all my stories

Segitiga 021 (Sang Guru Datang)

Posted by: bojonghealth on: April 16, 2009

“Ngnggngggnggg…..”

Dengung lebah? Oh bukan!

“Ngg…Ngngng…”

Itu seperti suara orang-orang berbicara. Mereka bicara apa? Eum?

“Ng… Jadi begitu, Bu.”

Oh? Ibu? Siapa itu yang bicara? Seperti suara Hani. Dia ngomong ke siapa? Suaranya belum pernah kudengar sebelumnya.

“Hm.. jadi begitu ya? Saya kira ada ribut-ribut apa tadi..”

Ribut-ribut? Memangnya ada ribut apa? Uh kenapa mataku sulit sekali dibuka?

“Iya, Bu, kami minta maaf.”

Suara Hani lagi. Untuk apa dia minta maaf?

“Hm… ya sudah. Bapak ada disini?”

Siapa lagi itu? Bapak?

“Tadi pagi beliau kesini, tapi sekarang sudah tidak ada, Bu.”

Hani ngomong sama siapa sih?

“..Hm.. ya sudah. Tolong bilang saja saya datang tadi kesini.”

“Nggnggngg….”

Uh dengungan lagi. Uh kenapa mataku tidak mau terbuka sih? Aku berusaha sekuat tenaga membuka mataku. Rasanya aneh sekali tidak bisa membukaa kelopak mata sendiri begini. Gelap dimana-mana. Semoga kejadian mimpi dulu tidak terulang lagi. Dikejar bola api panas, dan batu bersinar.. aku bergidik.

Ugh! Ugh! Mataku! Ayo terbuka! Ugh! Aku merasakan keringat mengucur dari dahiku. Ugh! Yak, sudah terbuka sedikit. Ugh! Nah! Sekarang mataku terbuka. Ups! Silau sekali! Aku melihat sekeliling. Loh? Kok sepertinya ada yang aneh?

Aku melihat alas tempat aku duduk, bukan sofa salon dan suasananya berbeda sekali. Kok ini seperti berada diruang tamu? Lampu-lampunya besar-besar dan antik. Perabotannya juga. Aduh, aku ada dimana ini? Perasaan tadi aku mendengar suara Hani?

“Han? Hani? Han?”

aku berdiri mulai mencari Hani, atau siapapun orang kantor yang kukenal. Tapi tidak ada tanda-tanda mereka. Dan ini sepertinya bukan salon, tapi rumah besar! Aku terus memanggil teman-teman salonku, ah tetap saja terasa aneh, ini pasti bukan salon, mana mungkin salon bisa berubah dalam waktu sekejap begini?

Kenapa aku tiba-tiba ada di rumah besar begini? Pakaianku masih pakaian seragam salon. Apa yang harus kulakukan? Aku berkeliling ruangan, benar-benar ruang tamu yang besar! Dan langit-langitnya tinggi! Aku menghampiri sebuah patung wanita di ujung ruangan. Patung yang sangat bagus. Terbuat dari perunggu dan si patung wanitanya dibentuk dengan wajah sedang menunduk sedih, bertopang dagu, dan gaunnya seksi sekali. Tapi wanitanya ini cantik sekali. Pasti pastung seperti ini harganya mahal sekali!

Aku memperhatikan keramik-keramik kecil yang berada di atas sebuah meja kuno disamping patung tadi. Banyak sekali keramik-keramiknya! Ketika kupegang, aku langsung tahu kalau keramik ini kualitasnya bagus sekali, sangat halus dan sangat baik hiasan-hiasannya. Ada beberapa keramik yang terlihat retak-retak ujungnya, dan terlihat sangat kuno, apakah mungkin keramik dari jaman dulu?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Semua barang ini pasti mahal sekali! Aku mendesah melihat sekelilingku. Kursi-kursinya besar-besar seperti kursi zaman kerajaan di Eropa. Lampunya.. aduh.. lampunya cantik sekali! Walaupun kuno, tapi terlihat sangat bagus! Memang agak menyilaukan sinar lampunya, tapi tidak mengurangi kecantikan disain lampunya. Besar, kuat namun juga sekaligus lembut.

Banyak sekali lukisan-lukisan besar diruangan ini. Ada lukisan kuda yang berlari, lukisan seorang em.. seperti seorang ratu dari kerajaan-kerajaan jaman dulu, dan ada juga sebuah lukisan abstak yang tidak kumengerti maksudnya. Keseluruh lukisan itu terlihat kuno, kecuali lukisan abstrak tadi. Aku menghampiri lukisan-lukisan itu. Aku kagum sekali dengan lukisan-lukisan ini! Pasti pelukisnya sangat berbakat. Biasanya setiap lukisan ada tanda tangan pelukisnya, em.. loh? Aku terpaku melihat sebuah tanda di ujung kanan bawah lukisan kuda. Tanda segitiga di dalam sebuah bulatan. Aku melihat lukisan ratu, tanda itu juga ada, begitu juga ketika kulihat lukisan abstrak. Tanda itu.. seperti tanda yang ada di tangan Aurelia! Apa mungkin… dadaku mulai berdetak keras. Aku melihat sekelilingku, apa mungkin ini ruang tamu rumah Aurelia?

