all my stories

Segitiga 020 (Ari?)

Posted by: bojonghealth on: March 17, 2009

“Ma?? Mama??”

Sayup terdengar suara Rasya. Mataku berat sekali untuk dibuka. Dan.. auw! Kepala belakangku sakit sekali!

“Ma? Neeeekk! Nenek! Mama udah bangun!”

Terdengar suara langkah terburu-buru mendekat.

“Na? Na?”

“I.. Ibu??”

Lalu tercium bau minyak tawon. Walau pandanganku masih buram, aku bisa merasakan kehadiran ibu dan Rasya. Mereka memanggil namaku terus. Aku ingin membalas, tapi kok rasanya teggorokanku kering sekali.

Ibu membetulkan posisiku, dia membantuku untuk duduk. Ditaruhnya bantal dengan posisi berdiri di ujung tempat tidur.

“Enakan?”

Aku mengangguk. Aduh kepala bagian belakangku sakit sekali.

“Ma? Mama enakan?”

Aku mengangguk ke arah Rasya. Aku mengusap kepalanya dengan tanganku yang satunya.

“Kepalanya jangan dipegang terus, Na. Udah biarin aja. Nanti malah nyeri diteken-teken begitu.”

“Sakit banget, Bu..”

“Yah.. gimana enggak sakit, orang kamu pingsan, trus kepala belakang kamu kepentok ujung meja.. Buru-buru deh Ari bawa kamu ke klinik, abis kamu enggak sadar-sadar.”

Aku meraba bagian belakang kepalaku. Benjol besar.

“Sampe-sampe Ari mengira kamu tidur loh.”

“Mama benjol ya?”

“Iya, Nak.. mama benjol nih, sakit banget.”

“Makanya mama hati-hati.”

“Iya, hati-hati. Kenapa kamu bisa sampe pingsan tadi? Ari panik loh!”

“Oh.. iya, Ari mana,Bu? Udah pulang ya?”

“Iya,abis nganterin kamu kesini, dia langsung pergi. Katanya mau ke workshopnya, mo ngerjain apa ya tadi…?”

“Mau buat skulptul!”

“Hm? Skulptul? Apa tuh Rasya?”

Rasya mengangkat bahu. Dia duduk disisi tempat tidur. Kepalanya direbahkan di kedua pahaku.

“Skuptur apa ya kalau ibu enggak salah dengar tadi. Oh iya tadi Ari kasih ini ke kamu.”

Ibu memberiku kotak itu lagi, yang membuatku pingsan karena melihat isinya. Aku malas menerimanya.

“Tolong taruh di laci riasku aja, Bu.”

“Loh? Memangnya apa ini? Ibu buka ya. Ukirannya bagus. Loh? Ini? Ini seperti punyamu, kan?”

Aku mendesah. Kuusap rambut Rasya. Dia bernyanyi-nyanyi kecil. Lagu yang sering dinyanyikan di kelasnya.

“Kok Ari bisa kasih kamu benda itu to?” tanya ibu setelah dia memasukkan kotak itu ke laci meja riasku.

Aku mengangkat bahu. Kepalaku berdenyut lagi.

“Sekarang, kamu mau kerja? Udah jam dua tuh, nanti kesorean. Siap-siap dulu. Apa enggak usah kerja aja lah, toh kamu masih keleyengan begitu. Nanti malah nyusahin orang di tempat kerjamu.”

“Enggak ah, Bu. Lebih baik aku kerja aja. Daripada enggak kerja, nanti dipotong lagi uang makannya. Misi sayang, mama mau berdiri dulu ya.”

Sejak sebulan lebih yang lalu, aku diterima bekerja di sebuah salon besar, sebagai penerima tamu. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekali naik angkutan umum saja. Lumayan untuk pemasukan bulanannya, untuk menambah biaya rumah tangga dan sekolah Rasya.

“Yah, mama kerja ya? Enggak usah deh, Ma! Temenin Rasya naik sepeda aja, yuk!”

“Enggak bisa dong, Rasya. Mama mesti kerja, buat bayar biaya sekolah Rasya… “

Rasya manyun. Dengan ogah-ogahan dia mengangkat kepalanya dari pahaku dan berdiri. Matanya memelas menatapku. Aku berusaha bangun dari tempat tidur walau ternyata badanku masih sempoyongan. Ibu membantuku berdiri.

