Posted by: bojonghealth on: January 16, 2009
Bertemu dengan sahabat lama tentu sangat menyenangkan. Begitu pula aku, aku dan sahabat lamaku, Resti, kami janjian bertemu di salah satu kafe di bilangan Depok. Resti adalah sahabatku sejak SD. Dulu aku selalu ngintilin kemanapun Resti pergi. Maklum, selain supel, Resti juga cantik, dia memiliki banyak fans. Walaupun masih SD, Resti sudah menunjukkan aura kecantikannya. Resti juga ramah dan baik padaku, aku jadi senang, karena aku orang yang introvert, jadi aku tidak terlalu punya banyak teman atau sahabat, aku beruntung bisa bersahabat dengannya. Lagipula Resti juga pernah mengatakan kalau dia sangat senang bisa bersahabat denganku.
Ketika SMP, Resti dan aku harus berpisah, Resti masuk SMP favorit sedangkan aku hanya masuk SMP biasa yang malah baru berdiri setahun sebelumnya. Walau beda sekolah, aku masih sering main ke rumahnya, yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumahku, disana aku banyak menanyakan tentang soal-soal pelajaran yang menurutku sulit untuk dipecahkan atau sekedar ngobrol tentang gebetanku. Begitu juga sebaliknya, Resti malah terkadang menginap di rumahku.
Hubungan persahabatanku dengan Resti mengalami ujian berat ketika Resti harus pindah rumah. Dia harus pindah ke Pontianak ikut orang tuanya. Aku sangat sedih waktu itu. Itu terjadi ketika kami duduk di bangku kelas satu SMA. Akhirnya kami hanya bisa saling berkirim surat, atau saling telepon walaupun hanya sebentar karena tarif telepon antar pulau mahal atau lebih seringnya sih kami saling berkirim sms. Di sms terakhir, Resti bilang dia akan ke Jakarta dan dia ingin menemuiku, jadi aku sarankan saja bertemu di kafe daerah Depok. Kata orang sih kafe itu selain makanannya enak, suasananya juga cozy, dan pastinya tidak terlalu penuh.
Sekarang aku siap bertemu dengan sahabat lamaku. Aduh senang sekali rasanya! Kira-kira apa ya yang akan kami bicarakan nanti? Oh iya, mungkin tentang pelajaran, atau emm.. atau mungkin tentang pacar.. ya.. Resti pasti sudah punya pacar. Dia kan cantik, pasti pacarnya juga ganteng. Atau mungkin juga nanti dia cerita tentang pengalamannya tinggal di daerah yang sama sekali dia tidak pernah tahu sebelumnya. Di Pontianak sana, pasti banyak suku Dayaknya, mungkin dia akan cerita itu. Atau bisa saja kami flashback ke masa-masa SD dan SMP dulu. Ah, aku sudah tidak sabar!
Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tidak terasa sudah dua jam aku menunggu. Kemana ya Resti? Ah, jangan-jangan dia nyasar? Tadi aku telepon ke hapenya, nomornya sedang tidak aktif. Aku coba telepon lagi deh! Jari-jariku menekan tombol-tombol angka, dan dari seberang suara, tidak ada nada, lalu terdengar suara komputer. Huh, nomornya masih tidak aktif! Kemana ya Resti?
Dudukku sekarang mulai tidak nyaman. Hari sudah semakin gelap. Tampaknya diluar mendung. Huh, Resti pergi kemana sih? Tidak seharusnya dia terlambat di hari pertama kami bertemu lagi setelah sekian lama. Huh! Aku jadi kesal. Jus alpukat dihadapanku sudah habis dua gelas. Dan aku belum makan malam! Apa sebaiknya aku makan dulu ya? Ya sudahlah aku makan saja dulu. Aku memanggil waiter lalu memesan nasi bumbu bali plus dada ayam goreng seporsi besar. Sepertinya sih menu itu enak, kalau dilihat dari gambar di buku menunya. Mas waiternya bilang aku harus menunggu beberapa menit sampai pesanan datang. Aku sih tidak apa-apa. Aku mengerti, kafe ini walaupun cozy dan makanannya enak, tapi pesanannya agak lama dihidangkan, itu sudah jadi rahasia umum. Tapi tetap saja pelanggan kafe ini bukannya malah berkurang, tapi malah makin bertambah, kebanyakan sih remaja dan anak kulilahan.
