Posted by: bojonghealth on: April 19, 2011
“Saya enggak nyangka.. padahal sepupu saya itu alim..” ujar kerabat A sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, prihatin.
“Enggak ngerti.. Kenapa dia bisa sebrutal itu.. Jahat bener.. Durhaka!!” seru kerabat B, emosi.
“Haduh.. kita bingung ini jadinya.. apa kata tetangga nanti… bagaimana ini urus ini itu dalam waktu bersamaan.. saya pusing jadinya..” kata kerabat C sambil memijit-mijit kepalanya.
“Hik.. hik… kenapa bencana ini… terjadi pada keluarga kami.. hik…. Kalau saja kami lebih sering menengok.. Hik.. hik… Ternyata yang ngelakuin dia… hik..hik… tragis…” ujar kerabat D sambil terisak. AIr matanya terus mengalir.
—
“Saya sampe deg-degan.. waktu denger suara kaca pecah kemarin… haduh… ada apa ini.. pas saya ngeliat ke jendela.. dua kaca depan udah pecah berantakan.. Ngeri saya jadinya!!!” seru ibu tetangga A sambil terus mengelus-elus dadanya. Di wajahnya terpancar kengerian yang luar biasa.
“Kami sudah berusaha sebisanya agar warga disini tidak main hakim sendiri pada pelaku. Saya amankan langsung sejak ada laporan warga yang denger kaca depan rumahnya pecah. Dan kebetulan pelakunya mengakui dengan sadar. Mudah-mudahan kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi di lingkungan kami.” ujar pak RT B dengan gaya wibawanya.
“Darahnya banyak! Dimana-mana! Yang perempuannya kepalanya dipotong.. yang laki-lakinya dijedotin ke kaca depan rumahnya.. hiii…. banyak darah!!” seru bocah C.
“Sebaiknya warga jangan terlalu banyak berkumpul, agar kami bisa mengambil bukti yang lebih banyak dan bisa lebih fokus. Warga juga jangan melintasi garis polisi yang sudah kami buat, supaya tidak merubah letak barang buktinya. Terimakasih.” ujar polisi D sambil menunjuk pita kuning garis polisi yang direntangkan teman-teman kepolisiannya.
“Kemarin bapaknya sempat minta saya untuk bersih-bersih halaman belakang rumahnya. Saya bilang, saya belum sempat soalnya sekarang saya masih ada proyek di Jawa. Tadinya saya mau ke rumahnya besok, eh nggak tahunya, hari ini dia sudah ndak ada.. ” kata bapak tetangga E.
—
Iman menunduk. Tindakannya tidak mencurigakan. Wajahnya tenang. Hanya matanya saja yang terus menatap mesin tik yang digunakan polisi A untuk mengetik BAPnya. Ruangan penyidik ini luas. Banyak mesin tik. Banyak polisi. Disebelah kirinya juga ada polisi B yang badannya gemuk dengan perut bulat dan kumis ala pak Raden.
Tapi dia tidak peduli dengan polisi-polisi itu. Atau ruangan penyidik kepolisian yang pengap penuh asap rokok ini. Atau kepada sikap-sikap para pelaku yang seharusnya ketakutan saat ditanya-tanya oleh polisi penyidiknya. Atau kepada laporan BAPnya nanti akan seperti apa. Persetan BAP! Persetan polisi! Persetan semuanya! Dia cuma tertarik dengan mesin tik yang digunakan oleh polisi A ini saja.
Mesin tik ini… mesin tik… Kenapa polisi bodoh ini tidak menggunakan komputer saja? Atau laptop? Atau apapun yang lebih canggih? Kenapa ruangan ini penuh dengan mesin tik? Kuno! Berisik!
“Nah sekarang … Motif.. Apa yang menggerakkan kamu untuk membunuh?!” tanya polisi A dengan nada bertanya yang seperti memerintah.
“Kecoa.” jawab Iman. Masih menunduk. Matanya masih menatap mesin tik.
“Jawab dengan benar! Motif kamu apa, sampai membunuh orang tua kamu sendiri!” tanya polisi A lagi. Kali ini lebih tegas dan agak marah.
Polisi B berkumis pas Raden, mengetuk-ketukkan pistolnya diatas meja. Cukup bisa terlihat oleh Iman. Iman tidak peduli dengan tindakan polisi B. Dia hanya melihat mesin tik itu saja. Mesin tik yang makin dipandang makin menarik di matanya.
