Posted by: bojonghealth on: October 24, 2008
Sekarang aku sendirian. sudah hampir jam 7 malam. Kata-kata Rasya begitu menusuk hatiku.
“Kalau mutialanya diambil olang, setannya malah, Ma…”
Mutiara? Aku melirik ke arah tempat benda bulat bersinar kutaruh. Apakah itu mutiara Aurelia? Ataukah mutiara si kembar ketiga? Kenapa kembar ketiga jadi menolongku? Sikap Faiz begitu membingungkan tadi. Seperti orang linglung, marah dan takut. Aku bisa lihat dari matanya. Tapi dia berusaha menutupinya dengan wajah tanpa ekspresinya itu.
Tadi aku juga tidak melihat ada tanda bulatan merah besar di tangan kanan Faiz. Pasti tanda itu sudah menghilang seiring hilangnya tanda segitiga di tanganku. Tapi aku rasa Faiz tidak menyadarinya. Atau dia sadar, tapi tidak memberi tahu aku?
Sejak tadi Faiz cuma berkata sedikit. Dia cerita panjang lebar tentang perkembangan kesehatan Sang Guru. Dia bilang Sang Guru makin membaik kondisinya, sudah bisa merespon dengan menggerakkan salah satu jari tangannya. Dan kadang Sang Guru tersenyum kecil. Aku merasa sedikit lega, aku ingin melihatnya. Tapi dokter melarang, karena aku harus ikut pemulihan untuk benar-benar bisa berjalan lagi.
Rasya meninggalkan buku gambarnya untukku. Katanya kalau aku bosan, aku bisa menggambar disitu. Ah, Rasya, mama kan enggak jago gambar, bisanya gambar garis doang. Aku membolak-balik halaman yang digambar Rasya. Anak itu bisa saja menggambar begini.
Ah hei, tunggu dulu.. Apa ini? Ah? Gambar kakek tuanya seperti bersinar oranye tadi? Aku memelototi gambar kakek tua itu, ah cuma bayanganku saja. Tidak mungkin ah, masak ada gambar hasil anak kecil bersinar. Aku tertawa sendiri. Aku meletakkan buku gambar itu di laci. Entah kenapa aku menjadi sangat mengantuk. Padahal baru jam 7. Apa karena pengaruh obat ya? Ah, ngantuk sekali.
Aku menguap lebar, lalu memejamkan mataku. Sebelum aku memejamkan mata, sekilas kulihat ada sesuatu berkelebat di sampingku. Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya. Aku ingin tidur.
—
“Ibu tadi kesini dijemput Faiz.”
“Ha? Kok Faiz enggak kesini?”
“Katanya mau urus kafenya yang terbengkalai itu, terus mau jenguk Bapaknya.”
“Oh..” Aku menyeruput jus yang ibu bawakan. Jus alpukat kesukaanku. Kalau ibu yang membuat, selain ditambahkan susu kental manis coklat, dia juga menambahkan madu dan toppingnya diberi serutan keju. Nikmat! Mana ada minuman seperti ini di rumah sakit.
“Faiz kenapa sih, kok sepanjang perjalanan kesini dia diemmmm aja. Mukanya juga sepertinya loyo. Enggak bersemangat.”
Aku meletakkan gelas jus yang sudah kosong. “Entahlah, bu. Dia aneh sejak kemaren. Mungkin dia stres, bu. Kafenya enggak ada yang urus, otomatis pemasukan enggak ada, sedangkan Sang Guru masih sakit.”
“Tapi dia pernah bilang loh, ama ibu, perawatan bapaknya itu gratis, soalnya dibiayai sama pemilik rumah sakitnya, yang kebetulan kawan lama bapaknya.”
“Oh, mungkin soal kafe. Apalagi masalah yang menyebabkan aku seperti ini sekarang kan belum selesai, bu.”
Ibu mendesah. Matanya tertuju pada laci di samping tempat tidurku. “Loh.. laci kamu kok kebuka gini, enggak dikunci ya?”
Aku memperhatikan laci di samping tempat tidurku. Ah, iya, agak terbuka sedikit. Kok aku tidak memperhatikan dari tadi. Bodoh! Aku rasa kemarin aku mengunci laciku. Dan kuncinya ada di… “AH!”