“Tuh kan masih sempoyongan. Lebih baik di rumah aja dulu deh.”

“Enggak enak ah, Bu, kan baru kerja sebulan, kok udah enggak masuk, begitu lagi nanti kata bosku.”

“Ya, udah, terserah kamu. Bisa kan ambil baju sendiri?”

Aku mengangguk lemah sambil memegang bagian belakang kepalaku. Ibu menggandeng Rasya keluar kamar dan menutup pintunya.

Aku membuka lemari bajuku. Kuambil seragam biru tua di bagian paling atas. Hari ini adalah hari Kamis, jadi baju seragamnya biru tua. Untuk hari Senin sampai Rabu, seragamnya merah tua. Untuk hari Jumat dan Sabtu, seragamnya ungu muda. Menurut pegawai lama di salon, hari Kamis adalah hari kelahiran pemilik salon, dan dia suka sekali dengan warna biru tua, jadi seragam untuk hari Kamis itu biru tua.

Aku mengambil seragam dari lemari dan menutup pintunya. Kulihat diriku di depan cermin rias, sedikit kurus. Kata ibu, wajahku seperti makin lusuh dan tidak terawat karena pipiku terlalu ciut. Mau bagaimana lagi? Aku banyak pikiran, sejak terlibat urusan kembar ketiga dulu, dan sekarang ditambah bekerja. Baju seragam biru tua kupakai, masih kebesaran, padahal ukurannya S.

Kulihat diriku di depan kaca rias. Kusam sekali. Aku memakai foundation sedikit dan kuratakan ke seluruh wajahku, kupakai lipstik sewarna dengan bibir, eyeshadow coklat tua dan terakhir blush on pink. Aku tersenyum, akhirnya aku terbiasa berdandan juga, padahal aku paling enggak bisa dandan. Ini karena tante Febi yang mengajariku dua bulan lalu. Dia tiba-tiba datang ke rumah lalu langsung memelukku sambil menangis. Dia sangat prihatin akan kondisiku dan baru dua bulan yang lalu dia punya waktu luang untuk ke rumahku.

Ketika melihat wajahku yang kusam dia langsung menyuruhku untuk berdandan, tidak enak dilihat katanya. Seminggu dia tinggal di rumahku sekaligus sebagai guru dandanku. Wah make up yang dia punya banyak sekali! Dia juga banyak bercerita tentang mimpi-mimpiku yang dulu pernah dia lihat ketika aku masih lumpuh. Dia juga berpesan padaku dan ibu agar jangan menceritakan kehadiran dia di rumahku pada Faiz. Kukatakan aku tidak akan bercerita walaupun dia tidak memintanya. Saat itu dia tersenyum kasihan padaku, lalu memelukku.

Kalau tidak ada tante Febi, mungkin dandananku tidak akan terlihat bagus begini. Yap! Sekarang waktunya bekerja. Jam setengah empat sore aku harus sudah sampai dikantor.

Kuambil tasku dari balik pintu. Kulihat isi tasku, dompet, tanda pengenal, kantong recehan, dan emm.. ponsel? Kemana ponselku? Tadi saat ketemu Ari, ponsel tidak kubawa, ketinggalan di rumah, berarti… aku membuka laci meja riasku. Ini dia! Banyak sekali miscal, ah ternyata Faiz. Kumatikan ponselku kembali lalu aku menaruhnya di laci meja rias. Ketika lacinya akan kututup, aku tertegun oleh kotak kayu berukir yang diberikan Ari. Aku mengambilnya. Lama sekali kutatap ukiran-ukiran dikotak kayu itu, sepertinya aku pernah melihatnya. Dimana ya?

“Na? Mau kerja jam berapa? Ini udah setengah tiga lebih loh!” teriak ibu dari luar. Buru-buru kutaruh kotak kayu itu di atas meja rias, lalu aku keluar kamar.

“Mama.. mama masih mau kerja ya?”

“Iya sayang. Udah ya, mama berangkat dulu.”

“Ma, jangan pergi dulu!”

Langkahku terhenti di depan pintu rumah. Ada apa sih? Rasya berlari masuk ke dalam, dan mengambil sesuatu dari tumpukan majalah. Dia mengambil sebuah majalah.