“HEH! JAWAB!” teriak polisi A gusar. Sudah sifatnya yang tidak sabaran itu membuatnya ringan tangan. Sebuah penggaris besi dipukulkan ke kepala Iman. Iman mendongak menatap polisi A dengan tatapan kosong. Tangannya mengusap-usap kepalanya. Ada benjol disitu.
“JAWAB!! Kalau kamu tidak kooperatif, kami akan lebih kasar!” seru polisi A lagi.
“Jawab atau kepala kamu bolong.” ujar polisi B berkumis pak Raden, sambil mengelus-elus pistolnya.
Iman menunduk lagi. Dia sudah S2, jadi tidak perlu diajari untuk menjawab pertanyaan gampang seperti itu.
“Apa motif kamu membunuh kedua orang tua kamu?!” Pertanyaan yang sama, jawabannya juga sama.
“Kecoa..” jawab Iman lagi.
TUK!!
Gagang pistol yang kali ini melayang ke kepala Iman. Si polisi B menatapnya dengan tatapan eksekutor. Polisi A mendengus-dengus seperti anjing penjaga.
Iman sekali lagi mendongak. Pandangannya beralih dari polisi B ke polisi A. Sekarang tatapannya tidaklah kosong. Dia mengusap-usap kepalanya sambil berkata,”Tahukah bapak-bapak sekalian, kalau psikopat tidak gampang untuk dibunuh?”
Sorot mata Iman seperti sorot mata seorang anak kecil menanyakan sesuatu pada ayahnya. Polisi B hendak memukul kepalanya lagi, tapi polisi A menahannya. Dengan masih mendengus-dengus, dia kembali duduk di depan mesin tiknya.
“Jadi motif kamu kecoa. Ke..co..a.. Itu saja?!” tanya polisi A. Iman mengangguk.
Polisi B menatap kawannya yang kembali duduk, dia pun akhirnya duduk juga. Padahal dalam hatinya, ingin sekali dia merobek perut Iman dengan pistolnya.
“Pertanyaan selanjutnya. Bagaimana kamu melakukannya? Melakukan pembunuhan itu?!” tanya Polisi A lagi. Dia melihat Iman yang kelihatannya sangat tertarik dengan mesin tiknya. Orang ini gila, pikirnya.
“Bapak sekalian kan sudah tahu hasilnya. Buat apa saya menjawab?” jawab Iman. Kali ini polisi B berdiri pistolnya dikokang dan diletakkan di pelipis Iman.
“Sekali peluru ini terbang ke kepala kamu, kamu akan bertemu dengan kedua orang tua kamu.” ujar polisi B. Tanpa diduga Iman ikut berdiri dan melakukan gerakan judo secepat kilat sehingga pistol polisi B malah berbalik berada di tangannya. Dia mengarahkan pistol itu ke selangkangan polisi B. Tangan polisi B tahu-tahu sudah dipelintir oleh tangannya yang satu lagi.
“Sekali saya lepaskan pelurunya, bapak sudah tidak bisa ke hotel melati lagi.” ujar Iman dingin.
Melihat adegan ini, para polisi disekitar mereka dengan sigap menangkap Iman. Polisi A sudah bersiap mengambil pistolnya untuk menembak Iman. Gerakan judonya begitu cepat dan sigap. Menakjubkan!
Iman dipaksa duduk oleh beberapa polisi. Perutnya dipukul keras oleh polisi B yang kesal dan malu pistolnya berhasil direbut.
“EHM! Sekarang jawab dengan baik, bagaimana kamu melakukan pembunuhan itu?!” tanya polisi A. Matanya melirik polisi B dengan perasaan iba yang dibuat-buat.
“Saya tusuk ibu dengan pisau daging, saya potong kepalanya begitu saja. Lalu saya dorong ayah saya ke jendela depan rumah sampai kacanya pecah. Enggak susah.” jawab Iman tenang. Matanya kembali menatap mesin tik itu.
Ada beberapa intonasi dalam kalimat itu yang membuat seluruh polisi yang kebetulan mendengarkan menjadi tegang. Apalagi kalimat terakhir yang diucapkan dengan begitu tenang. Polisi B melirik polisi A. Orang ini gila. Benar-benar gila.