“Kenapa, Na?” Ibu terkejut melihat aku memukul kepalaku sendiri.
“Aku lupa ngunci lacinya, bu!” Aku memeriksa isi lacinya. Buku gambar Rasya masih ada disitu. Lalu kotak kayunya juga. Aku mengambil kotak kayu itu, lalu membukanya. Aku sangat terkejut, benda bulat bersinar tidak ada di tempatnya. Aku sangat panik mencarinya.
“Apa? Ada yang hilang, Na?”
“Benda bulat itu, bu.. yang seperti mutiara, hilang!”
“Ha?” Ibu ikut-ikutan mencari. Di setiap sudut laci, di bawah laci, di bawah tempat tidur. Aku mencari ke setiap sudut tempat tidur, meraba-raba… ah, tidak ada! Dimana benda itu? Jantungku berdebar kencang. Aku terus mencari, dan tidak terasa sudah satu jam aku dan ibu terus mencari. Tidak ada! Benda bulat bersinar itu hilang!
Hilang!!
Ah, tapi tunggu, rasanya aku ingat sesuatu. Semalam, sebelum aku tertidur, ah.. iya.. ada sesuatu yang berkelebat di sampingku. Apa itu? Dan sebelumnya.. sebelumnya aku seperti melihat gambar kakek yang digambar Rasya bersinar. Aku mengambil buku gambar Rasya. Aku sangat terkejut. Aku tidak menemukan gambar kakek berjubah oranye itu! Aku terus membolak-balikkan halaman demi halaman. Tidak ada! Yang ada hanya gambarku dan gambar setan. Dimana gambar kakek berjubah oranye itu??!
“Ada apa, Na? Kenapa buku gambarnya dibolak-balik begitu?” Ibu mulai heran melihat tingkah anehku. Aku menatap ibu dengan nanar. “Ada apa, Na?”
Aku menelan ludah. “Bendanya hilang, ma.. dibawa kakek berjubah oranye…”
Ibu mengerutkan dahinya. “Eh.. ibu telepon Faiz dulu ya.. Kayaknya kamu butuh dia?”
Aku menggeleng keras. Otakku berpikir keras. Pasti ada sesuatu. Kakek berjubah oranye itu memanfaatkan anakku untuk mengambil benda bulat bersinarku! Aku harus minta bantuan pada siapa? Ah, iya!
“Bu, bisa tolong bantu aku?”
“Ya? Eh, mau kemana?”
“Ke tempat si kembar ketiga dirawat.”
–
Aku berada di kursi roda, didorong ibuku dari ruanganku. Kami menghadap ke sebuah pintu, nomor 17, lorong kamar-kamar pasien VIP. Aku menelan ludah. Mudah-mudahan saja tidak dikunci. Ibu membuka pintunya, ah, tidak terbuka. Ibu menatapku. Aku kembali menelan ludah. Aku berusaha berdiri dibantu ibu, lalu membuka pintunya. Bisa! PIntunya terbuka!
Ketika aku akan masuk, ibu menarik tanganku. “Sebaiknya kita jangan masuk ke ruangan pasien lain tanpa ijin, Na..”
“Tidak, bu, aku harus memastikan sesuatu sama orang yang ada di dalam ruangan ini.”
“Tapi.. sebaiknya… kita panggil orang lain…”
Aku menepis halus tangan ibu. “Bu, aku masuk sendiri saja. Ibu tunggulah disini. Pintunya jangan ditutup, biar ibu bisa lihat keadaanku didalam.”
“Tapi..Na.. Kamu yakin?”
Aku mengangguk mantap. Ibu melepaskan aku dengan wajah penuh kekhawatiran. Aku memasuki ruangan penuh bunga. Lalu ada seorang lelaki yang terbaring lemah di tempat tidur. Wajahnya pucat. Dan anehnya, dia seperti tidak bernapas. Ah, aku tidak lihat dadanya naik turun seperti orang bernapas. Aku mempercepat langkahku. Aku menempelkan kupingku pada dadanya. Tidak terdengar detak jantung. Aku mencari denyut nadi di lehernya, tidak ada. Denyut nadi ditangan juga tidak ada. Ah.. ah.. apa kembar ketiga ini mati? Aku memperhatikan wajahnya, mirip dengan Aurelia dan Adelia… hanya hidungnya saja agak lebih besar dari dagunya lebih panjang. Aku meletakkan telunjukku didepan hidungnya, tidak ada tarikan atau hembusan napas.
