Posted by: bojonghealth on: November 10, 2008
Aku menelan ludah. Ibu menutup mulutnya. Aku sangat terkejut.
“Eng.. eh.. eng… Kenapa Jeng keliatannya kaget banget?”
Kepalaku tiba-tiba pusing.
“Eh.. Eng.. ada apa? Bu?”
“Kami kaget… terusin aja ceritanya…” kata ibu. Kepalaku berputar-putar. Sungguh, aku tidak menyangka, apa benar yang Dian Bencis ini katakan? Sang Guru bilang kalau Dian Bencis ini pembohong. Apa dia sekarang sedang berbohong? Lalu yang memberitahu nama Aldi Rasya Purwanto itu kan Sang Guru setelah melihat nisan… AH!
“Ke.. kenapa, Jeng?”
Aku menggenggam tangan Dian Bencis dengan sangat keras. “Katakan, kamu enggak berbohong kan?”
Dian Bencis menggeleng takut-takut.
“Apa Aldi Rasya Purwanto itu anak Sang Guru???”
Dian Bencis menelan ludah. “Ya….”
Aku menghempaskan tubuhku. Ya Tuhan! Ya Tuhan! Aku sudah tahu ini semua… semuanya… Ya Tuhan…!!!
“Kamu enggak apa-apa, Na?” tanya ibu melihatku memegang kepalaku berkali-kali. “Jangan dipukul-pukul kepalanya begitu… “
Lalu entah kenapa air mataku mengalir.
“Jeng…??”
“Na?”
Aku menatap sayu ibuku. Hatiku sangat sakit. Aku tidak bisa berkata apa-apa..
“Kamu kok menangis?”
Aku menggeleng lemah. “Enggak apa-apa, bu. Ceritanya lanjutin aja…”
Dian Bencis menatap ibuku. “Eng.. di.. lanjutkan?”
Ibu mengangguk.
“Eng… semua ini.. eng.. Surat yang waktu itu aku kirimin ke Jeng Na, atas perintah pak Faiz. Dan… aku sempet beritahu Jeng Na, kalau isi surat itu… ada maksud tersembunyi disitu… Aku nulisnya ada foto yang bisa bergerak?”
Aku mengangguk lemah.
“Itu.. menunjukkan kalau surat itu.. bohong isinya, mana ada foto yang bisa bergerak… eng.. tapi.. tidak semua isinya bohong…terus.. Yudha Prakoso…” Dian Bencis menutup wajahnya,”Sebenarnya, kecelakaan itu… disabotase…”
Aku ternganga. Kejutan apa lagi ini?
“Ada seorang.. laki-laki… dateng menemui aku, wajahnya pucat.. suaranya lemah, tapi aku masih bisa dengar, dia bilang, Yudha akan mati.. Yudha akan mati… aku harus menolongnya… Itu.. itu terjadi jauh sebelum aku bertemu Yudha…”
Kepalaku makin pusing.
“Lalu aku bertemu dengan pak Faiz… dia bilang aku harus diselamatkan, apapun caranya, jadi aku pura-pura jualan obat di komplek ibu…” Dian Bencis melirik ibu. “Eng… dan untungnya pada akhirnya ibu beli obatku…”
“Dari mana kamu dapat obat berbentuk kapsul itu?” tanyaku. Kupijit-pijit kepalaku. Pening sekali jadinya.
“Iya, darimana? Anakku ini sampai loncat entah kemana, habis minum kapsul kamu itu!” ujar ibu.
“Eh…? I.. itu.. dari… perempuan.. suruhan pak Faiz…”
Kepalaku makin berdenyut.
“Tapi.. aku sempet pengen liat apa reaksi Jeng Na, jadi aku tahu Jeng Na melayang… lalu ngeliat kapsul besar.. berisi cairan hijau kental…”
Aku mengingat-ingat saat aku terbang dan melihat kapsul besar dulu, kalau tidak salah saat itu ada… “Kamu yang di kakiku dulu itu?”
Dian Bencis mengangguk. “Aku nyamar jadi kecoa. Sebenernya aku memberitahu Jeng Na, tapi… sepertinya suaraku tidak terdengar.. mungkin karena aku menjelmanya jadi kecoa.. atau mungkin.. atau… karena… ” Kening Dian Bencis berkerut.
