Posted by: bojonghealth on: October 27, 2008
“.. Ternyata.. pasien yang dirawat itu emang sering bertingkah aneh, kata perawat sini..”
Ibu sedang menelepon Faiz, dan suaranya di-loud speaker sehingga aku bisa ikut mendengar dan bicara.
“Aneh? Maksudnya aneh?”
“Maksudnya, sering tiba-tiba tidak bernapas terus tiba-tiba jantungnya berhenti, padahal sebenarnya dia masih hidup. Perawat sini bilang, kalau si.. siapa itu namanya…”
“Ariel…” selaku.
“Ya, Ariel itu memang sepertinya sudah sembuh total, tapi dia terus cari-cari alasan supaya masih tetap dirawat disini. Sepertinya, otaknya, apa ya, yang bisa mengatur seluruh tubuhnya semaunya, misalnya, bisa bikin jantungnya berhenti atau napasnya berhenti.. Jadi bukan karena penyakit…”
“Oh, jadi begitu… Lalu, benda milik Na ketemu?”
Kini giliranku yang bicara. “Tidak, Pak. Malahan ketemunya foto SD. Foto tahunan SD dulu, ternyata kamu di foto itu berangkulan dengan kembar ketiga, Pak..”
Diujung telepon, Faiz terdiam. Dia tidak menyahut. Pasti Faiz menyembunyikan sesuatu.
“Lebih baik, bapak kemari, jadi bisa liat fotonya..”
“Masih banyak urusan kafe yang masih harus aku pegang dulu sendiri disini, jadi mungkin dalam dua hari kedepan, aku tidak bisa kesana..”
Aku dan ibu saling berpandangan.
“Lalu, kamu punya pandangan, siapa yang mengambil benda kamu itu?”
“Enggak.. tapi dulu kan Rasya pernah memberiku buku gambarnya, salah satu gambar dalam buku gambarnya tiba-tiba lenyap!”
“Gambar? Lenyap?”
“Ya, gambar yang lenyap adalah gambar kakek tua berjubah oranye..”
Faiz terdiam lama.
“Apa itu bisa dijadikan petunjuk, Pak? Aku tidak melihat apa-apa…”
“Mungkin…”
Jawaban Faiz singkat sekali. Mungkin dia sedang berpikir.
“Kayaknya aku tahu siapa orang yang mengambil benda milikmu itu, secepatnya akan aku berikan pada kamu.”
“Siapa orangnya, Pak? Apa Aurelia lagi?”
“Aku tidak bisa memberitahu, yang penting milikmu akan kembali lagi padamu.”
Aku mengeryutkan kening. Kenapa Faiz tidak mau memberitahu?
“Ah, ya… aku masih banyak urusan disini..”
“.. Em.. Ya… Kalau begitu terima kasih, Pak.. Kalau nanti jenguk Sang Guru, tolong sampaikan salamku padanya.”
“Ya..”
Telepon ditutup. Aku dan ibu berpandangan.
“Menurut kamu gimana, Na? Apa sesuai dugaan kamu, Faiz tahu sesuatu?”
Aku mengangguk. “Malahan, mungkin Faiz yang ngambil benda milikku itu, bu.”
Ibu menerawang. “Bisa jadi… Dulu juga dia mengembalikan bendanya padamu. Kalau sekarang dia ambil, buat apa?”
“Mungkin agar Aurelia mau mebantu menyembuhkan sakitnya Sang Guru… atau entahlah, mungkin untuk maksud lain. Tapi… yang aku tahu, Faiz tidak bisa melenyapkan sesuatu.. siapa yang melenyapkan gambarnya Rasya?”
“Wah, ibu kok jadi pusing…”
“Pasti orang itu berharap agar kecurigaan kita bertumpu pada kakek berjubah oranye, bahwa dia lah yang mengambil benda itu.”
“Ya… betul.. ya…” Ibu manggut-manggut.
Aku mendesah. “Dulu Sang guru pernah memperhatikan sebuah foto dari Dian Bencis, foto kuburan yang tidak bernama, kata beliau, namanya Aldi Rasya Purwanto… Aku kira itu nama kembar ketiga.. kok yang ini justru namanya Ariel? Apa nama panggilan ya, bu?”
“Nah.. ibu sempet nanya sama Petra, soal nama itu.. Ibu sempet suruh Petra nanya ke Dian Bencis, soal nama kembar ketiga itu.. Lalu Petra kasih tahu, kalau Dian Bencis ketakutan, terus dia bilang suatu saat dia akan mengunjungi kamu disini…”
Pintu terbuka. Aku dan ibu memperhatikan ke arah pintu. Disitu berdiri dengan wajah penuh kecemasan seorang lelaki dengan gaya..emmm… berdiri yang gemulai.
