Posted by: bojonghealth on: February 6, 2009
“Apaaa kabar, Nong!”
“Ih, masih aja manggil aku begitu!”
“Hehehe.. iya dong! Aduh.. kepalamu masih saja jenong seperti dulu!”
“Hei, jangan usap-usap sembarangan!”
“Ahahahaha!”
Aku bertemu dengan Ari setelah sekitar 5 tahun tidak bertemu. Ari adalah sepupuku dari pihak ibu. Dia juga teman masa kecilku, dia juga kenal dengan Faiz, kami sering bermain bersama dulu.
“Hah.. Udah nunggu lama ya?” Ari mulai menyalakan rokok.
“Ehm.. udah sejam aku nunggu disini.”
“Ah ya? Ahahaha! Maaf! Loh jangan cemberut dulu dong. Aku kan kurang tahu Jakarta sekarang. Jadi nyasar deh..”
Aku manyun. “Makanya, tanya orang kek kalau tersesat, jangan sok tahu begitu.”
“Ahahaha! Ari sih pasti enggak akan nyasar! Kan aku punya ini..” Ari menunjuk dahinya. “Aku punya insting yang kuat!”
Aku mencibir.
“Eh, enggak percaya? Kemarin waktu aku jalan-jalan sendirian di situs Majapahit, ke Candi-candinya, sendirian loh! Beruntung aku kenal sama Parto, dia mau saja jadi tukang antar kesana-sini.”
“Pasti yang namanya Parto itu enggak dibayar.”
“Aku bayar kok, aku kasih koleksi kaos Spawnku sama dia. Wah tadinya dia nolak, maunya mentahnya aja, lah aku bilangin begini, dik, baju ini termasuk baju koleksi langka loh, kalau ada bule kesini, bisa kamu jual dengan harga tinggi ke dia, pake dolar!”
Aku mengangkat sebelah alisku. “Trus, dia mau?”
“Mau! Terus dia anterin aku deh pake motornya. Wah senengnyaaaaa!!”
Aku menggelengkan kepalaku. Ari tetap tidak berubah. Dari dulu dia ingin sekali berkeliling dunia, minimal keliling Indonesia, katanya. Padahal aku tahu, dari dulu keuangannya pas-pasan. Karena dia terlalu pede, jadilah dia benar-benar bisa keliling Indonesia, tapi dengan caranya sendiri tentunya. Terakhir dia mengunjungi situs Majapahit di Trowulan, Jawa Timur. Dengan budget yang sangat minim tentunya.
“Wah.. mereka membangun bangunannya dengan bata merah yang bagus, Nong! Gatel banget tanganku liatnya, pengen ambil satu. Ah tapi enggak lah, kasihan yang bangun, kalau aku curi.”
Aku geleng-geleng kepala.
“Habis ini aku mau pergi ke Kamboja! Mau beli oleh-oleh disana.”
“Memangnya ada uangnya kesana?”
Ari nyengir. “Ada dong!”
Aku mengangkat alis lagi.
“Denger ya, aku dapet lukisan kuno dari jaman dinasti Ming 3 bulan lalu. Lukisan itu aku jual ke kenalanku di Tokyo, dengan harga yang murah, wah dia langsung beli! Uangnya itu yang akan kupakai ke Kamboja!”
“Pasti lukisannya palsu, ya?”
“Eits! Asli ini sih! 100% asli! Aku kan dapetnya dari orang yang kupercaya sejak lama, dari mantanmu itu loh!”
“Faiz?” Aku kaget. Faiz punya lukisan kuno?
“Iya! Lah kamu enggak tahu? Dia bilang itu kado dari temen deketnya waktu SD.. atau waktu SMP begitu… “
“Wah.. aku enggak tahu itu, Ri..” Agak aneh juga Faiz mempunyai barang sebegitu kunonya, dia kan bukan pengagum barang-barang yang berhubungan dengan seni.
“Ah, enggak tahu lah… Yang penting aku dihadiahi lukisan itu.. Langsung kepikiran Kamboja… Ahahaha!”
“Emangnya Faiz kasih lukisannya kapan? Kok baru-baru sekarang kepikiran ke Kambojanya?”
“Emm… kapan ya? Kalau enggak salah setahun lalu.. Setelah dari resepsinya Ota… Emang kenapa sih?”
“Setahun lalu? Mmm.. gitu ya?”
“Iya, emangnya kenapa Nong? Eh iya, denger-denger kamu lagi sebel ya sama Faiz?”
“Ha? Sebel? Enggak kenapa-kenapa.. cuma.. ya.. heran aja, kok Faiz bisa kasih ke kamu lukisan yang kuno begitu..”
Ari mengangkat bahu. “Berarti bener ya, Nong? Kamu lagi sebel banget sama Faiz?”
“Ih.. apaan sih.. sebel gimana? Orang tiap bulan ketemu kok, kan dia suka ajak jalan-jalan Rasya.. dan biasanya aku ikut.”
“Bohong ah!”
“Ih.. enggak percaya..”
“Orang aku telepon ke rumah sebelum aku ketemu kamu disini, dan disana ada Faiz. Faiz yang angkat, kebetulan ibu kamu enggak ada.. Faiz bilangnya kalian enggak saling ngobrol 7 bulan?”
Aku mengangkat bahu. “Udah ah enggak usah omongin itu. Lagian aku ketemu sama kamu kan buat omongin oleh-oleh yang kamu bawa dari hasil mengunjungi candi-candi itu kemaren… Mana?”
Ari geleng-geleng kepala. Dia mengambil sesuatu dari tasnya sambil menggumamkan sesuatu. Karena aku duduk diseberangnya, aku jadi tidak terlalu bisa melongok isi tasnya, tapi sekilas tadi aku lihat dia membawa panci kecil. Buat apa sih barang begitu dia bawa?
“Ah ini dia!” Ari mengeluarkan sebuah kotak kayu penuh ukiran berukuran kecil. Dia memberikannya padaku.
Aku mengamati benda yang dia berikan dengan kening berkerut. Bentuknya persegi empat, persis seperti tempat menaruh cincin, hanya yang ini dibuat dari kayu. Ukirannya cantik sekali, ada bentuk kepala seorang perempuan cantik, mungkin gambaran Dewi jaman Majapahit, dan dikelilingi bulatan-bulatan. Dan ukiran itu terdapat disemua sisi kotak, kecuali dibagian bawahnya. Hanya ada lambang segitiga. Serentak darahku berdesir.
“Ayo, Nong, buka. Pasti kamu enggak nyangka apa isinya. Eh, kok muka kamu kayak habis lihat hantu sih?”
Aku langsung tersadar, tidak mungkin Ari tahu soal Aurelia, kembar ketiga, Sang Guru dan Faiz. Dia kan enggak punya kemampuan spesial apapun.
“Nong? Kok jadi melototin aku? Ayo buka dong!”
Dengan menelan ludah, aku membuka kotak itu. Didalamnya terdapat sebuah benda yang sangat kukenal. Hadiah perkawinan dari Sang Guru, benda bulat yang bersinar. Tiba-tiba aku merasakan kepalaku pusing. Dan aku merasa seluruh badanku dijatuhkan ke lantai oleh sesuatu, lalu setelah itu gelap.
bersambung..