all my stories

TRAGEDI MALIN KUNDANG, DUA: LADY ANNE CAROLINA

Posted by: bojonghealth on: December 23, 2011

Pagi itu setelah ritual sarapan yang membosankan, Lady Anne dijadwalkan untuk membalas surat-surat yang masuk sejak kemarin pagi. Sekertarisnya Roberto, berdiri dengan sigap disampingnya segera setelah dia duduk.

Ada sekitar dua puluhan surat dan semuanya sudah distempel oleh suaminya, Lord Frederick. Kalau semuanya sudah distempel begini, kenapa bukan dia saja yang membalas semua surat-surat ini, keluh Lady Anne.

“Hanya ada dua puluh surat sampai pagi ini, my Lady. Akhir-akhir ini House of Orange-Nassau mengatur ulang semua surat yang masuk ke House of Butterfly ini. Mungkin untuk mengurangi pengaruh Lord Frederick yang terlalu dominan di sektor perdagangan akhir-akhir ini.” cerocos Roberto.

“Bisakah kamu saja yang membalas semua suratnya Roberto. Rasanya daging yang entah apa tadi kumakan membuat perutku sedikit aneh.” Lady Anne menggeser tumpukan surat itu ke arah Roberto berdiri.

“Tapi, my Lady, maaf sekali. Sudah dua minggu ini Anda mengeluh terus tentang pekerjaan Anda. Lord Frederick berpesan pada saya agar Anda sendiri yang menulis balasan kepada mereka. Surat-surat ini adalah hasil sortiran beliau, jadi saya rasa Anda harus benar-benar menulis balasannya, my Lady.” Roberto meletakkan kembali tumpukan surat itu ke hadapan Lady Anne.

 

Lady Anne mendengus. Dia mendengar dari salah seorang pelayan setianya, Sophie, Roberto dimarahi habis-habisan oleh Lord Frederick karena sudah dua minggu dia yang membalas semua surat yang dikirim ke House of Butterfly untuknya. Dia sudah bosan membalas surat-surat. Paling-paling isinya hanya ajakan minum teh, pelesir, pergi berkemah, pesta, atau pemberian donasi. Tidak ada yang penting. Semua itu kan bisa dilakukan sekertaris, itulah gunanya Roberto, bukan?

“Bagaimana kalau dilewatkan saja? Aku bisa membalasnya besok.”

“Maaf my Lady. Hal itu sangat tidak dianjurkan. Anda sudah menundanya kemarin, sekarang adalah saat yang tepat. Besok Anda dijadwalkan untuk menghadiri acara Lady Beatrix. Dan Anda sudah menyetujuinya bulan lalu.”

“Baik.. baik… Aku akan membalas semua surat ini…”

Surat pertama dibuka dengan agak kasar. Isinya singkat sekali. Pemberitahuan tentang donasi ke pesisir India. Surat itu dibalas dengan singkat pula. Roberto bilang terlalu singkat, malah. Tapi Lady Anne tidak peduli. Begitu juga surat kedua sampai kesepuluh. Semuanya memberitahukan tentang donasi. Ajakan dari Lady anu, Princess anu, Lord anu untuk membantu India, membantu penelitian profesor anu, membiayai ilmu di universitas anu.

Lady Anne memilah-milah surat kesebelas sampai kedua puluh. Pengirimnya rata-rata adalah orang-orang yang suka berpesta. Pasti akan ada banyak pesta dalam dua minggu ke depan. Tapi tunggu, ada dua surat dari Brick House. Pengirimnya, Lady Juliana, kakak tiri Lady Anne.

Lady Juliana adalah satu-satunya saudara satu ayah yang menikah dengan seorang ilmuwan. Usia Lady Anne dan Lady Juliana terpaut sangat jauh, sepuluh tahun. Sewaktu Lady Anne masih asyik dengan boneka-bonekanya, Lady Juliana sudah menikah. Dia menentang perjodohannya dengan seorang viscount dari Prusia. Dia lebih memilih ilmuwan yang pernah menjadi gurunya. Saat itu ayah mereka marah besar dan memutus semua warisan dan kekayaan keluarga untuk Lady Juliana. Lady Juliana berbalik tidak mau menegur ayahnya sejak itu.