“Karena apa?”
“Ah.. apa cuma perasaan aku, Jeng.. tapi aku merasa saat itu kekuatanku jadi tidak ada apa-apanya… seperti ada banyak kekuatan yang campur aduk saat itu.. mungkin salah satunya ada yang mencegah aku memberitahu Jeng Na..”
Aku mendesah.
“I.. iya… selama ini aku mencoba menghilang, tapi tiba-tiba…. laki-laki berwajah pucat itu datang lagi….” Sekujur tubuh Dian Bencis gemetar. “Dia.. dia bilang… aku akan mati… HUAAAAAAAA!!!!!”
PLAK!
Aku tak kuat lagi mendengar teriakan Dian Bencis ini. Aku merasa kepalaku sudah cukup pening dan aku tidak mau lagi mendengar sesuatu yang tidak penting. Dadaku bergemuruh, lalu refleks aku menampar pipi Dian Bencis. Ibu terkejut bukan main. Dian Bencis menghentikan teriakannya dan memegang pipinya. Dia menangis diam-diam.
“Na! Kamu tidak boleh begitu…!”
Ah.. kenapa? Kenapa aku menampar Dian Bencis? Kenapa? Aku memegang tangan Dian Bencis, tapi ditepisnya dengan kasar.
“Pokoknya.. pokoknya aku enggak mau tahu lagi!!! Enggak mau tahu lagi!!! Hikhik… ” Lalu Dian Bencis berlari keluar ruangan dengan membanting pintu. Ibu berusaha menanahannya tapi tidak cukup kuat. Ibu mengejarnya keluar. Tinggal aku sendiri. Kenapa tanganku… tiba-tiba begitu keras menamparnya? Kenapa? Baru sekali ini aku menampar orang. Aku berusaha turun dri tempat tidurku, dan dengan mempercepat langkahku yang agak lunglai, aku menuju ke arah pintu, aku dikejutkan oleh ibu yang akan memasuki ruangan.
“Ah!” Aku jatuh terduduk.
“Loh?!”
“Aduh…” Aku memegang pantatku. Rasanya aku jatuh dengan keras tadi. Sakit sekali.
“Ah, maaf, Na.. aduh… Sini ibu bantu berdiri.. ” Ibu memapahku untuk berdiri. “Sakit ya?”
“Agak sih, bu, tapi enggak terlalu sakit. Diannya enggak terkejar?”
“Iya.. larinya kenceng bener.. aduh.. kaki ibu sampe sakit ngejarnya, ibu balik lagi aja kesini.. eh nabrak kamu…”
“Bu, anterin aku lagi bu, ke tempat pemilik foto SD itu..”
“Kamu mau kesana lagi? Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?”
“Sepertinya dia memang ingin agar aku kesana, bu.. Aku punya perasaan begitu..”
Ibu mendesah. “Ya, sudah.. pake kursi roda lagi?”
Aku mengangguk.
–
Lelaki pucat ini cuma diam saja ketika kusapa. Dia menatapku dengan tatapan kosong. Di matanya tidak tergambar sesuatu pun, dia seperti orang bengong.
“Kamu Ariel?”
Tidak ada reaksi.
“Kenapa kamu selipin foto ini di bawah kerah baju?”
Tidak ada reaksi.
“Kamu ingin agar aku yang ngambil foto ini? Kok taruhnya di bawah kerah baju? kenapa kamu ga pegang aja fotonya? Atau taruh di meja?”
Tidak ada reaksi.
“Apa ada orang yang kesini sebelum aku?”
Mata lelaki pucat ini sekarang tertuju ke arahku. Tatapannya kosong.
“Kamu tidak mau cerita atau tidak bisa bercerita? Kemaren dulu kamu dateng ke ruangan rawatku, menghilangkan tanda di tanganku, lalu, seolah kamu mau menyembuhkan aku, sekarang, aku tanya, kamu malah diam saja begini? Maumu apa?”
Dia masih saja menatapku.
“Apa kamu hanya mau menyembuhkan aku saja? Selebihnya harus aku sendiri yang memecahkan masalah ini? Ah!” Aku mulai kesal. Orang ini tidak punya reaksi! “Kamu kenal Faiz kan?” Aku menunjukkan letak Faiz di foto SD. “Kamu yang dirangkul Faiz, kan? Kamu Ariel kan? Kamu juga temen SDku kan?”