—
Headline di koran pinggiran hari itu adalah sebagai berikut:
“Pembunuh Sadis Mengeksekusi Orang Tua Sendiri”
“Iman, Pembunuh Berdarah Dingin yang Tega Menggorok Leher Ibu Kandungnya”
“Pembantai Suami Istri itu Ternyata Anaknya Sendiri”
“Iman, Anak Durhaka yang Tega Membunuh Orang Tua”
“Pembunuh Brutal Orang Tua Kandung Diancam Penjara 20 Tahun”
—
Berita di koran dan TV penuh dengan Iman. Orang yang membunuh kedua orang tuanya di rumahnya sendiri. Semua media menyorot Iman seolah hendak menelanjangi dirinya. Semua mata memandangnya takut dan jijik. Tapi tak satu pun dari media itu yang pernah berbicara langsung dengan Iman, karena Iman merasa tidak mau dipermainkan media begitu saja.
Hanya ada seorang saja yang Iman izinkan untuk bertatap muka langsung dengannya. Dia adalah Warsito, anak mantan tukang kebun keluarga Iman yang pernah jadi teman masa kecil Iman. Dulu hubungan pertemanan mereka begitu akrab sampai tukang kebunnya pulang kampung dan memutuskan untuk kerja di kampungnya saja. Kini Warsito sudah jadi wartawan sebuah koran terkemuka.
Warsito begitu sedih melihat kondisi sahabat kecilnya. Iman menjadi begitu kurus seperti tidak diberi makanan. Sehari-harinya dia hanya bengong menatap mesin tik, yang walaupun berat, tapi mesin tik itu selalu dia bawa kemanapun. Bahkan sampai buang air kecil pun dia bawa. Kepala sipir menganggapnya sudah gila. Tapi cara bicaranya seperti orang yang berpendidikan dan cerdas.
“Kamu dateng juga To..” ujar Iman dengan mata kosong menatap pada mesin tik di depannya.
“Iya, Man.. Kamu kok jadi begini Man?” Nada suara Warsito yang sedih membuat Iman menatap kedua mata sahabat kecilnya itu. Mata Warsito tidak berubah dari dulu, terlihat menyenangkan dan akrab. Iman tersenyum.
“Man… Kamu kurus banget…” ujar Warsito. Dia menepuk pelan pundak Iman. Sorot matanya prihatin. Iman masih tersenyum. Warsito melirik catatan kecil di tangannya, tempat seluruh pertanyaan yang harus dia tanyakan pada Iman. Bosnya berjanji memberikan uang lebihan untuk tugasnya ini. Tapi melihat Iman dengan kondisi mengkhawatirkan begini, hatinya tidak tega.
Iman terus saja tersenyum. Matanya mulai berbinar. Dulu mereka sempat melewati masa kecil yang bahagia. Main bola bersama di lapangan becek sampai baju mereka belepotan lumpur. Menggunting semua dahan pohon jambu milik ibunya sampai semua daunnya habis. Pergi naik kereta dan baru pulang larut malam. Dihukum berdua tidak boleh masuk rumah oleh ibunya. Sempat pula dikejar anjing tetangga. Mengerjakan PR bersama. Terkadang pula Iman hobi diam-diam makan bersama Warsito dan bapaknya di kamar pembantu. Masa-masa kecil yang indah.
Pengalaman yang tidak sebanding dengan apapun. Dengan apapun, kecuali oleh sebuah peristiwa. Peristiwa kecoa.
“Man, aku pergi dulu.. Kamu hati-hati disini, Man..” Tiba-tiba Warsito berdiri dan hendak pergi. Padahal dia belum menanyakan satu pertanyaan pun dari catatan kecilnya. Hatinya tidak tega melihat Iman. Dia tidak mau menodai persahabatan masa kecilnya dengan uang dari bosnya. Tidak! Biarlah dia dimaki-maki bosnya karena membuang kesempatan ini.
Dengan sigap Iman ikut berdiri. Kedua tangannya mencengkeram bahu Warsito. Walau tangan Iman jauh lebih kurus dari tangan Warsito, tapi tetap saja, ada sebuah desiran ancaman yang menusuk dari gerakan tangan Iman itu.