Hanya sekali atau dua kali Lady Juliana mengirim surat kepada Lady Anne. Karena mungkin hanya Lady Anne saja yang tidak mewarisi sifat keras kepala ayah mereka. Dua saudara laki-lakinya memang terkenal keras kepala seperti ayahnya.

Sebenarnya Lady Juliana adalah kakak yang menyenangkan. Dia senang memberi hadiah pada Lady Anne sejak sebelum menikah. Untuk membalas semua itu, Lady Anne atas persetujuan Lord Frederick memberi Lady Juliana sebuah rumah yang bentuknya seperti balok-balok kayu dari kejauhan yang bernama Brick House. Rumah itu cukup luas untuk digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat untuk laboratorium suami Lady Juliana.

Sudah dua tahun Lady Juliana tidak pernah mengirim surat. Sekarang dia mengirimnya dua kali. Lady Juliana sangat jarang menulis surat, dia lebih sering memberi hadiah. Kalau sampai ada dua surat dalam waktu dua hari, ini berarti isinya sangat penting. Dan Lord Frederick pasti sudah membacanya, pikir Lady Anne.

“Apa Lord Frederick membaca surat dari kakakku juga, Roberto?”

“Ya, my Lady. Dia sudah membaca semua suratnya dan memberi stempel.”

“Dia sendiri yang membacanya? Sejak kapan?”

“Sejak kemarin, my Lady.”

Lady Anne mendengus. Suaminya tidak memberitahunya soal surat dari kakaknya ini. Menyebalkan.

Lady Anne membuka kedua surat dari kakaknya dengan hati-hati.

Inilah isi surat yang pertama dari Lady Juliana:

“Dear Lady Anne, adikku yang manis.

Aku sangat berharap kamu baik-baik selalu di House of Butterfly. Aku dan suamiku sangat berterimakasih padamu karena diberikan rumah yang begitu luas dan indah. Taman belakang kami percantik dengan rumpun bunga tulip, kamu harus melihatnya ketika mereka bermekaran bulan depan. Suamiku sudah menemukan formula agar bunga-bunga itu bermekaran dengan lebih cepat sehingga bisa lebih mempercantik taman kami.

Maaf kalau aku tidak bisa memberimu hadiah saat ini, karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Aku ingin memberitahumu satu hal. Hal yang sangat sulit kalau hanya ditulis saja. Apakah dalam minggu depan kita bisa bertemu di Brick House? Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan dan kutawarkan. Mungkin kamu akan tertarik. Semoga. Tapi hal ini memang harus dibicarakan dulu denganmu. Nanti keputusannya boleh kamu rundingkan dahulu dengan Lord Frederick.

Aku sangat mengharapkan kedatanganmu, adikku yang manis. Terimakasih telah meluangkan waktumu membaca surat ini.

Kakakmu tercinta,

Lady Juliana

Brick House”

Jarang sekali Lady Juliana mengundang seseorang ke Brick House. Apakah ada masalah? Keuangan mungkin? Lady Anne langsung membuka surat yang kedua. Isinya seperti ini:

“Dear Lady Anne, adikku yang manis,

Maafkan aku kalau sampai menulis dua surat yang terpisah seperti ini. Aku sangat terburu-buru saat menulis surat yang pertama. Ketika suratnya telah dikirim, aku lupa menjelaskan maksud untuk mengundangmu ke Brick House.

John sangat ingin membuat sebuah penelitian tentang pengobatan sebuah penyakit menular. Penyakit ini ditularkan oleh bulu binatang. Kami ingin agar kamu dan Lord Frederick membantu penelitian John agar dia bisa membantu lebih banyak orang yang terjangkit agar cepat sembuh. Kami hanya perlu dana sedikit lagi. Kami sangat mengharapkan bantuanmu, adikku yang manis.

Atas segala bantuan dan kepercayaanmu, aku sangat berterimakasih. Semoga Tuhan selalu menjagamu, adikku.

Kakakmu tercinta,

Lady Juliana

Brick House”

Lady Anne berpikir, mengapa sampai kakaknya membuat dua buah surat secara terpisah. Lady Juliana bukanlah orang yang tidak teliti, dia pasti memikirkan masak-masak tentang hal ini sampai dia harus membuat dua surat secara terpisah. Apa dia tahu kalau Lord Frederick akan membaca suratnya yang pertama, sehingga dia harus membuat surat kedua? Untuk apa? Rasanya baru kali ini kakaknya meminta donasi. John, ilmuwan yang suami Lady Juliana adalah ilmuwan yang sangat terkenal, tidak membutuhkan donasi, karena penelitiannya dibiayai kerajaan. Pasti ada hal yang lain selain hanya meminjam uang.