Tetap tidak ada reaksi.
“Lalu… siapa Aldi Rasya Purwanto? Anak Sang Guru.. eh bapaknya Faiz kan?”
“Bukan.” Aku agak terkejut mendengar suaranya lagi. Suara yang berat dan terasa menyeramkan. Bulu kudukku berdiri. “Faiz bukanlah anak bapaknya.”
Aku menelan ludah. Antara ngeri dan takut. Aku tahu, Faiz sejak kecil diasuh oleh Sang Guru. Sebenarnya Sang Guru adalah kerabat jauh Faiz, tapi hubungan mereka sudah seperti hubungan bapak dan anak. Orang tua kandung Faiz telah meninggal ketika Faiz masih bayi.
“A..aku tahu itu! Lalu apa yang kamu lakukan selama ini padanya.. dan padaku?!”
Lelaki pucat ini menyeringai! Kurang ajar! Seringainya seperti menandakan kemenangannya! Entah kenapa, aku mempunyai sebuah daya yang besar saat ini untuk menamparnya.
PLAK!
Aku menjadi sangat marah. Tapi orang yang kutampar malah tersenyum. “Kamu tidak pernah berubah, Na..”
Aku geram. Berani betul dia. Tahu apa dia tentang aku?! “Hei, kamu.. Ariel.. tahu apa kamu tentang aku? Kamu sudah membuatku lumpuh! Dan bermimpi dikejar bola yang panas dan batu yang bisa menembus badanku berkali-kali! Kamu sudah membunuh Yudha Prakoso! Kamu sudah membunuh Adelia! Kamu sudah mencelakai aku dan Faiz!”
PLAK! Aku merasakan pipiku panas. Aku mengangkat tanganku, akan kembali menampar lelaki ini. Tapi tangannya dengan cepat menangkap tanganku.
“Sebelum kamu menuduhkan semua hal itu padaku, lihatlah Faiz! Lihat dia! Lihat berkali-kali! Lalu baru kau lihat aku!” Nada penuh kemarahan itu seperti guntur yang menggelegar di telingaku. Suaranya begitu membuat hawa dingin, seperti hawa dingin yang dikeluarkan Tante Febi.
Aku tetap berusaha menamparnya, tapi tanganku yang satu lagi juga malah ikut dipegang kuat-kuat olehnya. Lalu dari matanya keluar sinar oranye yang begitu kuat. Aku menutup mataku rapat-rapat. Aku berteriak keras.
Lalu dalam sekejap, sinar oranyenya hilang. Dan genggaman lelaki pucat ini melemah. “Aku hanya ingin kamu selamat, Na..” Perlahan dia melepaskan genggamannya.
Kutarik tanganku. Aw! Sakit sekali. Biru membekas. Ingin sekali aku memukulnya, tapi kutahan. Sinar oranye tadi sudah cukup untuk membuatku tidak berbuat sembrono lagi.
“Selamat? Setelah apa?! Aku sudah lumpuh, sudah sakit! Selamat bagaimana?! Bahkan Rasya juga kena! Siapa yang kamu selamatkan?! Diri kamu sendiri?! Atau Aurelia???”
Matanya kembali menatapku. Kali ini dengan tatapan tajam. “Kamu. Hanya kamu.” Lalu mendadak dia menutup matanya. Dan kembali dia membaringkan tubuhnya dan tidak bernapas.
Kuguncang-guncangkan badannya. “Hei, bangun! Sekarang kamu tidak boleh pura-pura sakit lagi! Aku sudah tahu! Bangun!” Lalu aku mengangkat tanganku tinggi-tinggi, kembali menampar pipinya berkali-kali.
PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!
Dia tidak bergeming, malah tetap tidak bernapas. Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya, berharap dia bereaksi. “Bangun! BANGUN! Kamu sudah membuatku seperti ini! Bangun! Jangan pura-pura tidur!”
“Na..??!!”
Aku menoleh ke arah pintu. Disitu berdiri Faiz dengan muka keheranan, disampingnya ibu berdiri dengan mengangkat bahu.
—
bersambung..