all my stories

Segitiga 018 (Tirai Terbuka)

Posted by: bojonghealth on: December 9, 2008

“P..paaakk??”

Dengan langkah hati-hati, Faiz menghampiriku yang masih terpana. Kok Faiz datang kesini? Katanya di telepon tadi, dia tidak bisa datang selama dua hari?? Aku menatap mata ibu, tatapan yang penuh dengan pertanyaan. Lagi-lagi ibu mengangkat bahu, dengan gerakan bibir, ibu memberitahu kalau Faiz tiba-tiba datang dan memaksa masuk.

“Kamu ngapain disini?” tanya Faiz dengan berbisik.

“A..aaku.. emm..” Aku memandang tubuh Ariel yang tiba-tiba seperti mayat saja. Aku menarik tanganku dari tubuhnya.

“Kenapa kamu terus mengguncang-guncangkan badannya?”

“Em.. tadi itu.. aku.. e..”

“Hei! Kamu masuk ke kamarnya, tanpa memberitahu aku dulu? Ceroboh sekali!”

“..Ha?”

“Ceroboh! Kamu bodoh! Bagaimana kalau dia menyiksamu lagi dalam mimpi? Dikejar bola api panas lagi? Sekarang kamu sudah bisa berjalan kan… Kalau sampai lumpuh lagi, apa yang bisa kamu lakukan? Kamu benar-benar…”

“CUKUP PAK!”

Aku memotong ucapan Faiz dengan kasar. Faiz memelototiku. Dia marah.

“Kenapa kamu berteriak begitu? Seharusnya..”

“SEHARUSNYA AKU TIDAK PERLU MASUK KE DALAM URUSAN INI TERLALU JAUH!”

“Na!” Ibu memperingatkanku. Dia menaruh telunjuk di atas mulutnya. Aku menelan ludah, lalu melihat wajah Ariel.

“Pak.. aku ingin bertemu dengan Aurelia.. “

“Apa?!”

“Pokoknya aku ingin ketemu dengan Aurelia lagi. Itu saja!” Aku menatap Faiz dengan tajam. Faiz masih marah dan aku merasa dia makin marah ketika kuutarakan kemauanku. Biarlah, pokoknya sekarang keinginanku sudah bulat.

Faiz menghampiriku. “Kamu mau melakukan apa?” Faiz memicingkan matanya. “Jangan ceroboh!”

“Aku tidak ceroboh, Pak. Sudahlah, aku tahu semuanya! Dia yang cerita padaku.” Aku menunjuk Ariel. Faiz memperhatikan Ariel.

“Dia sama sekali tidak bergerak. Kamu bohong.”

“Na bener kok. Orang itu bisa bergerak, bicara.. Tadi ibu sempet ngintip ke dalam.” potong ibu. Ibu menghampiriku.

Faiz menatap ibu keheranan. “Benar begitu, Bu?”

Ibu mengangguk mantap. “Kalau sekarang Na mau ketemu sama yang namanya Aurelia itu, pertemukan mereka, biar Na enggak kena bahaya lagi.”

Faiz memandang tubuh Ariel dengan curiga. Dia menghampiri tubuh kaku Ariel. Dia memeriksa denyut nadi dan jantung Ariel. Lalu menggumam. Aku tidak terlalu dengar gumamannya.

“Pokoknya aku mau ketemu Aurelia, Pak.” kataku mantap.

Faiz seolah tidak peduli, lalu tanpa kuduga, dia mengeluarkan sesuatu yang kukenal baik dari kantong celananya. Itu kan… benda bulat bersinar milikku! Bagaimana bisa?

“Kamu mau ini kan? Ambil! Bangun dan ambil!” perintah Faiz pada Ariel. Tapi Ariel tetap diam, tubuhnya tidak bergerak. Aku memegang tangan ibu, perasaanku jadi tidak enak.

“Nak Faiz, sebaiknya kita keluar.” usul ibu. Tapi Faiz tidak menghiraukannya. Dia malah makin keras, hampir berteriak pada Ariel.

“Ini kan yang kamu inginkan? Agar kamu sembuh?!” Tetap saja Ariel tidak bereaksi.

“Na, sebaiknya kita keluar saja. Ibu lihat, Faiz sudah marah sekali. Mungkin gara-gara kamu tahu semuanya, dia jadi marah..” bisik ibu. Aku menelan ludah. Aku ingin mengambil benda bulat berisinar itu, itu kan punyaku, kenapa bisa ada di tangan Faiz? Tapi, baiklah, aku keluar saja.

“INI KAN YANG KAMU INGINKAN???” Teriak Faiz. Aku dan ibu buru-buru keluar ruangan. AKu sempat menoleh kebelakang sebelum pintunya ditutup oleh ibu. Pemandangannya menjadi sangat berbeda! Aku melihat sekilas Ariel terbangun dia mencengkeram kuat tangan Faiz dan dengan mulut menyeringai, dia mengeluarkan cairan hijau dari tangannya ke dalam tangan Faiz. Benda bulat bersinar itu jatuh dari tangan Faiz, dan.. anehnya.. benda bulat itu pecah!!