Sambil menunggu, dari tadi aku terus memperhatikan jalan masuk kafe. Mencari-cari wajah Resti. Mungkin saja nanti dia masuk dengan terburu-buru lalu dia tidak melihatku. Harusnya ketika masuk kafe, dia langsung melihatku, soalnya aku duduk di bagian yang mudah terlihat olehnya, tidak jauh dari pintu masuk. Yang masuk dari tadi kebanyakan rombongan, bukan perorangan. Huh.. kemana sih Resti? Hampir setengah delapan, dan aku sudah pegal duduk menunggu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk keluar kafe sebentar, mungkin Resti sedang memarkirkan kendaraannya, atau dia sedang celingukan mencari tempat kafenya. Di Depok ada banyak tempat makan, dan letaknya berdekatan, bersebelahan malah!
Wah ternyata mendungnya sudah makin tebal! Dingin sekali di luar kafe. Hembusan anginnya begitu menusuk, membuat perasaan jadi tidak enak. Orang-orang yang akan masuk kafe mempercepat langkahnya memasuki kafe, dan orang yang baru keluar kafe buru-buru mengendarai kendaraan mereka. Pikiran mereka pasti sama dengan pikiranku, kalau sebentar lagi pasti hujan, hujan yang sangat deras. Tunggu, hujan deras? Aku merasa ada sesuatu yang kulupakan tentang hujan yang deras. Eh apa ya? Payung? Aku kan sudah memasukkan payung dalam tas tadi. Jaket? Tadi juga sudah kumasukkan ke dalam tas. hujan? Ah, itu kan tidak terlalu perlu, kan sudah ada payung. Lalu apa ya? Aku melihat begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang di depan kafe. Kenapa macet sekali hari ini? Oh, mungkin orang-orang terburu-buru untuk sampai di tujuan, karena pikir mereka sebentar lagi hujan. Apa ya yang kulupa? Ah, kenapa aku jadi pelupa begini? Ah sudahlah, mungkin nanti bisa inget sendiri.
Aku kembali mencari-cari wajah Resti diluar kafe. Tidak ada. Oh, mungkin dijalan, diantara para pengendara mobil dan motor itu? Ah, mana bisa? Wajah mereka tertutup helm dan terhalang kaca mobil yang agak gelap itu. Aku mencibir. Mungkin di halte seberang? Emm.. tidak ada! Atau mungkin di gerombolan orang yang sedang menunggu bis disana? Mataku menyipit. Tidak ada juga. Aku mendesah. Dimana dia ya? Kucoba meneleponnya lagi. Masih tidak aktif! Bagaimana ini? Kalau begini bisa batal dong rencana bertemunya? Perasaanku juga jadi tidak enak. Wah, mulai gerimis! Aku buru-buru masuk ke dalam kafe. Dan betapa kagetnya aku, melihat seorang waiter dan seorang pria berdasi berdiri di samping meja tempatku tadi.
“Em.. Maaf, mas.. Ini tempat saya, ada apa ya?” tanyaku pada keduanya. Kulihat mas waiter dan pria berdasi itu heran melihatku.
“Mbak tadi yang duduk disini?” tanya pria berdasi. Aku mengangguk.
“Em.. Mbak yang pesen nasi bumbu bali ayam goreng?” tanya mas waiter. Aku mengangguk lagi.
“Memangnya ada apa? Kok mas-mas nanyain itu?” tanyaku.
“Maaf, mbak, Tadi pesanan mbak sudah datang. Waiter ini yang mengantarkannya kesini, tapi ternyata disini sudah tidak ada orangnya, makanya dia kembali ke dapur dan bertanya pada waiter yang menerima pesanan mbak. Parahnya waiter tersebut tadi ijin pulang, jadi kami tidak tahu sebenarnya apa mbak memesan itu atau tidak.” jawab pria berdasi panjang lebar.