Pintu. Pintu nya sangat besar. Aku meraih gagangnya, dan berusaha membukanya. Ugh! Tidak bisa! Tidak mungkin! Ruangan ini bukan ruang tamu Aurelia! Tidak mungkin. Ah, ya jendela! Jendelanya besar-besar, dan Ah, sulit sekali dibuka! Beberapa bahkan ada yang sepertidi lem dari dalam, jadi tidak bisa dibuka! Ah, bagaimana ini? Aku harus bagaimana?

Lalu tiba-tiba kudengar langkah kaki, dan pintu terbuka. Wah! Aku tidak sempat bersembunyi! Aku yakin sekarang mukaku seputih kertas. Dan yang masuk adalah seorang perempuan muda dengan rambut pirang dan seorang lelaki muda. Si perempuannya rambutnya sangat pirang, dan kulitnya begitu putih. Aku tidak melihat jelas wajahnya karena wajahnya tertutup rambutnya. Pakaiannya bagus sekali, setelan jas dan tas tangannya terlihat sangat mahal. Dia masuk dengan terkekeh-kekeh.

Si lelaki muda, aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya, tapi wajahnya cantik. Em.. maksudku, wajahnya tampan tapi kalau saja dia perempuan, maka dia sangat cantik. Wajahnya lebih cocok untuk jadi wajah perempuan. Dia mengenakan jas hitam yang sangat elegan. Gaya jalannya juga elegan sekali. Dia juga terkekeh.

Aku melihat mereka dari samping. Dan mulutku ternganga. Si perempuan cantik, dan si lelaki juga mempesona. Sungguh pasangan cocok. Dan mereka sebentar lagi akan melihatku.

Si perempuan menuju ke arahku. tapi anehnya kok dia tidak kaget kalau ada aku? Dan sepertinya juga dia tidak melihatku. Begitu juga si lelaki. Mereka tidak melihat aku! Si perempuan terus saja berjalan melewatiku. Lalu dia menghempaskan badannya di kursi. Tas tangannya di lempar begitu saja ke atas meja. Si lelaki juga ikut duduk di kursi yang satu lagi. Mereka masih terkekeh. Nah mereka benar-benar tidak melihatku! Aku kan ada di hadapan mereka! Masak sih aku tidak kelihatan?

Wah pasti ada yang tidak beres! Aku menatap tanganku, masih utuh. Kakiku, masih menapak kok di lantai. Kucubit pipiku, masih sakit. Kok mereka tidak merasakan kehadiranku di depan mereka?!

Mereka mulai saling bicara, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, mereka bicara dalam bahasa asing, seperti logat Jerman. Sedikit-sedikit omongan mereka diselingi tawa. Hidung dan pipi mereka memerah. Pasti mereka sedang membicarakan lelucon atau cerita lucu.

Aku masih tidak percaya kalau mereka tidak melihatku. Aku duduk di samping si perempuan, kulambai-lambaikan tanganku di depan matanya, tapi dia sepertinya benar-benar tidak melihatku! Aku bingung sekali. Ada apa ini? Tiba-tiba terdengar suara bel. Si lelaki berdiri lalu menuju ke arah pintu, dia membuka pintu dengan berbicara sesuatu kepada si perempuan, mungkin lelucon lagi, karena setelahnya si perempuan itu tertawa. Lalu tiba-tiba wajah si lelaki berubah drastis, wajah cantiknya menjadi mengeras, dan aku melihat urat lehernya timbul, mungkin dia mengatupkan gerahamnya terlalu kuat. Si wanita melihat ini, dia berdiri dan berbicara pada si lelaki, yang ditanya tidak menyahut. Lalu dari arah pintu masuklah seseorang yang sangat kukenal sekaligus kukagumi. Gaya berjalannya, caranya bicara, senyum khasnya, aku kenal sekali. Aku buru-buru berdiri dan berlari ke arahnya.
“Ba..pak…?”

Dia lah Sang Guru, wajahnya terlihat makin lelah dan tua. Rambutnya makin banyak putihnya. Dia sekarang menggunakan tongkat untuk menyangga kakinya. Aku senang sekaligus terharu saat melihatnya. Tanpa sadar aku memeluknya. Ah, aku benar-benar bisa memeluknya.

Lalu air mata mengalir ke kedua pipiku. Aku kangen sekali dengan Sang Guru. Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dengan beliau. Kupanggil namanya berkali-kali, aku juga meminta maaf padanya berkali-kali.

Anehnya, dia seperti tidak mendengarku. Waktu kupeluk tubuhnya pun dia tidak merespon apapun. Lalu dia berbicara dalam bahasa asing pada si lelaki dan si perempuan, hanya beberapa kata yang membuat mereka menjadi terlihat sangat marah.