Aku dan ibu ada dalam ruanganku sekarang.

“Jam besuk sepertinya mau habis sebentar lagi. Ibu pulang dulu, kamu enggak apa-apa disini sendiri?”

Aku menggeleng. Biarlah sekarang sendiri atau ramai juga tidak masalah. Aku merasa sudah mengetahui segalanya. Aku sudah tahu. Aku mengambil buku bergambar Rasya dari laci. Aku membalik-balik halamannya. Rasya.. anak itu pintar sekali… Dia membuatku bisa memecahkan misteri ini. Andai dia ada disini.

Pertama, gambarku, wajahku. Dari sejak awal, aku adalah korbannya, aku tahu itu. Aku tidak pernah berurusan dengan Aurelia, Adelia, atau Ariel.. atau .. Aldi Rasya Purwanto.. yang aku tahu, aku rasanya bisa mempertahankan dan membela diriku sendiri sekarang. Aku mengingat-ingat, awal dari semua kejadian ini bermula.

Aurelia menemuiku untuk sekedar berbicara tentang hal yang tidak masuk akal menurutku waktu itu. Lalu aku diseret Faiz untuk bicara dengan kembarannya. Adelia. Aku rasa saat itu mereka cuma ingin mengetahui kekuatanku saja. Dan parahnya Faiz waktu itu tidak mengatakan apapun padaku tentang mereka, padahal seharusnya Faiz kan sudah tahu, ya.. pasti dari sejak awal Faiz sudah tahu, gerak-geriknya mencurigakan akhir-akhir ini. Hebat sekali Faiz berpura-pura waktu itu.

Dan saat berhadapan dengan Adelia itu lah aku pertama kali menyebut kata “segitiga’. Saat itu apakah dia berpura-pura terkejut, atau terkejut beneran? Entahlah. Dan malamnya ketika Faiz menelepon, dia juga sepertinya terkejut, ketika kusebut kata ’segitiga’ itu. Dan Aurelia.. atau saat itu Adelia bunuh diri.. atau dibunuh.. Esoknya Faiz juga berpura-pura berdiskusi denganku di ruang kerjanya soal segitiga. Dan dengan bodohnya aku tertipu, aku memberitahu, Aurelia menunjuk seseorang, memperlihatkan foto janin.. Janin.. Sampai sekarang aku tidak tahu maksudnya, mungkin benar atau bisa saja bohong.

Lalu dia mengalihkan perhatian ke arah piramid. kuburan Aurelia, dan ungkapan kata ‘tiga’. Dia terus-terusan ingin berusaha menyelidiki sesuatu. Apa saat itu dia masih merasa ada sesuatu yang tersembunyi di kuburan itu? Ah, sayangnya aku belum bisa pergi kesana, kakiku belumlah bisa berjalan lancar. Huh!

Dengan gampangnya lagi, Faiz menyetirku untuk bertemu Yudha. Ah, ya! Mungkin dia pikir, sesuatu yang tersembunyi itu ada pada Yudha! Ya! Pasti begitu! Karena setelah dari kuburan, aku dan Faiz bergegas menemui Yudha, dan aku percaya saja soal jus jeruk itu, bodohnya aku!

Saat itu.. sebelum kami pergi dari ruangan Yudha.. ah.. aku lihat sebuah cahaya! Sebersit sinar! Ya! Sinar oranye! Kenapa aku baru ingat sekarang? Kalau benar apa yang dikatakan Ariel, dia ingin menyelamatkan aku, dari sejak awal pasti dia berusaha memperingatkanku, melalui pandanganku.. ya.. Ah! Bodoh! Aku bahkan tidak sadar waktu itu! Ternyata kilatan sinar oranye yang pertama kali kulihat bukanlah di kuburan dengan nisan yang tidak bernama itu, tapi di ruang kantor Yudha. Dan terakhir aku bertemu dengan Yudha, dia sudah sangat kacau. Lalu.. dia juga sudah tewas…

Ah.. kepalaku mulai berdenyut. pantas saja sepulang dari kantor Yudha, Faiz merasa kecewa, mungkin dia tidak menemukan apapun. Apa ya kira-kira yang dia cari.. Uh… Lalu waktu aku bertemu Sang Guru setelahnya, kenapa dia bilang Aurelia itu punya keterbelakangan mental? Kenapa beliau bilang kembar ketiga sudah mati? Apa Sang Guru tidak tahu kalau ternyata dia masih hidup? Apa mungkin… aarggghhh!!! Kepalaku makin pusing jadinya.

Faiz terus menerus memaksaku untuk menguraikan kembali pertemuanku dengan Aurelia dan Adelia. Saat itu aku tidak tahu apa-apa, harusnya kan aku mulai curiga, hah! Payah!