“Duduk, To.. Nanti dengarkan cerita aku sebentar.. Setelahnya, kamu boleh pergi atau memusuhiku..” Iman melepaskan tangannya dari bahu Warsito. Kepalanya kembali tertunduk pada mesin tik. Matanya kembali memancarkan kekosongan.
Warsito kembali duduk dengan ragu-ragu. Walaupun dia sangat tidak tega pada Iman, tapi entah ada dorongan dari mana yang memaksa tubuhnya untuk menuruti kehendak Iman. Perasaannya menjadi tidak enak.
—
Di halaman depan koran itu terdapat salah satu tulisan Warsito. Dia mendapat bayaran yang lumayan besar dari hasil wawancaranya. Dia juga menjadi nara sumber terpercaya karena keberhasilannya sebagai satu-satunya wartawan yang bisa mewawancarai Iman, pembunuh yang sadis itu.
Berikut sebagian tulisannya:
“Iman mengakui seluruh perbuatannya. Hukuman sudah ada di depan mata. Saksi dan bukti sudah cukup untuk melemparnya ke penjara selamanya. Tapi dari seluruh kesalahannya, yang paling dia sesali adalah satu hal. Dia menyebutnya sebagai Peristiwa Kecoa. Sebuah motif gila yang membuatnya dikecam oleh kerabatnya sendiri.
Sepekan sebelum membunuh kedua orang tuanya, dia melihat seekor kecoa yang mati di lantai kamarnya yang putih bersih. Dia terus memandangi kecoa itu. Dan terus saja memandanginya sampai merasuk ke dalam pikirannya. Ketika kecoa mati itu dia singkirkan ke tempat sampah, saat itulah dia mendapat ide untuk membunuh orang tuanya. Dia menganggap dewa kecoa yang mati itu bisa terpuaskan oleh darah orang tuanya. Selama sepekan berikutnya dia selalu dihantui bayangan kecoa mati tersebut. Kemanapun dia pergi. Sehingga pikirannya begitu kosong. Semakin dia memikirkan kecoa mati tersebut, semakin kuat keinginannya untuk membunuh kedua orang tuanya. Sampai sebuah kesempatan itu terbuka lebar. Malam naas itu, dia menusuk perut ibunya yang baru keluar dari kamar dan memotong kepalanya. Ayahnya yang baru pulang bekerja pun dia dorong ke arah kaca jendela rumahnya sehingga mati tertusuk serpihan kaca.
Saat itu Iman merasa kekuatan super dari kecoa mati itu mendukungnya sedemikian kuat sehingga dia punya tenaga untuk memotong kepala ibunya dan mendorong ayahnya. Teriakan dan kesakitan kedua orang tuanya tidak didengarnya, karena kecoa mati itu terus membayangi setiap tindakannya.
Tindakan brutal inilah yang akan menyebabkan dia tidak bisa lagi berada di alam bebas. Rumahnya sekarang adalah penjara kelas berat, tempat tahanan kelas kakap meringkuk menunggu udara bebas. Tapi seolah belum cukup, Iman juga melingkupi ruang hatinya dengan penyesalan akan Peristiwa Kecoa itu sepanjang masa di kamar selnya. Matanya memancarkan kekosongan jiwanya..”
—
Iman melipat koran itu dengan takzim. Warsito sekarang sudah terkenal. Pasti kehidupannya menjadi lebih baik. Iman tersenyum. Peristiwa Kecoa itu diceritakan dengan tidak detil, tapi juga tidak ada yang dihilangkan. Warsito adalah sahabat sejati. Teman yang sangat baik. Tapi ada beberapa hal yang Warsito tidak tulis di koran. Termasuk tentang Peristiwa Mesin Tik.
Iman tersenyum lagi. Dia sekarang dihantui oleh mesin tik cantik ini setiap saat. Bukan untuk digunakan mengetik atau menulis sesuatu. Tapi untuk mewujudkan sesuatu. Ya, sesuatu yang hanya bisa dibayar oleh kecantikan dari mesin tik di depannya ini. Kedua orang tuanya telah dia berikan ke kecoa yang mati kemarin. Sekarang, nyawa siapa lagi yang akan dia berikan ke mesin tik ini? Polisi A? Polisi B? Kerabat A? Pak RT? Atau… Warsito?
Iman tersenyum. Lalu dia tertawa keras, karena dia sudah menemukan jawabannya. Enggak susah.