“Ah, maaf sekali, mas berdua… tadi saya keluar sebentar, cari temen saya, jadi.. maaf, ini keteledoran saya..” Aku jadi tidak enak hati. Wajah mas waiter dan pria berdasi sedikit terlihat lega.
“Oh, kami kira mbak sudah pergi dari sini, atau pindah ke meja lain, soalnya mbak tidak memberitahukan sebelumnya.” ujar pria berdasi.
“Enggak, kok, mas. Saya yang slah, jadi sekarang bagaimana? Apa saya harus pesan ulang menunya lagi?” tanyaku. Wah jangan sampai pesan ulang dong, bisa rugi nih.
“Tidak usah, mbak, untungnya menu yang mbak pesen tadi masih ada dan belum diapa-apain, nanti saya suruh waiter ini yang mengantarkan ke mbak ya.” Pria berdasi itu menunjuk mas waiter di sebelahnya. Aku mengangguk, sambil salah tingkah. “Kalau begitu, kami permisi dulu ya, mbak. Silahkan menikmati kafe kami kembali.” Ujar pria berdasi itu lagi. Lalu mas waiter dan pria berdasi berlalu dari hadapanku. Bodohnya aku! Meninggalkan tempat duduk begitu saja, padahal sudah pesan menu! Tapi kan karena ingin mencari Resti, berarti semua ini gara-gara Resti. Huh, aku jadi kesal sekali padanya. Janji bertemu, tapi kok sampai sekarang belum muncul juga. Hah? Sudah jam delapan?! Ya Tuhan! Kemana sih dia?
Pesananku datang. Wah, untunglah masih hangat. Aku menghirup aromanya, mmm.. nikmat sekali. Biarlah aku makan duluan saja, nanti aku bilang ke Resti, perutku tidak bisa lagi menunggu untuk diisi, lagipula salahnya sendiri datang terlambat. Aku memakan hidangan nasi bumbu bali dan ayam gorengnya dengan lahap. Nikmat sekali! Andai Resti disini, dia pasti terpingkal-pingkal melihat cara makanku, dan dia pasti akan berkomentar,”Icha, kamu kok makannya kayak kuli sih?”
Aduh aku tersedak! Ah, aku lupa belum pesan minum! Ah tapi tidak apa, jus alpukatnya masih sisa sedikit, yah lumayanlah untuk menghilangkan tersedaknya. Tapi untuk menghindari tersedak lagi, aku memesan ice tea. Saat ice tea datang, makananku sudah ludes. Benar-benar seperti kuli ya. Aku kembali mendesah. Resti, kamu dimana sih?
Gerimis di luar sepertinya sudah berubah menjadi hujan deras. Bagaimana ini? Resti pasti kehujanan. Kasihan dia, kuharap dia tidak kehujanan waktu sampai disini nanti. Eh? Sepertinya Resti pernah kehujanan ketika sampai disini dulu. Ah, benar tidak ya? Kok aku seperti orang linglung begini ya?
“Icha..” Suara yang sangat kukenal menyapaku.
“Papa? Ngapain papa disini?” Aku heran betul, kok bisa ada papa disini? Aku tidak melihat dia datang. Papa duduk dihadapanku dengan wajah yang menurutku sangat aneh. Perasaanku mulai tidak enak.
“Icha, kita pulang yuk, Nak.” ajak papa lembut. Wajahnya sayu, sepertinya dia akan menangis. Kenapa wajah papa begitu sedih? Tangannya memegang pundakku.
“Enggak ah, pa. Aku mau nungguin Resti dulu disini. Kami janjian ketemu hari ini…”
“Nak, sudahlah, ayo kita pulang. Mama di rumah cemas menunggu..”
“Pa, aku masih mau nungguin Resti. Dia.. kami janjian disini..”
“Resti tidak akan datang sayang.. sudah, kita pulang yuk.” Papa berdiri. Dia dengan sedikit memaksa menarik tanganku untuk beranjak pergi dari situ.
Aku menepis tangan papa. “Pa, kan tadi aku udah bilang, mau nunggu Resti. Uh, papa gimana sih?”
