all my stories

TRAGEDI MALIN KUNDANG, SATU: PENJARA

Posted by: bojonghealth on: November 8, 2011

Kabut tipis. Oh ini mimpi?

Ada makam tua. Banyak nisan yang bentuknya mengerikan. Ada salju? Ini dimana? Pasti bukan di kampung kan? Loh ada Biyai? Biyai.. Biyai!!! Ah tidak!! Biyai!! Jangan gunakan mantranya, Biyai! Jangan!

Eh tapi..

Kenapa Biyai menghilang?

Biyai! Biyai! Buyuang sayang sama Biyai!! Biyai jangan pergi!!

Hah! Siapa kamu?? Mana Biyai? Mana? Temukan Biyai! Cari Biyai! Kemana dia? Tadi ada disini!!

Hei, jangan tarik tanganku! Jangan! Hah kamu siapa? Istri? Aku tidak punya istri! Dia siapa? Anakku? Aku tak punya anak! Sejak kapan? Hei, kenapa kamu menangis??

Hei, jangan pergi dulu!

Ah apa itu? Kapal? Emas? Apa itu? Peta?

Pagi itu Malin terbangun dengan peluh keringat. Dia merasakan sekujur badannya berkeringat. Dan dia menggigil. Dia mendapati dirinya berada di sebuah sel penjara. Dia tidak memakai baju, bajunya entah dimana. Celana panjangnya sobek disana-sini. Dia juga merasakan sakit di punggungnya.

Grooookkk.. grooookkkk..” terdengar dengkuran keras dari samping. Teman satu selnya, Jenderal Bengkok sedang tertidur lelap. Enaknya tidur di kasur. Dia hanya kebagian tidur di bawah, dengan tumpukan jerami dimana-mana, dan tidak pakai baju pula.

Matahari sudah menampakkan sinar gagahnya. Malin bisa melihat dari jendela kecil di atas sana. Hanya itu satu-satunya jendela yang ada. Penerangan lain hanyalah obor yang kadang-kadang dinyalakan oleh penjaga penjara. Itu pun kalau dia sedang menang lotere.

“Grooookkkkk grooookkk grooookkkk…!!” Dengkuran Jenderal Bengkok begitu keras. Dengkuran inilah yang selalu menjadi bahan ejekan penghuni penjara.

“Jenderal, bangun jenderal. Sudah pagi, sebentar lagi kita akan bekerja lagi!” Malin menggoyang-goyangkan bahu Jenderal Bengkok dengan perlahan. Tapi dengkurannya masih juga terdengar. Dari jauh terdengar langkah-langkah kaki yang berat. Penjaga sudah mau datang!

“Jenderal, cepat bangun! Penjaganya datang, cepat! Nanti kita dihukum lagi!” Malin menggoyang-goyangkan tubuh Jenderal Bengkok dengan keras. Tapi sepertinya Jenderal Bengkok tidak mau bangun.

“Jenderal, bangun! Sel sebelah sudah dibuka!!!” Dengan cepat Malin menutup hidung Jenderal Bengkok dengan tangannya. Napas Jenderal Bengkok tidak berjalan lancar, hal ini membuatnya mulai menggeliat. Akhirnya matanya membuka. Melihat Malin membangunkannya dengan panik, Jenderal Bengkok langsung terduduk.

“Mana penjaga? Mana? Mana?”

“Dia akan kemari sebentar lagi.”

Lalu datanglah seorang penjaga penjara. Tubuhnya tinggi besar. Seperti raksasa. Kumisnya begitu lebat menutupi bibir atasnya. Pandangannya selalu terlihat menghina. Dia berbicara dengan bahasa yang Malin tidak mengerti, tapi Jenderal Bengkok mengerti. Jenderal Bengkok bilang, penjaga itu bernama Brutus.

Brutus membuka sel. Dia meneriakkan sesuatu. Dia juga mengacung-acungkan pistolnya pada Jenderal Bengkok dan Malin. Jenderal Bengkok dan Malin keluar dari sel. Mereka masuk ke barisan. Siap bekerja paksa.