Apa dia sudah mati? Lalu kenapa tidak ada yang tahu? Tapi badannya masih hangat. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus memanggil suster atau dokter atau siapapun. Tapi hei, apa itu? Aku melihat sebuah amplop putih dibawah kerah bajunya. Aku menarik amplop itu perlahan, dan memeriksa isinya.
Ada sebuah foto. Foto yang sudah usang. Ini… ini kan foto tahunan SDku? Lalu aku memperhatikan wajah kembar ketiga. Apa maksudnya dengan foto ini? Aku memperhatikan tiap wajah di foto itu. Ah ini aku, ada di pojok sebelah kiri sedang tersenyum lebar, dan yang ini.. yang jongkok di bawah dua dari kanan, Faiz sedang berangkulan dengan seseorang. AH! Faiz berangkulan dengan… wajahnya sangat mirip dengan kembar ketiga ini! Walaupun tidak begitu sama tapi… ah! Apa mungkin?? Aku pernah satu kelas dengannya di SD?
Aku membalik foto itu, dan kulihat tulisan cakar ayam, tapi masih bisa kubaca. disitu tertulis, aku sangat mencintaimu, Ariel.
Dadaku sesak. Ariel? Rasanya aku pernah punya teman namanya Ariel. Ah, ya.. di SD.. Dia murid pindahan dari kota lain, dan ayahnya orang bule. Tapi Ariel tidak menuruni ayahnya yang bule penampilannya, wajah, rambut dan kulitnya seperti orang indonesia. Ariel? Apakah benar si kembar ketiga ini Ariel?
Aku harus keluar dari ruangan ini. Lagipula kembar ketiga ini tidak bernapas. Aku harus memberitahu siapa saja agar kembar ketiga ini diperiksa. Aku keluar dengan langkah tergesa-gesa. Ibu masih menungguku di luar dengan wajah cemas.
“Akhirnya kamu keluar, Na.. Ayo, kita pergi dari sini, perasaan ibu jadi enggak enak…” ajak ibu. Dia menarik tanganku dan menutup pintu. Aku dibantu duduk di kursi roda lalu dia mendorongku keluar dari lorong VIP itu.
“Kamu lama betul sih didalem, Na.. Ibu sampe berkali-kali ngintip. Kamu ngambil apa tadi dari kerah orang itu?”
Aku melihat amplop dalam genggamanku. Aku memberikannya pada ibu. “Coba ibu lihat dulu sebentar foto ini.”
Ibu berhenti mendorongku, lalu dia membuka amplop putih dan melihat foto yang ada di dalamnya. “Foto apa ini? Udah agak lama.. kertasnya sampe kuning begini.. Foto anak-anak SD?”
“Itu foto tahunan SDku, bu. Kalau enggak salah waktu aku kelas 5. Sini, kutunjukkan.” Ibu menyerahkan fotonya padaku. Aku menunjuk ke arah tempatku berdiri di foto itu. “Ini loh, bu, dan yang ini Faiz…”
Ibu mengamati foto itu sampai terbungkuk-bungkuk. “Hmmm.. ya.. ya… Lah terus?”
“Yang dirangkul Faiz ini adalah kembar ketiga!”
“Ah, masak?!” Ibu mengambil fotonya dari tanganku. Alisnya terangkat dua-duanya. “Jadi kalian ini waktu SD pernah saling kenal?”
Aku mengangkat bahu. “Dibalik foto itu ada tulisan juga.”
Ibu membalik fotonya dan keningnya berkerut. “Aku sangat mencintaimu, Ariel?”
“Ya.. ah! Tapi sebaiknya sekarang kita lapor suster atau dokter, bu untuk memeriksa kondisi kesehatan kembar ketiga itu! Tadi aku tidak melihat tanda-tanda dia bernapas…”
“Apa? Ya.. kita lapor dulu..”
bersambung..
–