Dan..emm… Oh iya! Pak Yatno! Faiz terlihat begitu marah saat melihat Pak Yatno di kuburan keluarga Aurelia itu! Kalau tidak salah.. Faiz kan.. bilang..ah… Sepertinya Faiz pernah bertemu dengan Pak Yatno sebelumnya. Dimana? Apakah di makam keluarga Aurelia juga? Atau dimana? Pak Yatno bisa membaca isi hati orang lain, mungkin dia juga bisa membaca isi hati Faiz! Mungkin saat itu dia sudah tahu.

Di depan kuburan dengan nisan yang tidak bernama Faiz melemparkan sesuatu, sesuatu.. benda bulat yang bersinar.. Aku kembali mendesah. Ternyata benda yang begitu indah bisa membawa petaka. Aku tidak mau lagi mengingat-ingatnya. Apalagi benda itu sekarang lagi-lagi ada di tangan Faiz.

Setelah melihat sinar oranye dari mata Rasya, aku mulai bermimpi dikejar oleh bola api yang panas dan batu yang bisa menembus apapun didepannya. Mimpi yang sangat melelahkan. Aku merinding. Aku tidak mau lagi mimpi yang semacam itu! Bulu kudukku merinding. Jangan sampai terulang lagi.

Tapi sayangnya, aku terlalu takut untuk melawan. Takut untuk melawan, karena aku tak punya keberanian. Lagipula bola api itu begitu panas dan batu bercahaya itu juga begitu membuat jantungku berderu kencang. Mengerikan!

Lalu ada Dian Bencis. Orang yang ‘disuruh’ Faiz. Apa benar begitu? Atau…? Atau dia punya tujuan sendiri? Apa? Dia menawarkan semacam kapsul pada ibu. Obat Dewi. Mungkin dari awal dia sudah tahu aku akan mengalami kelumpuhan. KapsulĀ  yang membuatku bisa terbang. melayang. Dian pasti tukang bohong, dan yang dia katakan kemarin juga pasti bohong. Grrrr!! Biar kusunat dia nanti!

Dan Faiz juga menyeret-nyeret Tante Febi. Apa dia melakukan sesuatu padaku waktu itu? Aku juga tidak menghubungi Tante Febi. Mungkinkah dia sudah tahu? Dia sudah tahu ada yang disembunyikan oleh Faiz? Dan.. em… Tante Febi bukanlah orang yang suka menjahati orang lain.. apa mungkin dia tidak mau ikut campur lagi? Faiz bilang bahwa Tante Febi melihat semuanya yang kualami didalam mimpiku. Refleksi dari diriku.. Refleksi? Ah, mudah-mudahan dia tidak mengalami sesuatu yang buruk seperti yang dialami Sang Guru. Lebih baik dia tidak usah ikut campur. Dia orang baik, seharunya mendapatkan perlakuan yang baik pula. Kuharap Faiz tidak bertindak egois.

Setelah Tante Febi datang,… ah ya! Aku bermimpi lagi, tapi kali ini aku memberanikan diri. Tidak terlalu takut seperti pertama kali aku bermimpi bola api dan batu bersinar itu. Entahlah, mungkin kedatangan Tante Febi itu membuat keberanianku sedikit muncul. Terima kasih Tante..

Aku melihat punggung tanganku. Tanda itu sudah lenyap. Tanda segitiga hitam. Di kuburan dengan nisan yang tidak bernama aku juga pernah melihat jelas tanda segitiga besar. Lalu kenapa di tanganku juga ada tanda itu? Apa tanda itu mengisyaratkan sesuatu? Sesuatu… yang ada padaku? Yang hanya ada.. padaku? Benda bulat bersinar??? Apa benda itu? Lalu kenapa di tangan Faiz terdapat tanda bulaan merah besar? Em… Bola api? Mataku terbelalak. Bola api??? Bola api dalam mimpiku, yang membuatku terlempar berkali-kali, merasakan panas yang luar biasa berkali-kali, yang membuat seluruh tubuhku remuk….?? Kekuatan Faiz kah itu? Kenapa dia melakukan itu padaku, melalui mimpi? Dan dia malah menyalahkan kembar ketiga, karena mengacaukan mimpinya.. Jangan-jangan… semua ini betul-betul karena Faiz?

Tapi.. Aurelia dan Adelia juga mempunyai tanda itu, di punggung tangan mereka. Walau agak berbeda sedikit. Aurelia memiliki tanda bulatan merah yang didalamnya segitiga hitam, sedangkan Adelia sebaliknya, tanda segitiga hitam didalamnya bulatan merah. Tunggu.. tanda-tanda itu.. pasti menunjukkan sesuatu.. Benda bulat bersinar milikku itu… apakah ada sesuatu didalamnya…

Dadaku sesak. Rasanya aku baru memecahkan sebuah misteri. Misteri benda bulat bersinar yang Sang Guru hadiahkan padaku. Misteri nama Aldi Rasya Purwanto. Misteri obsesi Aurelia dan Ariel. Dan satu lagi, misteri masa lalu Sang Guru.