Setiap penghuni penjara wajib menggali di sebuah tempat yang menurut Jenderal Bengkok adalah tempat harta karun. Penghuni penjara tempat Malin berjumlah sedikit, hanya sekitar lima puluh orang. Mereka menjadi tahanan dengan berbagai alasan, ada yang masuk akal, ada yang tidak. Jenderal Bengkok pernah memberitahunya kalau rata-rata tahanan adalah penyihir.

Hari ini, Malin kebagian tugas menggali, sedangkan Jenderal Bengkok mengangkat tanah galian. Dibelakangnya berdiri dengan gagah, Mark, anak buah Brutus yang jago memainkan pecutnya pada setiap tahanan yang terlihat lelah atau malas. Mark ini terbilang cukup sadis, dia pernah membuat seorang tahanan mati tercambuk.

Karena Malin masih muda, tenaganya masih kuat untuk bekerja kasar seperti itu, lain hal dengan Jenderal Bengkok. Dia sering dipecut Mark, dan dimaki pula. Tapi Jenderal Bengkok bilang dia sudah kebal dengan pecutan, dia punya ilmu kebal yang membuat dia tidak merasakan pecutan Mark.

Mark berteriak pada Jenderal Bengkok karena jalannya yang agak lamban, lalu dia memecut punggungnya. Malin mempercepat menggalinya. Suara lecutan itu begitu mengerikan. Tapi Jenderal Bengkok tidak pernah mengaduh, ya, dia memang punya ilmu kebal.

Cuaca hari itu cerah. Tapi dengan terus menggali seperti ini, rasanya Malin akan menjadi gila. Apa sebenarnya yang mereka gali? Lima puluh orang pria menggali tanah terus menerus, tapi tidak ada yang didapat. Hanya tanah. Mana harta karunnya. Tidak ada. Bahkan tidak ada tanda-tandanya. Malin mengira, mereka disuruh menggali terus hanya agar para penjaga bisa menyiksa mereka dengan pecutan setiap saat.

Terdengar teriakan dari kejauhan. Bersahut-sahutan. Mark pun ikut berteriak. Malin menoleh memperhatikan Mark. Dia berlari ke arah selatan, tempat Brutus berada. Ada apa disana? Para tahanan yang lain menghentikan pekerjaannya. Mereka dibuat bingung dengan ulah penjaga yang berlarian ke tempat Brutus.

Jenderal Bengkok datang dengan tergopoh-gopoh.

“Nyonyanya datang! Nyonyanya datang!” serunya.

Nyonya? Jenderal Bengkok memegang kedua pundak Malin.

“Nyonyanya datang!”

“Hah? Nyonya?? Nyonya siapa?”

“Nyonya pemilik penjara ini datang!!”

Jenderal Bengkok menunjuk ke sebuah titik ke selatan. Lama-lama titik itu menjadi besar dan berbentuk manusia. Seorang perempuan! Gaunnya begitu mengembang, dia memakai topi dan payung.

“Nyonya sangat cantik! Dia memilih seorang yang akan dia bebaskan untuk menjadi budaknya! Bersihkan wajahmu dengan bajuku, mungkin saja dia akan tertarik dengan ketampananmu, Malin!”

Malin menurut. Dia menarik baju Jenderal Bengkok, lalu mengusap-usap ke mukanya. Baju Jenderal Bengkok menjadi belepotan tanah.

“Sebentar lagi kita akan disuruh berbaris agar sang nyonya bisa memilih siapa yang jadi budaknya. Ingat Malin, ini pertemuan pertamamu dengan dia, kamu harus buat dia menjadi tuanmu. Walau kamu menjadi budak, paling tidak kamu bisa bebas dari penjara ini.” cerocos Jenderal Bengkok.

Malin mengangguk bersemangat. Dia baru kali ini melihat perempuan setelah enam bulan dalam penjara.