“Dian?!” seru ibu. Orang ini kah Dian Bencis? “Sini.. masuk dulu..”
Dian Bencis masuk dengan gaya jalan gemulai. Dia takut-takut melihatku. Memangnya aku akan memakannya?
Ibu mengambil sebuah kursi kosong untuk dia duduki. Dian Bencis tersenyum melihat ibu. Dia duduk dengan wajah takut-takut.
“Na, ini loh.. Dian.. Pas sekali ya, kita baru mau ngomongin kamu, loh…”
Lalu tiba-tiba Dian Bencis menjerit. “AAAAAAHHHH!!!!”
Aku dan ibu kaget setengah mati dibuatnya. “Loh.. kenapa? Kenapa?”
Lalu tiba-tiba Dian Bencis memeluk ibu dan dia menangis sesenggukan di bahu ibuku. Ibu memandangku dengan wajah bingung. Aku sendiri lebih bingung. Orang ini, apa-apaan? Teriak di rumah sakit?
“Kenapa? Kamu kenapa? Kok tadi teriak, terus malah jadi nangis?” bujuk ibu dengan suara dipelankan.
Dian Bencis melepaskan pelukannya. Dia berusaha menghentikan tangisnya. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan membuang kotoran dari hidungnya. Ih, aku geli dibuatnya.
“Ma..af…. Tadi.. aku kira.. aku kira…”
“Kamu kira apa?”
“Aku kira… Jeng Na, mau membunuhku… Hik…”
“Aku akan membunuhn kamu, rencananya..” selaku. “Tapi mungkin tidak sekarang, kalau masalah ini semuanya beres…”
Dian Bencis menjerit lagi. Kali ini lebih keras. Ibu menutup mulutnya. “Aduh.. kamu itu, jangan teriak-teriak dalam rumah sakit, pasien lain terganggu….”
“Habis.. habisnya…”
Aku memandang Dian Bencis dengan geram. “Kalau kesini cuman untuk teriak-teriak saja, lebih baik kamu keluar saja…”
Lalu Dian Bencis memeluk kakiku. Aku berontak. Ibu berusaha melepaskan pelukannya. “Eh… Hei! Apa-apaan sih kamu ini?! Lepasin kakiku!”
“Iya! Lepasin.. aduh..”
“Enggak mau! Aku harus minta maap sama Jeng Na, harus sentuh kakinya, begitu kata pak Faiz…!!!”
“Apa?!” seruku dan ibu bersamaan.
“Aku disuruh minta maap sama pak Faiz..”
“…Ya.. ya.. sudah aku maafkan, tapi.. kamu harus lepasin kakiku dulu.. aku baru saja bisa jalan, nanti kalau enggak bisa jalan lagi, kamu yang akan aku salahin..”
Dengan cepat Dian Bencis melepaskan pelukannya. “I..iya..”
“Sekarang, kamu jelasin maksud kamu kesini..”
“Eh.. emm… aku tadi buntutin ibu kesini…” Dian Bencis melirik ibu. Aku… ngebuntuti ibu… Maap… Aku sudah tahu pasti ibu mau kesini..”
“Dari sejak kapan kamu buntuti aku?” tanya ibu dengan suara keras. Kesal tergambar diwajahnya.
Dian Bencis ketakutan. “Da.. dari.. rumah…..”
“Apa?!! Kurang ajar, buntutin orang seenaknya!”
“Sudah, bu.. sudah.. nanti dia teriak lagi..” selaku. Kulihat ibu memajukan bibir bawahnya. “Nah, sekarang, ceritain, kenapa Faiz suruh kamu meminta maaf kepadaku.”
“Eng.. engg.. Memang sudah seharusnya.. soalnya dari sejak awal, kalau Jeng Na sudah tahu namanya, aku harus langsung minta maap ke Jeng Na..”
“Sejak awal? Nama?”
“Eng.. Itu.. nama Ariel itu…”
Aku dan ibu saling berpandangan. Maksudnya?
“Maksud kamu… sejak awal Faiz tahu kalau orang yang dirawat itu, si kembar ketiga itu, namanya Ariel?”
Dian Bencis mengangguk. “Eng… dan.. eng… nama yang satu lagi.. seharusnya Jeng Na enggak boleh tahu..”
“Nama yang satu lagi? Aldi Rasya Purwanto?”
Dian Bencis mengangguk lagi.
“Apa? Eh… Kenapa?”
Dian Bencis menunduk. Karena itu dulu nama lahir pak Faiz…”
–
bersambung..