Tanpa mempedulikan itu, Sang Guru melihat sekeliling ruangan, lalu dia menuju ke arah kursi. Si lelaki dan si perempuan tadi mengekor dari belakang, mereka saling berbisik. Aku tidak mengerti.

“Bapak, maafkan Na, maafkan Na, Na tidak bisa ketemu bapak karena.. karena… rasanya Na tidak bisa melupakan kejadian tentang benda bercahaya itu..karena.. bapak pun menjauh..” Aku mengejar beliau dan duduk di samping beliau dengan masih menangis. Tetap saja tidak ada reaksi dari Sang Guru. Ketika melihat si lelaki dan si perempuan sudah duduk, dia berbicara lagi, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Dan aku sangat kenal benda yang dia keluarkan itu. Benda yang merusak tubuh dan pikiranku, yang membuatku sakit dan lumpuh, yang membuatku membenci Faiz dan membuat aku dan Sang Guru menjauh. Itulah benda bulat bersinar.

Si lelaki dan si perempuan saling berpandangan. Si perempuan bertanya sesuatu kepada Sang Guru, dan pertanyaan yang ditujukan adalah pertanyaan yang sangat panjang. Kulihat Sang Guru tersenyum khas, dia mengatakan satu kata pada si lelaki. Dengan wajah kaku, antara marah bercampur benci, si lelaki masuk ke dalam. Ketika si lelaki masuk ke dalam itulah, si perempuan tiba-tiba duduk bersimpuh di dekat lutut Sang Guru. Aku sangat kaget dibuatnya! Kukira dia akan memukul Sang Guru.

Lalu tangis si perempuan meledak. Suaranya yang indah menjadi parau. Dia berbicara dengan nada penyesalan, dan dia juga mencium tangan Sang Guru berkali-kali. Tapi Sang Guru hanya diam saja, beliau malah memalingkan wajahnya. Ketika dia memalingkan wajahnya itulah, aku melihat mata Sang Guru. Matanya sekilas menunjukkan kemarahan, tapi bukan kemarahan biasa, tapi kemarahan dari sesuatu yang alami, kemarahan karena kasih sayang, kemarahan seorang ayah kepada puterinya.

Melihat Sang Guru memalingkan wajahnya, tangis si perempuan berhenti. Dia mengeluarkan sebuah sapu tangan dari kantong jasnya. Dia kembali duduk di kursi dengan sesenggukan. Ketika itulah si lelaki datang, dia membawa palu di tangannya. Dengan kasar ditaruhnya palu itu di atas meja dihadapan Sang Guru, lalu dia kembali duduk. Dia melihat sekilas ke arah si perempuan, matanya berkilat marah, mulutnya makin dikatupkan.

Aku tidak tahu fungsi sebuah palu dihadapan Sang Guru, untuk apa? Dengan gerakan halus dan wajar, Sang Guru mengetukkan palu itu ke benda bulat bersinar di meja. Dan.. aku benar-benar tidak menyangka, dari dalam benda bulat bersinar itu, ada sebuah benda yang lebih menakjubkan lagi, benda yang sangat halus potongannya, sepertinya dibuat dengan penuh cinta kasih dan kehati-hatian tinggi, dan benda itu terlihat begitu anggun dan sekaligus begitu kuno. Mataku membesar, itu… itu adalah sebuah zamrud!

Aku tidak tahu kalau benda bulat bersinar itu bisa menyembunyikan sebuah zamrud! Mengagumkan sekali! Zamrudnya juga indah sekali, dan bentuknya.. bentuknya segitiga!

Si lelaki langsung mengambil zamrud itu. Dia mengamat-amati batu mulia itu dengan pandangan takjub, sebaliknya si perempuan, justru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menggumamkan sebuah kata berulang-ulang. Lalu kudengar sebuah desahan nafas yang berat, Sang Guru menatap zamrud yang dipegang oleh si lelaki, dia mengatakan beberapa kata. Si lelaki tidak menanggapi, lalu Sang Guru berdiri. Sepertinya dia akan pergi dari sini. Aku buru-buru berdiri dan menuju pintu, tapi kok langkahku terasa berat sekali, ugh… berat sekali!

Sang Guru melewatiku, setelah mengucapkan satu kata, dia keluar dan menutup pintu. “Bapak! Tunggu!”

Aku tidak bisa menyusul beliau! Ugh, kok kakiku makin tidak bisa diangkat? Berat sekali! Aku ingat aku pernah mengalami hal ini ketika bermimpi dulu! Tubuhku terasa begitu berat! Ugh! Aku tidak bisa bergerak.Ugh! Lalu tiba-tiba sekitarku berputar, sekarang aku tidak di ruangan tempat si lelaki dan si perempuan itu lagi! Sekelilingku berputar begitu cepat, aaaaaaarrrggghhh… kepalaku pusinggg!!!!

Kenapa ini? Aduh! Putarannya makin cepat dan cepat. Aku seperti ada di dalam angin tornado. UGHHHH!!! Kepalaku! Tidak! AAAAAAARRRGGGHHH!!

bersambung…

Leave a Reply