“Ma, ma liat deh ini, olang ini!”

Rasya menunjuk-nunjuk gambar di salah satu halaman majalah. Alisku berkerut. Aku tidak mengerti arah pembicaraan Rasya.

“Mama kenal kan olang ini?”

“Mana? Yang ini? Mama enggak kenal sayang.. memangnya Rasya kenal?”

“Tuh kan, nenek enggak kenal, mama enggak kenal juga!”

Aku memicingkan mataku ke arah telunjuk Rasya.

“Uh, mama! Ini kan Dian, Ma! Dian Bencis! Yang nenek beli kapsul obat buat mama!”

Sekejap dadaku berdesir. Dian Bencis? Kuambil majalah yang dipegang Rasya. Disitu terpampang tulisan besar-besar, PEMENANG UANG 1 MILYAR dengan foto Dian Bencis yang tersenyum lebar dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

“Ssst! Bengong aja sih?”

Tegur Hani, temanku di kantor.

“Banyak pikiran ya? Cie.. sama siapa nih sekarang?”

“Ah, kamu bisa aja, Han!” Aku menyenggol pundak Hani dengan pundakku.

“Uh, kalau salon sepi begini, aku jadi ngantuk!” Hani menguap lebar-lebar. “Kamu juga dari tadi diemmm aja, ada apa sih? kok kayak orang mikir berat gitu.”

Aku tersenyum menggeleng. “Ah enggak ada apa-apa, Han. Perasaanku cuman enggak enak aja.”

“Hm? Enggak enak? Memangnya ada apa?”

“Ah, enggak. Enggak ada apa-apa. Kamu punya permen enggak, Han?”

Hani menggeleng. Lalu dia menguap lebar.

Memang kondisi seperti ini bisa membuat ngantuk. Pelanggan tidak ada yang datang sejak aku masuk kerja tadi. Aku duduk-duduk saja dibelakang meja penerima tamu. Disebelahku, Hani, tukang potong rambut, juga tidak ada kerjaan. Dia terus-terusan menguap.

“Wah kalau menguapnya selebar itu, pelanggan bisa kabur, mbak.” Ujarku tersenyum geli.

Hani nyengir. Eh, apa itu? Sekilas aku melihat sesuatu dibelakang Hani. Lalu dengan gerak cepat aku menarik tangan Hani, hingga dia menubrukku dari arah depan.

“Auw!!”

Gubrak! Kursi-kursi terjatuh.

“Aduh.. apa-apaan sih Na? Kamu?? Eh kamu kenapa Na?”

Kepalaku serasa mau pecah. Aku tidak sanggup untuk berdiri. Hani buru-buru memegang erat kedua tanganku. Aw! Kepalaku sakit sekali. Terdengar suara yang ughhh!! Suara yang membuat kepalaku seperti mau pecah, suaranya nyaring sekali!

“Na? Na? Kamu kenapa? Eh.. loh.. loh… Na?”

Hani makin panik melihatku. Aduh aku tak tahan! Kepalaku…

“Ada apa? Kenapa?”

Dalam sekejap ruangan menjadi ramai. Para pekerja salon berlarian ke arahku. Ada beberapa orang yang berusaha menenangkanku.

Aku terus mengerang, kupegang kepalaku kuat-kuat. Rasanya aku berteriak kencang sekali. Orang-orang mulai panik. Hani mengguncang-guncang kepalaku, dia berusaha untuk menolongku.

“Mana yang sakit? Dimana yang terasa sakit Na? Na? Aduh, jawab dong… Yang mana?”

“Ambulan, panggil ambulan!”

“Duduk dulu, Na… Ya ampun.. itu… AAAAAHH!”

Aku merasakan sesuatu keluar dari kedua mataku. Sepertinya aku menangis. Tapi kenapa tercium bau amis?

“Na? Ya Tuhan! Na? Air mata kamu..?”

Dengan gemetar kuusap air mataku, dan.. kulihat darah di tanganku! Sebagian besar pekerja salon berteriak ngeri, dan yang sebagian lainnya makin panik. Aku mengeluarkan air mata darah? Tidak mungkin!

“Han.. aku.. Han…”

Pandanganku mulai buram, lalu gelap.

bersambung