulut cemberut.

“Loh? Kenapa sayang? Kok cemberut? Masih mau pegang?” tanyaku. Rasya menggeleng.

“Pelasaan aku jadi enggak enak, Ma…” Rasya memajukan bibir bawahnya.

Aku mengangkat alisku. “Ha? Kenapa?”

“Enggak enak deh, Ma.. Huh…!” Rasya melipat kedua tangannya didepan dadanya. Lucu sekali melihat dia bersikap begitu.

“Ya udah.. mama taro ini dulu ya..” Aku meletakkan benda bulat bersinar itu dalam kotak kayu, lalu memasukkannya ke laci. Sekilas aku melihat wajah Faiz. Wajahnya masih tidak berekspresi, hanya matanya saja mengekor setiap gerakanku.

“Nah, sekarang lanjutin lagi dong ceritanya…”

Dengan wajah masih cemberut, Rasya melanjutkan kisahnya. “Kalau setan ini malah, dia ngangkat tangannya begini..” Rasya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

“Wah… serem dong…”

Rasya mengangguk.

“Memangnya dia marah karena apa, sayang?”

“Kalau mutialanya diambil olang, setannya malah, Ma…”

Aku tersentak. Lalu kudengar Faiz berdehem keras. “Sudah yuk, Rasya kan belom mamam tadi… mamam dulu yuk…”

Rasya mengikuti perintah Faiz. Dia turun dari tempat tidur lalu berjalan ke arah Faiz. “Kotak makanannya dimana ya, Pa?”

Faiz mengeluarkan kotak makanan Rasya dari dalam tas. Rasya memegang kotak makanannya lalu dia menyodorkannya padaku. “Ma… suapin ya…” Lalu dia membuka mulutnya lebar-lebar.

Aku tercenung. Apa benda bulat bersinar itu bukan milik Sang Guru.. lalu punya siapa? Perasaanku menjadi kacau. Apa mungkin punya seseorang..? Punya Aurelia…? Atau punya si kembar ketiga?

“Ma… Ayo suapin…” Rasya menarik-narik bajuku. Aku kembali tersadar. Mulutnya sudah dia buka lebar-lebar.

Faiz berdehem lagi. Aku menatap wajahnya. Dia balas menatapku dengan pandangan yang tidak kumengerti, ekspresinya antara takut dan marah…

“Ma….” Kali ini Rasya merajuk. Bajuku ditariktariknya lagi.

“Oh.. eh.. ya, Sayang.. Aduh maaf ya…” Aku membuka kotak makanan Rasya dan mengambil sendok kecil didalamnya, lalu mulai menyuapi Rasya.

bersambung..