Posted by: bojonghealth on: January 16, 2009
Wajahnya biasa saja. Tidak cantik. Tapi juga tidak terlalu jelek. Yah, standarlah untuk ukuran seorang cewek. Pakaiannya biasa saja, paling-paling kemeja dan jeans. Rambutnya pendek, dipotong bob. Dandanannya juga biasa saja, hanya sedikit bedak dan pulasan lipstik. Ah, pokoknya biasa banget deh. Lalu kenapa setiap kali aku ngamen di bus, aku selalu mengharapkan melihat sosoknya ya? Buat apa? Toh dia juga enggak cantik-cantik amat. Lagipula setiap kali aku melihat dia, pandangan matanya selalu keluar, tidak pernah memperhatikan aksiku ngamen, apalagi kasih recehan sebagai imbalan ngamenku. Aaarrrghhh! Jangan-jangan karena kebiasaan saja melihat dia, jadinya lama-lama punya perasaan ‘harus’ melihat dia nih. Dia kan bukan siapa-siapa, hanya orang yang kebetulan selalu naik bus tempatku ngamen setiap hari. Dia bukan siapa-siapa. Kenapa aku selalu berharap bertemu atau melihat wajahnya setiap hari? Bayangkan setiap hari? Apa ini kangen? Atau cuma obsesi?
Wah sudah sore! Ngamen lagi ah! Yup! Jreng! Gitar kumainkan. Aku mulai bernyanyi, seperti biasa lagu-lagu Indonesia yang sedang hits, misalnya lagu Glen Fredly yang judulnya kecewa sampai lagu anak band semacam Nidji yang judulnya Laskar Pelangi. Apa saja sebisaku, tapi aku hanya bisa menyanyi lagu-lagu Indonesia saja, aku tidak bisa lagu berbahasa Inggris, karena bahasa Inggrisku sangat buruk. Bisa-bisa malah ditertawakan.
Posted by: bojonghealth on: December 9, 2008
“P..paaakk??”
Dengan langkah hati-hati, Faiz menghampiriku yang masih terpana. Kok Faiz datang kesini? Katanya di telepon tadi, dia tidak bisa datang selama dua hari?? Aku menatap mata ibu, tatapan yang penuh dengan pertanyaan. Lagi-lagi ibu mengangkat bahu, dengan gerakan bibir, ibu memberitahu kalau Faiz tiba-tiba datang dan memaksa masuk.
“Kamu ngapain disini?” tanya Faiz dengan berbisik.
“A..aaku.. emm..” Aku memandang tubuh Ariel yang tiba-tiba seperti mayat saja. Aku menarik tanganku dari tubuhnya.
“Kenapa kamu terus mengguncang-guncangkan badannya?”
“Em.. tadi itu.. aku.. e..”
“Hei! Kamu masuk ke kamarnya, tanpa memberitahu aku dulu? Ceroboh sekali!”
“..Ha?”
“Ceroboh! Kamu bodoh! Bagaimana kalau dia menyiksamu lagi dalam mimpi? Dikejar bola api panas lagi? Sekarang kamu sudah bisa berjalan kan… Kalau sampai lumpuh lagi, apa yang bisa kamu lakukan? Kamu benar-benar…”
“CUKUP PAK!”