Lalu aku tak percaya, papa benar-benar menangis. “Sayang, lebih baik kita pulang, ya. Apa kamu mau menunggu terus disini sedangkan papa sudah menangis begini?”
Aku bingung. Papa kenapa? Kenapa dia menangis? Ah sebelumnya juga dia pernah menangis seperti ini, kapan ya? Rasanya baru kemarin? Atau kemarin lusa?
“Ayo sayang. Kita pulang, ya.” Papa menuntunku. Aku ikut saja. Heran, rasanya situasi ini pernah kualami sebelumnya.
Ketika sampai di depan pintu kafe, aku menepis tangan papa lagi. “Pa, aku mau nungguin Resti dulu, pa. Di kafe ini. Sebentaaaaarr lagi. Ya? Sebentar lagi dia pasti akan datang… Ya, Pa?”
Papa menggeleng sedih. Lalu dia berbisik di telingaku. “Nak, Resti sudah meninggal enam bulan lalu, dia tewas tertabrak mobil di depan kafe ini, dan kamu kebetulan melihatnya. Resti sudah tenang di alam sana, jangan tunggu dia lagi ya sayang..”
Jantungku berdebar kencang. Kepalaku tiba-tiba menjadi sangat pusing. “Bohong! Papa bohong! Resti tidak meninggal! Resti masih hidup! Dia mau ketemu sama aku, Pa, disini, di kafe ini!”
Papa memelukku kuat-kuat. Aku mengamuk. Aku memukul dada papa berkali-kali. Aku tidak peduli menjadi tontonan orang-orang didalam dan luar kafe. Mereka mengira aku gila, mereka menertawaiku, mereka kasihan padaku, aku tidak peduli! Papa bohong! Papa bohong! Resti masih hidup! Masih hidup! Papa bohong!
“Sudah ya, kita pulang, mama menunggu.” ujar papa. Aku menjerit sekuatnya. Tidak! Bohong! Resti kan masih hidup! Dia masih menuju kesini untuk menemuiku! Papa bohong!
“Papa bohong! Bohong!” Air mata deras mengalir di pipiku. Papa memayungiku. Kami berjalan ke arah tempat mobil papa diparkir. Walaupun aku masih sedikit enggan meninggalkan kafe itu. Hujan deras mengguyur. Hujan deras? Ya, hujan deras.
Ah, aku ingat! Saat itu juga hujan deras, saat aku melihat Resti menyeberang jalan, dia melambaikan tangannya padaku, dia tersenyum, senyum yang kurindukan dari seorang sahabat lama, dia memakai baby doll yang lucu dan legging putih, dia memegang payung merah di tangan kanannya, sementara tangan kirinya menenteng tas coklat yang bagus. Saat itu dia cantik sekali, semua mata melihatnya. Lalu dalam sekejap, sebuah mobil Kijang melaju kencang, menabrak tubuhnya, membuat Resti, sahabat lamaku yang telah lama tidak kutemui, terpental beberapa meter. Sementara Resti tergolek tidak berdaya, mobil Kijang sialan itu pergi begitu saja. Aku berteriak. Berteriak panik. Hujan deras membasuh tubuh Resti dengan begitu banyak darah. Legging putihnya berubah warna menjadi merah, payungnya patah. Aku berlari menuju ke arahnya di tengah hujan deras yang membasahi seluruh pakainku. Angin dingin tiba-tiba bertiup sangat kencang. Semua orang berusaha menolong Resti yang tidak bergerak. Tidak! Tidak boleh! Hujan deras ini tidak boleh membawa petaka pada Resti! Tidak boleh! Resti pasti akan baik-baik saja! Dia akan bangun lalu tersenyum padaku dan mengatakan ini semua hanya ilusi. Tapi hujan deras ini yang membuatku termangu didepan tubuh Resti. Dia pergi. Orang-orang berkata dan berteriak tabrak lari, tabrak lari. Tidak! Hujan deras saat itu mengambil Resti. Hujan deras saat itu membawa Resti, sahabat lamaku pergi untuk selamanya. (lisdaiii)