Lady Anne mencium sesuatu yang aneh. Lady Juliana mengirimnya dua surat. Terpisah. Suaminya sudah membaca dua buah surat itu. Dan mustahil soal peminjaman dana penelitian. Jadi untuk apa?

“Roberto, apa balasan semua surat akan dibaca oleh Lord Frederick?”

“Ya, my Lady. Lord Frederick tidak mau melewatkan sebuah informasi yang akan menambah rusak citranya di depan House of Orange-Nassau.”

“Huh, aku tak peduli soal politik atau perdagangan, dia memang suka cari perhatian!”

Lady Anne menulis balasan kepada kakaknya. Kalimatnya juga singkat. Dia akan datang minggu depan ke Brick House. Sisa surat tidak dia baca, tapi dia langsung menulis balasannya. Roberto hanya mengangkat alis melihat gelagatnya.

“Nah, semua surat sudah kubalas. Apalagi agendaku hari ini?”

Roberto melihat catatannya. “Hari ini Anda harus datang ke pertemuan Viscount Bernhard di Gedung Pertemuan Balai Kota.”

 

“Apa aku harus datang?”

 

“Ya, my Lady.”

 

“Apa tidak bisa suamiku saja yang datang? Dia lebih mengerti soal politik.”

 

“Maaf my Lady. Lord Frederick sudah penuh agendanya hingga bulan depan. Dia menganggap Anda bisa mewakilinya dengan baik.”

 

Lady Anne mencibir. Kemarin dia juga mendengar selentingan dari teman-temannya kalau Lord Frederick bermain mata dengan seorang janda kaya dari Prancis. Mereka tampaknya sering melewati waktu bersama.

 

“Paling-paling dia berpelesir dengan madam yang cantik itu, kan?”

 

“Saya rasa tidak, my Lady.”

 

“Hah, pasti kamu tahu. Kupingmu kan lebar Roberto!”

 

Roberto menyentuh telinganya. “Saya rasa tidak juga, my Lady. Dari Henry saya melihat jadwal Lord Frederick memang sangat penuh. Itu hanya gosip saja, mungkin?”

 

“Itu nyata. Teman-temanku melihatnya. Janda itu sangat cantik, keturunan Duke dari Prancis. Untungnya tidak lebih kaya dariku. Apa sebenarnya yang dia cari, menyebalkan!”

 

Roberto mengangkat bahu. Lady Anne sedang marah. Akhir-akhir ini dia gampang tersinggung. Karena isu janda Prancis itu dan karena dia baru saja keguguran bulan lalu. Usianya memang masih muda, dua puluh tahun, tapi Lord Frederick sudah tiga puluhan. Jarak yang terlalu jauh, membuat komunikasi keduanya sering bentrok. Roberto sering menyaksikan suami istri itu bertengkar. Lord Frederick sendiri sering berpelesir dengan banyak wanita. Dan kali ini dengan janda kaya dari Prancis. Sekedar untuk bersenang-senang.

 

“Sebaiknya kita bergegas ke Gedung Pertemuan, my Lady.”

 

Dengan mendesah Lady Anne bangkit dari duduknya dan menuju pintu. Roberto membukakannya pintu.

 

“Sebaiknya aku juga punya selingkuhan. Bagaimana kalau Henry? Suamiku pasti akan langsung memecatnya, dan mencari sekertaris perempuan. Ah tidak, bagaimana dengan kamu saja, Roberto?”

 

Roberto terbelalak. Hal ini sering sekali diutarakan. Dan Roberto tidak pernah menggubrisnya. Walau menurutnya Lady Anne sangat menarik, dia tetap hanyalah seorang sekertaris. Tidak boleh lebih.

 

“Eee… sebaiknya kita bergegas my Lady. Saya akan siapkan kendaraan Anda.”

 

Lady Anne mendengus dan berlalu. Hal ini membuat Roberto lega.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

traveller

  • 889 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1 other follower

all my stories

this is my stories that comes out from my odd brain to my finger. read it. imagine it. enjoy it.

serial pertama: segitiga episode 1 http://icadicad.wordpress.com/2008/03/05/segitiga-1/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.