Mark datang berlari-lari ke arah mereka. Dia meneriakkan sesuatu. Dalam sekejap para tahanan berbaris. Wajah kelelahan mereka memberikan sedikit sisa harapan.

Brutus meneriakkan kalimat yang panjang. Dia mengacung-acungkan pistolnya. Setelah Brutus selesai, gantian Mark yang mengacung-acungkan pancungnya.

Dan sang Nyonya pun tiba. Ya, dia sangat cantik. Tapi Malin menangkap sikapnya yang dingin. Semua mata tahanan menatapnya penuh harap. Berharap merekalah yang dijadikan budak, agar bebas dari penjara.

Mata dingin sang Nyonya menyapu barisan tahanan. Matanya melewati Malin. Malin menelan ludah.

Sang Nyonya membisikkan sesuatu pada Brutus. Lalu Brutus masuk ke barisan, dan mencengkeram leher baju seorang tahanan.

“Wah, beruntung si india itu!” bisik Jenderal Bengkok. Malin mengikuti gerak Brutus. Ketika tahanan itu sudah berada di depan Nyonya, dia menatap dari atas ke bawah, memutari tahanan itu dan membisikkan sesuatu lagi kepada Brutus.

Brutus berteriak keras. Lalu terpancar raut kelegaan di wajah tahanan tersebut. Malin mendesah. Harapannya hilang sudah.

Mark kembali berteriak dan kali ini barisan tahanan mulai bubar. Jenderal Bengkok menyenggol Malin sambil menyeringai. “Tampaknya kamu akan masih disini setahun lagi, Malin! Hehehe.”

Malin menelan ludah, dia melihat sang Nyonya pergi menjauh.

Tidak, tidak boleh! Dia harus ikut! Harus! Tunggu nyonya! Bawa saya saja!

Tiba-tiba Malin berlari ke arah sang Nyonya. Mark yang kaget dengan gerakan Malin, sempat melayangkan pecutnya ke arah Malin, tapi terlambat, Malin sudah terlalu cepat berlari. Mark berteriak-teriak.

Brutus yang mengawal sang Nyonya dan tahanan menoleh ke belakang. Dia melihat Malin berlari ke arahnya. Lalu dia mendengar teriakan Mark. Dengan cepat dia mengambil pistolnya, membidiknya, tapi Malin terlalu cepat. Tangan Malin meraih tangan sang Nyonya yang masih memegang payung.

“Nyonya! I..ijinkan saya yang menjadi budak. Ijinkan saya saja!!” teriak Malin.

Sang Nyonya sangat terkejut. Matanya terbelalak. Payung yang dipegangnya terjatuh.

Brutus menyodorkan moncong pistolnya ke kepala Malin. Sang nyonya terdiam sesaat. Brutus berteriak.

“Tolonglah saya, nyonya! Ijinkan saya yang jadi budak! Tolonglah saya! Saya ingin keluar dari penjara ini!!!”

Tangan Malin masih memegang tangan sang Nyonya. Sang Nyonya mulai menguasai dirinya. Brutus kembali berteriak. Sang Nyonya mengatakan sesuatu padanya, Brutus menarik moncong pistolnya dari kepala Malin dengan menggerutu.

Sang Nyonya memperhatikan Malin dari atas kebawah, lalu dia mengangguk. Dia berbicara lagi pada Malin, mengambil payungnya lalu kembali berjalan.

Malin tidak mengerti, tapi dari isyaratnya, nampaknya sang Nyonya menyuruhnya untuk mengikutinya. Brutus memelototinya. Pandangannya penuh dengan pandangan jijik pada Malin. Tapi Malin tidak peduli, dia tetap mengikuti sang Nyonya dengan hati yang lega.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

traveller

  • 890 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1 other follower

all my stories

this is my stories that comes out from my odd brain to my finger. read it. imagine it. enjoy it.

serial pertama: segitiga episode 1 http://icadicad.wordpress.com/2008/03/05/segitiga-1/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.